
Sudah hampir lima jam Lery berada di rumah sakit. Tapi tetap saja kekawatirannya belum juga hilang saat Mario belum juga selesai melakukan operasi. Tidak ada lagi air mata yang menetes saat air matanya sudah habis untuk menangisi sang suami yang sedang berjuang antara hidup dan mati di dalam ruang operasi.
“Lery makanlah setidaknya sedikit saja. Ini demi Marco yang masih meminum asi,” ucap Leno yang masih setia menemani sang kembaran sambil menunjuk makanan yang berada di samping Lery yang dari tadi tidak sama sekali di sentuhnya, tapi tidak di hiraukan oleh Lery yang terus menggenggam kedua tangannya dengan wajah penuh kecemasan. “Tenang saja Mario akan baik-baik saja,”
“Dari tadi itu yang selalu kamu katakan kamu tidak tahu apa yang sedang aku rasakan sekarang. Orang yang sangat aku cintai sedang berjuang antara hidup dan mati kamu tahu itu Leno,” ujar Lery penuh penekanan. Tapi tidak di hiraukan oleh Leno yang langsung beranjak dari duduknya dan menghampiri dokter yang baru saja keluar dari ruang operasi saat operasi baru saja selesai, dan Lery pun juga langsung ikut menghampiri dokter tersebut.
“Saya ingin berbicara dengan salah satu anggota keluarga pasien yang berada di dalam,”
“Saya istrinya dok. Katakan padaku bagaimana keadaan suami aku dia baik-baik saja kan dok?” tanya Lery penuh antusias tapi dokter tersebut malah menatap ke arah Leno. “Dok aku yang sedang bertanya, kenapa dokter malah menatap saudaraku. Aku berada di sini dok apa dokter tidak bisa melihat aku?” tanya Lery dengan nada tinggi membuat Leno langsung memeluk bahu Lery.
“Tenangkan dirimu Lery,”
“Tenang kamu bilang? Saat aku belum...”
“Lery diamlah biarkan dokter yang berbicara,” sambung Leno memotong perkataan Lery. “Dok katakan pada kami apa yang terjadi pada saudaraku?”
__ADS_1
“Sebelumnya maaf nona dan tuan. Saya harus mengatakan hal tidak mengenakan,”
Deg.
Lery yang mendengar perkataan dokter tersebut langsung lemas saat jantungnya serasa berhenti sesaat meskipun dokter tersebut belum selesai berbicara. Leno yang tahu Lery tidak baik-baik saja langsung membawa kembarannya tersebut ke dalam dekapannya.
“Teruskan saja dok,” sambung Leno agar dokter tersebut melanjutkan perkataannya.
“Kami bisa mengangkat peluru yang bersarang di perut dan juga punggung pasien. Tapi maaf pasien masih kritis dan mengalami koma karena peluru yang mengenai pasien sangat dalam,”
“Maaf nona,”
“Tidak!” teriak Lery sambil menutup kedua telinganya dan jatuh pingsan di dalam dekapan Leno.
*
__ADS_1
*
*
Keesokan harinya Lery yang masih terbaring di ranjang rumah sakit perlahan membuka matanya. Setelah mendapat perawatan saat kemarin tidak sadarkan diri mengetahui keadaan Mario dan terlebih lagi fisiknya sangat lemah. Dan mengharuskan Lery menjalani rawat inap.
“Sayang kamu sudah bangun?” tanya mommy Lery yang sudah berada di dalam kamar perawatan sang putri.
“Mom,”
“Iya ini mommy sayang,” ujar mommy Lery yang langsung mendekat ke arah sang putri dan membantunya saat Lery akan beranjak dari tidurnya. “Sayang mama ikut bersedih saat mendengar kabar Mario terkena tembakan dan keadaannya kritis,”
“Mommy,” ujar Lery sambil memeluk sang mommy yang berada di sampingnya dan Lery pun langsung menangis.
“Tidak ada gunanya kamu menangis sayang. Semua sudah terjadi. Tidak ada gunanya kamu menangisi Mario. Yang kamu lakukan harusnya tetap tegar dan selalu mendoakan suami kamu agar Mario segara sadar,” nasihat mommy Lery sambil menghapus air mata Lery dan terus menguatkan sang putri.
__ADS_1
Bersambung.............