
Mario memukul setir mobilnya dengan kencang, ketika dirinya tidak menemukan Adel di rumahnya dan juga di apartemen milik Adel.
“Kemana kau Adel sialan! Awas saja kalau aku menemukanmu, aku tidak akan segan-segan berbuat kasar padamu,” kesal Mario sambil mengencangkan rahangnya saat emosinya sudah membucah. Kemudian Mario melajukan mobilnya kembali, dan tujuannya sekarang hanya satu apartemen miliknya, saat firasatnya Adel membawa Merin ke sana.
*
*
*
Mario memarkirkan mobilnya di parkiran khusus saat sudah sampai apartemennya, yang sudah lama tidak pernah dirinya kunjungi, kemudian Mario menaiki lift menuju unit apartemennya.
Mata Mario langsung tertuju pada sofa ruang tamunya yang sedang diduduki oleh Adel yang sedang mengukir senyum dari kedua sudut bibirnya ke arah Mario, saat Mario baru masuk ke dalam apartemennya.
“Selamat datang Mario sayang,” Adel berkata sambil beranjak dari duduknya dan berjalan mendekat ke arah Mario. “Aku tahu, pasti kamu sudah datang ke rumah dan juga apartemen milikku, dan ini tujuan akhirmu, apartemen dimana kita sering memadu kasih hingga Merin lahir di antara kita, dan aku yakin kamu pasti masih mengingatnya bukan?”
“Jangan banyak bicara. Di mana Merin?” tanya Mario dengan kesal sambil menyingkirkan tubuh Adel yang sudah berada tepat di hadapannya. Kemudian Mario menuju kamarnya di ikuti oleh Adel dari belakang. Dan Mario bisa bernafas lega, saat melihat Merin sedang tertidur pulas di atas tempat tidurnya.
“Biarkan dia tidur sayang,” Adel berkata sambil memeluk tubuh Mario dari belakang. Dan Mario langsung melepas pelukan Adel dan membalik tubuhnya.
“Kenapa harus memeluk dari belakang. Kalau kamu bisa memelukku dari depan, peluklah aku Adel,” ujar Mario sambil merentangkan tangannya ke arah Adel.
Dan Adel pun langsung tersenyum senang.
__ADS_1
“Benarkah, apa kamu sudah berubah pikiran, dan ingin kembali padaku? Dan aku yakin iya. Karena aku tahu kamu hanya milikku Mario.
“Iya aku hanya milikmu,” ujar Mario sambil mendorong tubuh Adel hingga membentur pintu kamar, saat Adel ingin memeluk dirinya. “Berhentilah untuk bermimpi Adel. Mungkin kita dulu saling membutuhkan. Tapi ingat sekarang kamu bagaikan debu dimataku,”
“Jahat sekali kamu mengatakan itu padaku Mario. Apa kamu tidak mengingat sedikit pun kebersamaan kita. Saat kita sama-sama memadu kasih di atas tempat tidur dengan tubuh yang polos,”
“Tidak, sedikit pun aku tidak mengingatnya,” sambung Mario kemudian mendekati Merin dan membangunkan Merin tapi tidak ada tanda-tanda Merin akan terbangun.
“Dia tidak akan terbangun, biarkan saja dia tertidur,”
Mario yang mendengar perkataan Adel langsung menatap ke arah Adel.
“Apa yang kamu lakukan pada anakku,”
“Dia juga anakku Mario, jangan lupakan itu,”
“Melakukan apa? Aku tidak melakukan apa pun. Aku hanya memberikan obat untuknya agar dia tertidur pulas dan tidak mengganggu kebersamaan kita,”
“Dasar gila,” sambung Mario sambil mengangkat tubuh Merin. Kemudian dengan segera keluar dari kamar. Tapi langkah Mario langsung terhenti saat di ruang tamu sudah ada kurang lebih empat pria berbadan kekar.
“Percuma saja kamu tidak akan pernah keluar dari tempat ini Mario. Kecuali–
“Kamu jangan gila Adel. Merin dalam bahaya,” sambung Mario memotong perkataan Adel.
__ADS_1
“Aku tidak peduli,”
“Kamu memang sudah gila. Merin anak kandung kamu Adel!”
“Aku tidak peduli, meskipun dia tidak akan pernah bangun,”
“Adel!!!!!!"
“Teriak saja aku tidak peduli. Kecuali kamu menemaniku sekali saja di atas ranjang, setelah itu, aku akan membiarkan kamu pergi, bagaimana? Kamu juga merasakan enak bukan?”
Mario yang mendengar perkataan Adel langsung mendekati Adel yang berdiri tidak jauh dari tempatnya berada.
Bugh
Mario menendang tubuh Adel dengan kencang, hingga Adel jatuh ke lantai.
“Dasar ja lang. Aku menyesal dan juga malu pernah dekat denganmu Adel!” ucap kesal Mario kemudian meninggalkan Adel. Tapi langsung di hadang anak buah Adel.
Bersambung..................
Jangan bilang sedikit, karena memang sedikit 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣 kabur rrrrrrrrrrr
__ADS_1