
Sementara itu di rumah Lery, terus saja terjadi perdebatan antara suami istri dengan pendiriannya masing-masing saat keduanya baru saja bangun tidur
“Ya sudah kalau aku tidak di perbolehkan ke kantor. Aku juga tidak mengizinkan kamu untuk memupuk,” ucap Lery kesal saat Mario tetap saja tidak mengizinkan dirinya ikut ke kantor dengan alasannya demi kesehatan Lery dan juga sang buah hatinya.
“Ah tidak asyik kalau begitu. Oke kamu boleh ikut ke kantor mulai sekarang. Tapi hanya duduk manis tanpa melakukan apa pun. Dan itu selalu di sampingku oke,”
“Iya in saja,” ujar Lery sambil beranjak dari tidurnya.
“Mau ke nama?” tanya Mario sambil mencekal tangan Lery.
“Mandi lah mau ke mana lagi,”
“Cocok kalau begitu,”
“Apanya yang cocok?” tanya Lery sambil menatap sang suami. Tapi tidak ada jawaban dari Mario yang langsung mengangkat tubuh Lery.
“Kamu tahu bukan kalau habis mandi dingin?”
“Iya,”
“Nah biar tidak dingin aku ingin memupuk sekalian, agar baby kita tumbuh dengan cepat. Dan kita merasakan hangat yang nikmat,”
“Modus,” sambung Lery sambil melingkarkan kedua tangannya di leher sang suami.
“Mau kan?”
“Banget,” jawab Lery dan langsung mencium bibir Mario.
Brak
Pintu kamar tiba-tiba di buka dengan kencang memperlihatkan Merin yang masuk ke dalam kamar sambil menangis di ikuti oleh pengasuhnya dari belakang, membuat Mario dan juga Lery langsung melepas tautan bibirnya, kemudian Mario langsung menurunkan tubuh Lery dengan pelan dan menepuk jidatnya.
“Mama papa,” ujar Merin yang masih terus menangis.
“Ada apa sayang?” tanya Lery sambil memeluk anak sambungnya tersebut.
__ADS_1
“Iya katakan pada papa juga,”
“Aku tidak mahu mandi belsama embak. Aku mau mandi sama mama,”
“Sama mbak saja sayang. Mama dan juga papa ada urusan sebentar,” sambung Mario sambil mengelus rambut Merin.
“Tidak mahu. Aku mahu mandi sama mam titik,”
“Mama mau mandiin papa sayang, jadi...” ucapan Mario berhenti saat Lery menyikut perutnya.
“Papa sudah besal jadi papa bisa mandi sendili,”
“Benar,” sambung Lery dan langsung menggandeng Merin menuju kamar mandi.
“Apes, apes ada aja halang rintang untuk memupuk,” ucap Mario sambil menepuk jidatnya dan langsung menuju tempat tidurnya kembali dan merebahkan tubuhnya dengan kasar.
*
*
*
“Maafkan ya sayang,”
“Untuk apa?” tanya Mario yang sedang mencium punggung tangan istrinya.
“Tidak jadi memupuk,”
“Oh itu. Tenang saja kita bisa memupuk setelah sampai di kantor. Apa kamu sudah siap?” tanya Mario membuat Lery langsung menggelengkan kepalanya. “Kenapa?”
“Apa kamu lupa ada Maria di sana,”
“Tenang saja bisa diatur,” ujar Mario sambil menyadarkan kepala sang istri di pundaknya. Ketika keduanya duduk di jok belakang mobilnya. Saat keduanya memilih menggunakan sopir.
“Pak hentikan mobilnya,” perintah Lery dan sopir Lery langsung menghentikan mobil yang di kendarai nya.
__ADS_1
“Sayang ada apa?”
“Aku ingin itu Mario,” ujar Lery sambil menunjuk salah satu penjual gerobak yang tidak jauh dari mobilnya.
“Kamu yakin sayang?” tanya Mario penasaran.
“Yakin,”
“Tapi kamu belum pernah mencobanya. Aku tidak ingin terjadi sesuatu padamu dan juga anak kita. Terlebih lagi itu tidak higienis,”
“Masa bodoh. Aku hanya ingin makan cilok sekarang juga,”
“Tapi sayang...”
“Mario aku menginginkannya sekarang juga titik,” sambung Lery memotong perkataan Mario. “Dan aku ingin mencobanya, aku ingin tahu rasanya bagaimana,”
“Rasanya tidak enak sayang percaya padaku. Kamu ingin tahu yang bentuknya seperti cilok tapi rasanya lebih nikmat dan juga nagih,”
“Apa,” tanya Lery penasaran sambil menatap sang suami.
“Ini sayang,”
“Mario!”
“Kenapa memangnya sayang, benar bukan apa yang aku katakan ini lebih nikmat dan bisa bikin kamu merem melek,” ujar Mario saat dirinya menuntun tangan Lery menuju benda pusakanya yang menyerupai cilok tapi lebih besar dan lebih kenyal.
“Yang bikin merem melek bukan ini tapi batangnya Mario dodol,”
“Tapi ini juga ikut berkontribusi sayang, coba saja kamu mainin,”
“Mario!”
“Sayang sakit,” ucap Mario saat Lery menekan cilok miliknya.
Bersambung................
__ADS_1