
“Ssttt jangan berteriak,” ucap Lery lemah sambil memejamkan matanya.
Tanpa merespon perkataan sang istri Mario langsung menghujani seluruh wajah Lery dengan ciuman bertubi tubi.
“Mario apa yang kamu lakukan?”
“Aku begitu bahagia sayang, terima kasih untuk perjuanganmu,” ujar Mario yang sekarang beralih memeluk Lery dengan erat.
Mario berjalan mendekati tiga putranya meninggalkan sang istri yang sedang mendapatkan perawatan khusus setelah mendapat beberapa jahitan di daerah intinya.
Mario tersenyum penuh dengan kebahagiaan dan tidak terasa bulir air matanya jatuh membasahi pipi, saat menatap ke tiga putranya yang sedang terlelap dan berada di dalam inkubator untuk mendapat perawatan khusus karena berat ketiganya belum ideal. Lalu Mario sebagai seorang ayah mendekati satu persatu putranya untuk mengumandangkan Azan di telinga kanan sang putra dan juga iqamah di telinga kirinya.
*
*
*
Mario terus menatap sang istri yang sedang terlelap saat sudah di pindah ke ruang perawatan VVIP, dan tangannya terus mengelus pipi sang istri dan tak lupa senyum terus terukir dari kedua sudut bibirnya.
“Biarkan dia tidur, jangan mengganggunya, kamu enak tidak merasakan apa yang di rasakannya,” ujar seseorang yang tanpa Mario sadari sudah berada di dalam ruangan.
“Kau mengagetkan aku saja, kamu juga tidak merasakannya, jangan sok bijak,”
Mario berkata sambil beranjak dari duduknya untuk menghampiri Leno saudara kembar sang istri yang datang bersama istrinya yang juga sedang mengandung
“Selamat Mario untuk kelahiran tiga jagoanmu,”
“Terima kasih,” dan keduanya langsung berpelukan. “Kapan kalian datang? Bukannya kalian sedang berada di London bersama mommy dan juga Oza?”
“Aku datang satu jam lalu untuk menghadiri acara pernikahan adik kamu, dan setelah aku sampai tempat acara, semuanya sudah bubar, dan ada yang memberi tahu jika ada salah satu kerabat sang mempelai akan melahirkan, dan aku yakin itu Lery, lalu aku mencari rumah sakit terdekat dan benar dugaanku, tapi usia kandungan Lery baru tujuh bulan kenapa bisa?”
__ADS_1
“Ya bisa lihat ponakan kamu sudah mbrojol tuh,”
Leno dan juga Lea berjalan mendekati ketiga putra Mario yang juga berada di ruangnya tersebut.
“Menggemaskan sekali mereka,” ujar Lea penuh kagum.
“Tentu siapa dulu bibitnya,” sambung Mario dengan bangga.
“Kamu kira jagung ada bibitnya, jangan bercanda,”
“He he he,”
“Mario,” panggil Leno yang sedang mengamati ketiga keponakannya.
“Emmm,”
“Kamu sudah memberi nama?”
“Sudah dong. Yang ini Martin Atmaja, Maxim Atmaja dan yang ini Masimo Atmaja,” ucap Mario sambil menunjuk satu persatu putranya.
“Sialan,”
“Sssttt jangan berisik kalian!” perintah Lea dengan menatap keduanya.
Dan keduanya langsung menuju sofa yang berada di ruangan tersebut, di ikuti Lea dari belakang, saat dirinya tidak ingin mengganggu si kembar yang sedang pulas di dalam inkubator.
“Oh ya, apa anakmu yang sekarang kembar juga?” tanya Mario pada Leno yang langsung menggelengkan kepalanya di akhiri dengan menghembuskan nafasnya kasar.
“Ini akibat suka buang-buang bibit dan celap celup sembarangan,”
“Sialan, kamu juga yang selalu mengingatkan aku menggunakan sarung, kalau tidak– Leno menghentikan pembicaranya saat Lea melotot ke arahnya.
“Tidak apa?”
__ADS_1
“ Tidak mommy sayang, itu masa lalu,” ujar Leno lalu memeluk bahu sang istri yang duduk di sampingnya.
“Lea, aku kasih tahu ya, dulu dia bercita cita ingin mempunyai bibit di mana-mana jadi kalau–
“Jangan dengarkan dia mommy, maklum pasti dia oleng karena akan puasa selama satu bulan lebih,” sambung Leno memotong perkataan Mario.
“Jajan banyak,”
“Apa!!!!!”
Mario menoleh ke arah ranjang saat mendengar teriakan Lery yang sudah bangun dari tidurnya. Lalu Mario beranjak dari duduknya dan menghampiri sang istri sambil tersenyum.
“Sudah bangun sayang?”
“Jangan basa basi. Tadi apa yang kamu katakan? Jajan banyak, maksudnya? Apa aku harus memanggil dokter spesialis dari negara gajah putih untuk memotong milikmu,”
“Tadi bercanda sayang,”
“Lery dia berbohong. Panggil saja dokter spesialis itu,” sambung Leno sambil menahan senyum.
“Oh no.”
Bersambung..................
__ADS_1