
Mario terus menggenggam telapak tangan Lery ketika Lery sedang mengadakan konferensi pers di depan hotel mewah milik keluarganya dan menjelaskan apa yang terjadi pada awak media tanpa ada satu pun yang di tutupi.
“Baik. Kalian sudah tahu apa yang sebenarnya. Ayah biologis Marco memang Brian tapi ayah sesungguhnya untuk Marco adalah Mario suamiku yang sangat aku cintai. Manusia memang tidak luput dari kesalahan begitu pun dengan aku. Karena aku hanyalah manusia ciptaan Tuhan sama seperti kalian,” ujar Lery mengakhiri konferensi pers nya.
“Nona apa boleh kami bertanya?” tanya salah satu awak media kepada Lery.
“Silakan kalau kalian ingin bertanya. Tapi jangan harap kalian bisa bekerja esok hari!” sambung Mario penuh ancaman membuat awak media langsung menutup mulutnya. “Kenapa kalian hanya diam. Benar bukan apa yang aku katakan. Mau kalian bertanya atau tidak tetap saja sebagian kalian besok ada yang tidak masuk kerja. Apa kalian lupa esok hari tanggal merah,” jelas Mario membuat para awak media langsung saling pandang satu sama lain kemudian tertawa bersama. “Jangan tertawa. Aku bukan pelawak. Silakan kalau ada yg ingin kalian tanyakan. Tanyakan sekarang sebelum aku berubah pikiran,” ujar Mario mempersilakan para awak media untuk bertanya. Karena tidak mungkin Mario mengancam awak media karena bisa merugikan perusahaan sang istri, dan sebisa mungkin Mario dekat dengan awak media agar mempermudah dirinya menemukan siapa dalang dibalik semuanya ini selain Brian.
Setelah Lery dan juga Mario selesai meladeni banyaknya pertanyaan awak media. Keduanya langsung menuju kamar hotel khusus yang biasa di tempati oleh pemilik hotel tersebut tidak terkecuali dengan Lery yang sering menepati kamar hotel tersebut. Lery yang sudah berada di dalam kamar hotel tersebut langsung merebahkan tubuhnya di atas ranjang Sambil menghembuskan nafasnya lega.
“Apa kamu lelah sayang?” tanya Mario sambil melepas alas kaki Lery yang masih menempel di kakinya.
“Tentu. Hari ini hari yang sangat melelahkan untukku tapi syukurlah aku sudah bisa bernafas lega,”
“Aku akan menghilangkan lelahmu itu,” ucap Mario sambil menaruh kaki Lery di pangkuannya dan langsung memijatnya.
__ADS_1
“Terima kasih Mario,”
“Hanya itu?” tanya Mario sambil tersenyum ke arah Lery yang juga membalas senyumnya sambil merentangkan tangannya dan Mario langsung menindih tubuh Lery dan memeluknya erat.
“Aku tahu apa yang kamu inginkan, dan aku akan memuaskan adik kecilmu yang jumbo itu. Sebagai permintaan maaf karena semalam kamu tidak jadi naik kuda,”
“Terima kasih Lery istriku akhirnya akan tersalurkan juga, emmm aku sudah tidak tahan,” ujar Mario sambil melepas pelukannya beralih mencium bibir Lery begitu pun Lery yang juga balas mencium bibir Mario. Dan keduanya langsung melepas tautan bibirnya saat keduanya mulai kehabisan oksigen.
“Mario kamu mau ke mana?” tanya Lery penasaran saat Mario turun dari ranjang.
“Wow ternyata kamu sudah mempersiapkan semuanya?”
“Tentu, kapan lagi. Kalau di rumah pasti ada saja gangguan jangankan lima ronde mau masuk juga tidak jadi,”
“Aku tidak yakin sampai lima ronde. Pasti kalau sudah keluar langsung loyo,” sambung Lery dengan tersenyum untuk meledek Mario.
__ADS_1
“Oke aku buktikan,”
“Buktikan saja,” tantang Lery membuat Mario yang baru saja meminum jamu langsung melepas baju yang digunakan tanpa menyisakan sehelai benang pun. Dan memperlihatkan lobak miliknya yang sudah berdiri kokoh di bawah sana, membuat Lery langsung menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
“Tidak usah malu-malu tapi mau, pengang saja kalau penasaran,” ucap Mario setelah naik ke atas ranjang sambil melepas telapak tangan Lery yang masih menutupi wajahnya.
“Aku mau banget,” sambung Lery yang langsung memeluk tubuh Mario dan langsung merebahkan tubuh Mario. “Dan aku mau jadi kudanya,” ujar Lery yang langsung me lu mat bibir Mario yang berada di bawahnya.
Bersambung........
Masih pagi 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
__ADS_1