
Juano yang mendengar perkataan Elis langsung tersenyum.
“Kamu harus mengganti itu semua. Mobil, apartemen dan juga barang-barang branded yang kamu minta. Ingat! Yang kamu minta!” Juano berkata penuh dengan penekanan, pasalnya barang-barang mewah yang selalu dirinya berikan kepada Elis bukan atas kemauan dirinya melainkan Elis yang memintanya.
Dan suami Elis yang mendengar perkataan Elis langsung mendorong tubuh Juano.
“Dasar pria perhitungan,”
“Jelas saja. Lebih baik aku memberikan itu semua pada orang yang kurang mampu dari pada harus memberikan pada istrimu yang haus akan harta,”
“Kurang ajar,”
“Pukul saja, kenapa berhenti,” tantang Juano saat suami Elis menahan tangannya ketika akan memukul Juano. “Aku yakin kamu bisa menggantinya. Aku tahu kamu bukan orang sembarangan. Hanya saja kamu memilih istri dengan sembarangan,” ujar Juano dengan tersenyum sinis kemudian meraih tangan Maria lalu menggenggamnya dan turun dari panggung pelaminan.
“Kamu tega sekali, mereka baru saja menikah, sudah kamu siram bensin,”
“Dan entah mengapa aku merasa bahagia hari ini,” sambung Juano dengan tersenyum senang.
Dan Juano yang sudah menuju meja perjamuan, langsung menarik kursi dan mempersilakan Maria untuk duduk.
“Kita duduk di sini saja. Aku ingin melihat pertunjukan di atas sana,” ujar Juano sambil menunjuk Elis dan juga suaminya yang sedang terlibat perdebatan.
“Ish kamu jahat sekali,”
“Sekali kali dan aku suka ini. Karena aku sedang bahagia, kamu ingin makan apa biar aku ambilkan untukmu,”
__ADS_1
“Semuanya yang enak,”
“Oke sayang,” ucap Juano dan tatapan Maria langsung tertuju ke arah Juano. “Jangan G R, makanan sisa yang dibuang juga di bilang Sayang,”
“Kampret, dasar loyo,” ucap kesal Maria tapi tidak dihiraukan oleh Juano yang langsung pergi meninggalkannya.
Maria yang menunggu Juano lama, akhirnya berdiri dari duduknya saat melihat stand cake tidak jauh dari tempatnya. Dan Maria langsung mengambil beberapa cake ke sukaannya di piring yang sudah ada di tangannya.
Ketika Maria akan kembali ke mejanya langsung terkejut saat ada seseorang yang tiba-tiba menutupi punggungnya yang memang terbuka dengan jas.
“Apa kamu tidak kedinginan mengenakan gaun yang terbuka?” tanya seseorang dari belakang Maria.
Dan Maria yang tidak asing dengan suara tersebut langsung membalik tubuhnya. Dan jantung Maria berdetak tidak beraturan saat melihat siapa orang tersebut, yang sedang tersenyum manis ke arahnya, seseorang yang sempat dirinya lihat sebelum masuk ke gedung tersebut.
“Tuan Oza. Apa aku tidak salah lihat?”
“Iya Tuan, maaf,”
“Ada apa?”
“Tidak Tuan, Tuan kenapa ada di sini? Dan kapan Tuan datang ke Indonesia?”
“Kalau bertanya satu-satu kenapa. Kamu tidak berubah ya, tetap saja kalau bertanya seperti kereta api,”
“He he maaf Tuan,”
__ADS_1
“Harusnya aku yang bertanya sedang apa kamu disini,”
“Jelas saja menghadiri acara resepsi ini, Tuan kira aku hanya ingin menumpang makan,”
“Kamu tetap lucu, dan tidak berubah meskipun kita jarang bertemu, dan ini yang aku suka dirimu Maria,”
Maria yang mendengar perkataan Oza langsung tersipu malu.
“Oh iya Maria, kamu datang dengan siapa?”
“Dia datang denganku,” sambung Juano yang tiba-tiba datang menghampiri keduanya.
Juano yang melihat ada jas yang berada di bahu Maria langsung mengambil jas tersebut, dan mengembalikannya pada Oza, saat dirinya yakin jas tersebut milik Oza.
“Biarkan saja Maria mengenakan ini. Aku tidak ingin dia kedinginan, dengan pakaian yang sedikit terbuka yang melekat di tubuhnya,”
“Kalau dia kedinginan, ada aku kekasihnya yang siap memeluknya. Iya kan sayang?” tanya Juano sambil memeluk pinggang Maria.
Maria yang di peluk Juano, coba melepas pelukannya, tapi semakin Maria coba melepas pelukannya, semakin erat juga Juano memeluknya.
“Maria apa dia benar–
“Benar aku kekasihnya. Dan maaf kami permisi dulu,” sambung Juano memotong perkataan Oza lalu pergi meninggalkan Oza sambil terus memeluk pinggang Maria dengan erat.
Oza langsung menautkan kedua alisnya, saat dirinya tidak menyangka jika Maria sudah memiliki kekasih.
__ADS_1
“Apa aku datang terlambat Maria?” gumam Oza dalam hati sambil menatap kepergian Maria.
Bersambung....................