Terpaksa Menikahi Asisten

Terpaksa Menikahi Asisten
69 Rencana Lain


__ADS_3

“Jangan berteriak padaku. Ini sudah larut malam aku lelah setelah bertarung. Bay bay sayang,”


“Camel! Teriak Lery saat sahabatnya tersebut pergi ke arah mobilnya yang terparkir di halaman rumah Lery, kemudian Camel langsung melambaikan tangannya dan masuk ke dalam mobilnya.


Maria yang masih berada di tempat langsung menghembuskan nafasnya kasar sambil meraih tangan kakak iparnya tersebut yang akan berjalan menghampiri Camel yang sudah masuk ke dalam mobilnya dan melajukan mobilnya.


“Maria. Aku butuh penjelasan dari Camel atas pernyataannya tadi,”


“Aku bisa menjelaskan kak. Sebaiknya kita bicara di dalam. Ini sudah larut tidak bagus untuk kesehatan ibu hamil seperti kakak,”


“Baiklah,” sambung Lery yang langsung masuk ke dalam rumah di ikuti Maria dari belakang. “apa yang dimaksud Camel. Kenapa dia bilang Mario bermain kasar?” tanya Lery penasaran saat keduanya sudah duduk di kursi ruang keluarga.


“Bukan Mario kak tapi...”


“Kenapa kamu tidak meneruskan perkataan mu Maria?” tanya Lery saat Maria menghentikan ucapannya.


“Sebenarnya masalah ini ada pada Mario. Seharusnya kakak tanya langsung pada yang bersangkutan untuk lebih jelasnya lagi,”


“Berarti benar apa yang dikatakan Camel. Kalau Mario yang sudah kasar kepada dia? Untuk apa?”


“Bukan begitu kak. Untuk masalah luka pada pipi dan juga leher Camel bukan Mario yang melakukannya. Tapi terjadi karena Mario,”


“Maksud kamu?” tanya Lery dan Maria yang awalnya tidak ingin menceritakan apa yang terjadi agar Mario menceritakan sendiri pada istrinya, akhirnya menceritakan semuanya tanpa ada yang di tutup tutupi. Agar rumah tangga kakaknya baik-baik saja.

__ADS_1


*


*


*


Lery yang baru masuk ke dalam kamar dengan membawa segala jus lemon untuk sang suami. Langsung menatap Mario yang sudah terbaring di atas tempat tidur sambil memegangi kepala saat rasa pusing masih dirinya rasakan meskipun hanya sedikit.


“Minumlah ini sayang, untuk menetralkan al ko hol di dalam tubuhmu,” ujar Lery sambil menyodorkan segelas jus lemon ke hadapan Mario. Dan Mario langsung mengambilnya sambil menatap sang istri. “Tidak usah menatapku. Aku tetap marah karena kamu sudah berani minum lagi. Kita sudah berjanji bukan untuk tidak minum lagi,”


“Maaf sayang. Tapi aku tidak berniat untuk minum kalau bukan...”


“Di paksa tuan Licon?” tanya Lery memotong perkataan Mario, dan Mario yang mendengar perkataan sang istri langsung menatap sang istri kembali. “Aku sudah tahu semuanya. Maria sudah memberi tahu,”


“Ya,” sambung Lery singkat.


“Apa kamu marah karena aku sudah menyetujui Adel menjadi brand ambassador untuk proyek selanjutnya,”


“Tidak untuk apa aku marah,”


“Benarkah sayang?”


“Benar. Tapi jangan senang dulu, karena kamu tidak memberi tahu terlebih dahulu. Mulai besok aku akan ikut ke kantor setidaknya sampai kerja sama dengan tuan Licon selesai. Sebagai asisten pribadimu ke mana pun kamu pergi aku akan ikut,”

__ADS_1


“Tapi sayang, kamu sedang hamil. Aku tidak ingin kamu kelelahan dan terjadi sesuatu kepada dirimu dan juga anak kita. Apa kamu lupa yang dokter katakan. Jika kamu tidak boleh kelelahan,”


“Aku tidak lupa dan aku selalu mengingatnya. Aku hanya ingin menjaga suamiku,”


“Kamu kira aku anak kecil yang harus dijaga,”


“Lebih dari anak kecil. Cepat habiskan dan jangan banyak bicara karena mulai besok aku akan ikut ke kantor titik,” ujar Lery yang langsung merebahkan tubuhnya membelakangi Mario karena dirinya punya rencana lain. Saat dirinya yakin ada maksud lain dari kedatangan Adel, apalagi sekarang dia jadi brand ambasador perusahaannya yang bekerja sama dengan tuan Licon.


“Sayang sebelumnya aku minta maaf. Karena tidak memberi tahu kamu kalau Adel lah yang menjadi brand ambassador,” ujar Mario setelah menaruh gelas kosong di atas nakas dan ikut membaringkan tubuhnya di samping istrinya lalu memeluk Lery dari belakang dan menciumi belakang leher sang istri.


“Itu sudah terjadi Mario tidak perlu dibahas lagi. Sekarang tidurlah ini sudah malam,”


“Hanya itu yang kamu katakan?”


“Aku harus mengatakan apa? Apa aku harus bilang aku sangat kuatir kepadamu karena ponselmu mati begitu?”


“Benarkah itu sayang. Sungguh besar cintamu padaku sayang,” ujar Mario sambil mengeratkan pelukannya. “Dan sebagai permintaan maaf dariku bolehkah aku menanam?”


“Tidak, benihnya sudah tumbuh,”


“Kalau begitu memberi pupuk. Boleh ya?”


“Mario!”

__ADS_1


Bersambung..................


__ADS_2