Terpaksa Menikahi Asisten

Terpaksa Menikahi Asisten
82 Gempa


__ADS_3

“Tidak usah itu urusan kamu dengan dia. Urusan aku dengan kamu adalah bisnis,” sambung Maria dan kembali lagi fokus pada setir pengemudi nya.


“Bisnis apaan?”


“Kekasih bayaran, dan aku senang berbisnis dengan anda tuan,” jawab Maria sambil tersenyum dan sebisa mungkin untuk menghibur Juano.


“Ada yang ingin aku katakan padamu,”


“Boleh, tapi jangan berbicara tentang orang ke tiga dalam hubungan kita cie,” canda Maria sambil memainkan alisnya menatap Juano.


“Jangan begitu pengin muntah aku melihatnya,”


“Yakin, nanti naksir beneran aku tidak tanggung jawab ya,”


“Tidak akan naksir pada wanita seperti dirimu,”


“Sama aku pun juga tidak akan tertarik pada pria cengeng seperti dirimu. Katakan saja apa yang ingin kamu katakan pria menyedihkan,”


“Aku sudah bilang pada Mario kakak kamu, mulai besok kamu akan menemaniku mengawasi proyek yang sedang berlangsung selama aku berada di Indonesia, dan kakak kamu sangat setuju karena dia bilang kamu juga ahli dalam bidang ini,” jelas Juano dan Maria pun langsung menatap Juano.


“Tapi Mario belum memberi tahu aku,”


“Belum mungkin,”


“Bayaranku bagaimana, aku tidak ingin bekerja tanpa di bayar,”

__ADS_1


“Tenang saja sudah aku siapkan untukmu,”


“Oke aku menyetujuinya,” sambung Maria dan tersenyum senang.


*


*


*


Mario yang baru keluar dari kamarnya langsung menuju meja makan saat merasakan lapar karena pagi tadi hanya sarapan satu potong sandwich dan dua butir telur rebus dengan segelas susu rendah lemak, untuk menjaga tubuhnya agar tetap terbetuk atas permintaan sang istri.


“Mbak kemana istriku?” tanya Mario pada asisten rumah tangganya yang sedang menyiapkan makan siang untuk Mario.


“Apa dia sudah makan?” tanya Mario pasalnya sadari tadi dirinya sibuk dengan pekerjaannya meskipun hari ini akhir pekan.


“Sudah tuan,”


“Baiklah,” sambung Mario yang langsung menyantap makan siang yang sudah berada di hadapannya.


 Setengah jam berlalu Mario yang sudah selesai menyantap makan siangnya langsung menuju kamar Marco dan juga Merin yang berada di dalam satu ruangan agar Mario dan juga Lery mudah mengawasi keduanya.


Mario yang sudah masuk ke dalam kamar Marco dan juga Merin langsung tersenyum saat menatap Lery, Merin dan juga Marco bergantian yang sedang tertidur lelap di kedua ranjang yang berbeda. Kemudian Mario menghampiri sang istri yang sedang tidur sambil memeluk Marco kemudian mengelus perut sang istri.


“Sayang bangunlah sekarang giliran kamu menidurkan aku,” bisik Mario sambil mencium pipi Lery yang sedang tertidur miring. Membuat Lery langsung menggeliat.

__ADS_1


“Sudah selesai dengan pekerjaanmu?” tanya Lery sambil membalik badannya dan langsung melingkarkan kedua tangannya di leher sang suami. Tapi Mario tidak menjawabnya karena langsung mencium bibir sang istri da me lu matnya.


“Mario apa kamu ingin membuat aku mati kehabisan nafas?” tanya Lery sambil mendorong wajah Mario saat Mario begitu rakus menyesap bibir sang istri.


“Ssttt jangan berisik,” ujar Mario sambil menaruh jari telunjuknya di bibir sang istri. “Aku tidak ingin mereka mengganggu acaraku,”


“Acara apaan?”


“Menyiram pupuk untuk si kembar,” ujar Mario sambil mengelus perut sang istri.


“Kamu lupa dokter memintaku untuk tidak kelelahan,”


“Apa kamu lupa dokter juga memperboleh aku melakukan asal dengan cara yang aman, ayolah sayang sudah lama aku tidak menjenguk bibitku,” pinta Mario dan Lery pun langsung merentangkan tangannya. “ Terima kasih sayang, akhirnya papa bisa memberi nutrisi padamu,” ujar Mario yang langsung mengangkat tubuh sang istri untuk membawanya ke kamarnya sendiri yang bersebelahan dengan kamar anak-anak.


Setelah sampai kamarnya sendiri Mario langsung merebahkan tubuh sang istri di atas tempat tidur dengan perlahan. Dan Mario langsung mencium bibir sang istri dengan rakus sambil menurunkan pakaian yang istrinya kenakan.


“Maafkan papa sayang akan ada gempa bagi kamu, tapi nikmat buat papa sebentar lagi,” ujar Mario sambil menciumi perut Lery yang sudah terlihat membuncit di usia kandungnya yang akan memasuki bulan ke empat. “Apa kamu sudah siap sayang?”


“Belum, aku haus sayang,” jawab Lery dan  Mario dengan sigap langsung mengambil air putih yang memang selalu tersedia di atas meja nakasnya. “Dan sekarang aku sudah siap sayang,” ujar Lery sambil tersenyum.


“Baiklah,” ucap singkat Mario yang langsung melepas kaos yang melekat di tubuhnya. Kemudian beralih menurunkan celana yang di kenakannya sebelum pintu kamarnya di ketuk dengan kencang dari luar.


Bersambung.................


 

__ADS_1


__ADS_2