Terpaksa Menikahi Asisten

Terpaksa Menikahi Asisten
118 Pacaran


__ADS_3

“Iya kita cari ke taman kota,” ujar Mario sambil nyengir kemudian menyuruh Lery naik ke dalam mobil.


 


Lery terus menggerutu saat sudah berada di dalam mobil, saat Mario melajukan mobilnya menuju ke taman kota mencari cilok keinginan istrinya.


 


“Sudah sayang, maaf tadi aku memang sengaja tidak membelikanmu,”


 


“Tuh kan Mario!”


 


“Tapi aku punya alasan sayang, masa setiap hati kamu selalu ingin jajanan pinggir jalan, aku tidak ingin anak kita cacingan,”


 


“Mario!”


 


Teriak Lery sambil memukul lengan Mario. Dan Maria yang duduk di kursi belakang hanya bisa tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.


 


“Bagaimana rumah tanggaku dengan Ano nanti setelah aku menikah, saat aku menikah dengannya karena kasihan. Maafkan aku Tuhan sudah mengambil jalan ini,” gumam Maria mengingat kembali dirinya mau menikah karena kasihan melihat Juano yang pingsan tidak berdaya. Lalu Maria mengerutkan dahinya menatap Mario dan juga Lery yang masih berdebat di bangku depan.


 


“Mereka juga menikah awalnya hanya pura-pura, tapi sekarang... Apa mungkin aku dan Ano suatu saat nanti... Ah tidak mungkin dia loyo,” gumam Maria lagi sambil menggelengkan kepalanya.


 


“Maria,”


 


Panggil Mario saat sudah selesai berdebat dengan Lery.


 


“Apa?”


 


“Tadi W.O menghubungiku, apa kamu tidak salah ingin mengadakan resepsi di taman Safari?”


 


“Tidak, aku menginginkan resepsi di sana, pasti Ano akan mengabulkannya,”


 


“Aku rasa tidak. Kamu tahu tamu undangan dari pihak Ano bukan orang biasa,”

__ADS_1


 


“Nah justru itu, bukan orang biasa kan? Mereka sudah biasa dengan pesta di gedung mewah. Dan aku ingin mengajak mereka berpetualang, agar hidupnya berwarna,”


 


“Bukan berwarna tapi pulang tidak bernyawa di serang harimau dan kawan kawannya dasar bocil,”


 


“Memangnya aku akan mengadakan resepsi di kandang macan,”


 


“Terserah padamu bocil ngeyel,”


 


Mario berkata sambil menggelengkan kepalanya, tidak percaya pada kemauan sang adik yang begitu aneh.


 


*


 


*


 


*


 


 


Mario dan juga Lery turun dari mobil, tapi tidak dengan Maria yang enggan turun dari mobil dan memilih untuk tetap berada di dalam mobil.


 


Mario dan juga Lery berjalan dengan bergandengan tangan layaknya sepasang kekasih yang sedang pacaran, apalagi saat Lery menyadarkan kepalanya di bahu Mario.


 


“Tuh kan sudah tidak ada yang jualan cilok, kamu itu kalau di kasih tahu tidak percaya,”


 


“Iya juga yah, tapi aku suka begini, kita mengelilingi taman ya,” pinta Lery seperti remaja yang sedang kasmaran. Begitu pun dengan Mario yang langsung mengiyakan permintaan Lery, kemudian memeluk bahu Lery dan membawanya ke dalam pelukannya.


 


“Apa ini yang di namakan pacaran?” tanya Lery dan pandangannya menatap ke seluruh penjuru sudut taman kota yang penuh dengan pasangan muda mudi, karena kebetulan malam ini adalah malam minggu.


 


“Mungkin, aku juga tidak pernah pergi ke taman kota seperti ini,” sambung Mario dan menghentikan langkahnya.

__ADS_1


 


“Kenapa berhenti?”


 


“Hanya ingin menatapmu dan...” Mario menghentikan perkataannya kemudian mencium bibir Lery begitu pun dengan Lery yang balas mencium bibir sang suami.


 


“Mas, mbak eling (ingat), ini tempat umum,” ujar seseorang yang berjalan melewatinya, kemudian Mario dan juga Lery sama-sama melepas tautan bibirnya.


 


“Maaf Pak,”


 


Mario berkata pada bapak yang menegur keduanya lalu pergi dari tempatnya berada menuju tempat yang terlihat sepi.


 


“Sayang kita teruskan saja di sini, aku belum puas,” pinta Mario.


 


“Dasar me sum,” Lery berkata sambil mendorong wajah sang suami yang ingin menciumnya kembali.


 


“Tapi suka kan?”


 


“Tentu,”


 


“Lagi?”


 


Lery tidak menjawab pertanyaan Mario saat pandangannya tertuju pada sebuah gerobak pedagang cilok keliling.


 


“Mario lihat ada cilok,” ucap antusias Lery sambil menarik tangan Mario.


 


Tapi langkah Lery terhenti tiba-tiba saat menyadari ada seseorang yang sangat dirinya kenal juga ada di sana.


 


“Sayang, ada apa?”


 

__ADS_1


 


__ADS_2