Terpaksa Menikahi Asisten

Terpaksa Menikahi Asisten
130 Sah


__ADS_3

Mario yang berjalan tepat di belakang keduanya memukul kepala Juano menggunakan peci hitam yang sedari tadi terpasang di kepalanya.


“Belalai pede amat, aku rasa cuma sebesar jari kelingkingku, tadi apa menyemburkan air? Berdiri saja cuma bisa satu menit mana bisa menyembur,” ucap Mario di akhiri dengan gelak tawa.


“Hey kakak ipar, jangan salah, terong milikku grade A tentu lebih besar dan panjang dan pasti santannya lebih kental, gurih dan juga berkualitas, di banding dengan lobak impor milikimu kakak ipar, apa kakak ipar perlu bukti? Oke nanti malam aku akan live streaming,”


“Sialan,”  ujar Mario dan mendorong bahu Juano.


Semua tamu undangan tidak ada yang berbicara lagi, saat pak penghulu sedang membaca doa sebelum ijab kabul akan di mulai.


“SAYA TERIMA NIKAH DAN KAWINNYA MARIA ATMAJA BINTI MARTIN ATMAJA DENGAN MAS KAWIN SELURUH ASET KEKAYAAN YANG SAYA MILIKI, BERUPA HOTEL, PERUSAHAAN, VILLA, RUMAH, APARTEMEN, TANAH, MOBIL, DEPOSITO, DENGAN TOTAL KESELURUHAN SENILAI TUJUH PULUH SEMBILAN TRILIYUN DI BAYAR TUNAI,” Juano dengan lantangnya mengucapkan ijab kabul.


“Sah,” ucap penghulu yang langsung di sahkan oleh tamu undangan tapi tidak dengan Mario yang duduk tepat di samping penghulu, yang masih melongo sambil menatap Juano tidak percaya.


Setelah acara ijab kabul selesai, Mario menghampiri Juano, dan masih tidak percaya dengan mas kawin yang di berikan kepada sang adik.


“Ano, apa kamu sudah gila,”


“Kakak ipar, kalau aku sudah gila, tentu saja aku tidak akan berdiri di sini. Kenapa kakak ipar mengatakan itu padaku?”


“Kenapa kamu memberikan semua aset kekayaanmu pada Maria?”

__ADS_1


“Karena aku mencintainya, bagiku kekayaan tidaklah penting, yang terpenting adalah Maria istriku,”


“Tapi bukan begitu caranya mencintai seseorang, apa kamu tidak takut suatu saat Maria tiba-tiba meninggalkanmu?”


“Untuk apa takut, karena kita pasti akan berpisah, tapi tidak untuk saling meninggalkan, karena aku percaya Maria akan selalu berada di sisiku apa pun yang terjadi. Dan kita akan terpisah jika maut yang memisahkan kita, itu pun aku juga tidak akan takut. Karena aku akan selalu berdoa pada Tuhan, jika kita terpisah oleh maut, aku terlebih dahulu yang akan di panggil Tuhan,”


Mendengar perkataan Juano, Mario langsung memeluk erat tubuh Juano.


“Aku lega dan aku tidak salah mengizinkan Maria menikah denganmu, dan sepenuhnya aku melimpahkan tangung jawab Maria kepadamu,”


“Kakak ipar tenang saja, aku akan selalu menjadi kepala keluarga yang baik dan bertanggung jawab penuh atas Maria,”


“Terima kasih Ano, aku selalu berdoa untuk kebahagiaan kalian,”


Tidak terasa bulir air mata jatuh membasahi pipi Maria yang sedang duduk di kursi pelaminan, setelah mendengar percakapan dua pria yang ada di sampingnya.


“Adik tersayang kenapa kamu menangis?” tanya Mario sambil berjongkok di hadapan Maria, lalu meraup wajah sang adik dan menghapus air matanya.


“Kakak,” Maria menghambur memeluk Mario dan tangisnya semakin menjadi.


Setelah membiarkan Maria menangis hingga puas, kemudian Mario melepas pelukannya lalu meraup wajah Maria kembali.

__ADS_1


“Apa yang sedang kamu tangisi? Kamu sudah menjadi seorang istri sekarang, dan kamu beruntung memiliki suami seperti Ano, yang sangat mencintaimu dan menjadikan kamu prioritasnya. Kamu harus bangga Maria, berhentilah menangis, jangan sampai orang tua kita ikut bersedih melihat kamu menangis di hari bahagiamu ini,” ujar Mario dan tangannya meraih tangan Juano dan menyatukan dengan tangan Maria.


“Banyak sekali rintangan yang akan kalian lalui ke depannya, aku berharap kalian saling melengkapi, dengan kekurangan dan kelebihan masing-masing, tetaplah percaya satu dengan yang lain, hadapi masalah dengan kepala dingin dan tetap jaga komunikasi,” nasehat Mario diakhiri memeluk keduanya bersamaan.


Selepas kepergian Mario, Juano memegang kedua bahu Maria untuk menghadap ke arahnya.


“Kenapa kamu masih menangis? Apa salahku?”


“Bukan kamu yang salah tapi aku,” jawab Maria sambil menghapus air matanya.


 “Ko bisa,”


“Karena sekarang aku jadi tajir melimpir, dan maaf bila suatu hari aku akan melemparmu ke jalanan,”


Maria berkata sambil tersenyum ke arah. Juano.


“Lempar saja aku tidak peduli,” sambung Juano sambil memeluk Maria lalu mencium bibirnya, dan Maria pun langsung membalas ciuman Juano membuat Juano tidak ingin melepas ciumannya. Dan keduanya yang Larut dalam ciuman tidak menyadari jika ada seseorang yang sedang menatapnya.


 


 

__ADS_1


Bersambung................


__ADS_2