
“Ya ampun mengganggu saja. Tidak bisa apa, nanti saja mengetuk pintunya, tidak tahu apa sudah di ubun-ubun,” ujar Mario dan tidak menghiraukan seseorang yang terus saja mengetuk pintu.
“Sayang siapa tahu penting, kamu buka saja dulu,” pinta Lery tapi tidak di hiraukan oleh Mario yang sekarang membuka celana segitiga pembungkus hutan belantara yang gundul akibat pembalakan liar.
“Biarkan saja nanggung,”
“Tuan, nona ada seseorang yang menerobos masuk ke dalam rumah sambil berteriak teriak. Tuan nona bukalah pintu nya saya mohon,” ujar salah satu asisten rumah tangganya dan terus mengetuk pintu kamar Lery.
“Mario kamu dengar?” tanya Lery membuat Mario langsung mengangguk.
“Jangan-jangan,” ujar Lery dan juga Mario berbarengan kemudian keduanya mengenakan pakaian kembali yang sudah tidak berada tepat pada tempatnya.
Setelah keduanya sudah mengenakan pakaiannya masing-masing, Mario dan juga Lery langsung terburu buru menuju pintu. Dan benar saja ketika Mario baru saja membuka pintu kamarnya dia sudah mendengar suara teriakan dari seorang wanita.
__ADS_1
“Maaf tuan nona kami sudah mencegahnya untuk masuk tapi dia memaksa,” ujar asisten rumah tangganya sambil menundukkan kepalanya.
“Tidak apa-apa mbak. Mbak jaga Marco dan juga Merin saja di kamar, dan jangan izinkan Merin keluar kamar sebelum aku masuk ke dalam kamarnya,” perintah Lery, kemudian Lery menyusul Mario yang sudah terlebih dahulu turun dari lantai dua kamarnya.
“Selamat siang sayang,” ucap Adel sambil tersenyum ke arah Mario yang berjalan mendekati Adel.
“Apa urat malumu sudah putus? Ini bukan rumahmu yang bisa seenaknya saja kamu masuki dan juga berteriak teriak seperti orang gila,”
“Benar ini memang bukan rumahku. Apa salahnya jika aku mengunjungi kamu dan juga Merin anak kita sayang. Aku sangat merindukan kamu dan juga Merin. Bagaimana pun aku ibu kandungan, dan Merin perlu tahu,” ujar Adel sambil mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru ruangan. “Merin sayang ini mama kamu sayang. Di mana kamu sayang, mama sangat merindukanmu,” teriak Adel dan Mario langsung menarik tangan Adel.
“Ke mana saja kamu selama ini?”
“Bukan kamu yang salah tapi aku, karena telah mengenal dirimu dan juga mencintai wanita seperti dirimu. Dan aku tidak ingin melakukan kesalahan dengan mengizinkan kamu dekat dengan Merin meskipun kamu yang sudah melahirkannya,” tegas Mario pada Adel yang berdiri tepat di hadapannya. “Pintu keluar ada di sebelah sana, jadi kamu keluarlah sebelum aku melakukan hal kasar kepadamu,”
“Lakukan saja aku tidak peduli Mario sayang. Bagaimanapun aku adalah ibu kandung Merin dan aku ingin bertemu dengan anakku, dan membawa Merin bersamaku, dan kamu juga boleh ikut bersama dengan kami, dari pada kamu harus bersama dengan Lery yang jelas-jelas sudah memiliki anak dari orang lain. Dan sadarlah Mario, kamu hanya di jadikan boneka oleh Lery,”
__ADS_1
“Adel!” teriak Mario dengan kencang dan tangannya langsung di cekal oleh Lery saat Mario ingin menampar Adel.
“Tenangkan dirimu Mario jangan kotori tanganmu dengan menyentuh wanita kotor seperti dia,”
“Ada apa denganku kotor? Apa kamu tidak bercermin sebelum mengatakan itu padaku Lery. Bagaimana dengan dirimu?”
Plak
Mario menampar pipi kanan Adel, dan Lery langsung memeluk tubuh sang suami saat Mario akan menampar pipi Adel kembali.
“Mario kendalikan dirimu, aku tidak ingin kamu berbuat kasar pada wanita termasuk pada Adel,” ujar Lery kemudian melepas pelukannya dan menatap ke arah Adel.
“Yang kamu katakan itu benar Adel aku memang kotor aku akui itu, tapi aku bukan seperti dirimu yang tega menelantarkan anak kandungmu yang kamu lahirkan dari rahimmu sendiri, dan jangan berbicara lagi aku akan memanggil Merin,” ujar Lery membuat Adel langsung tersenyum senang.
“Sayang kenapa...”
__ADS_1
“Mario biarkan Merin tahu sejak dini siapa ibu kandungnya,” jelas Lery memotong perkataan Mario. “Dan untuk kamu Adel. Siapkan dirimu untuk menerima kenyataan,” ujar Lery yang langsung meninggalkan Adel, dan menuju kamar Merin.
Bersambung................