Terpaksa Menikahi Asisten

Terpaksa Menikahi Asisten
136 Pemakaman


__ADS_3

“Biarkan sebentar saja aku memelukmu seperti ini,”


Mendengar perkataan Juano Maria membiarkan Juano memeluknya, hingga debaran jantungnya terasa hingga mengenai punggung Maria. Lalu Maria melepas pelukan Juano dan dengan segara melangkahkan kakinya menuju kamar mandi dengan terburu buru.


“Maria,”


Juano memanggil dan Maria menghentikan langkahnya sebelum masuk ke dalam kamar mandi.


“Di sudut sebelah kanan pintu masuk kamar mandi ada tombol untuk menurunkan tirai, kamu tidak perlu kuatir,” ujar Juano tapi tidak di hiraukan oleh Maria yang terburu buru masuk ke dalam kamar mandi.


Maria yang sudah berada di dalam kamar mandi, langsung mencari tombol yang Juano maksud. Dan benar saja, Maria menemukan tombol tersebut lalu menekannya, dan hanya perlu beberapa detik tirai tersebut sudah menutupi seluruh dinding kaca kamar mandi.


Maria yang sadari tadi merasakan debaran dadanya berdebar tidak sesuai irama, langsung memegang dadanya sendiri sambil mengatur nafas. Lalu senyum terukir dari kedua sudut bibirnya.


“Ya Tuhan, apa ini? Tidak mungkin cinta kan Tuhan,” ujar Maria, lalu berjalan menuju bathtub yang sudah terisi air yang bertabur bunga. “Kenapa di mana mana ada bunga, ini rumah atau pemakaman,"


Juano mendudukkan tubuhnya di pinggiran tempat tidur. Dan senyum terus terukir dari kedua sudut bibirnya, saat Maria tidak sama sekali menolak apa yang dirinya lakukan. Apa lagi saat dirinya sedang memeluk Maria dari belakang dan mendapati jantung Maria berdetak tidak seirama.


“Dan ini saatnya aku akan membuat kamu juga mencintaiku Maria.”


Senyum terus terukir dari kedua sudut bibir Juano. “Dan untuk kamu Junior, bersabarlah sebentar lagi kamu akan masuk ke sarang. Ujar Juano kemudian merebahkan tubuhnya dan tengkurap untuk menenangkan Juniornya yang sedari tadi sudah menegang.

__ADS_1


Hampir satu jam Maria di kamar mandi, lalu Maria membuka pintu kamar mandi dengan perlahan. Saat dirinya merasa malu, karena hanya menggunakan jubah mandi berwarna merah jambu yang membalut tubuhnya. Padahal dulu dirinya pernah memakai jubah mandi dan satu kamar dengan Juano tapi tidak merasakan perasaan malu seperti sekarang.


Maria menghembuskan nafsanya lega saat melihat Juano sudah tertidur lelap di atas tempat tidur. Lalu dirinya berjalan mondar mandir, saat baru menyadari dirinya tidak sama sekali membawa baju.


“Mama sudah menyiapkan baju untukmu di ruang ganti sana,”


“Ya ampun Ano, kamu mengagetkan aku saja,”


Maria terkejut sambil memegangi dadanya, saat tiba-tiba Juano sudah beranjak dari tidurnya. Dan Maria membuka mulutnya, saat menatap ruangan yang di tunjuk Juano juga berdinding kaca.


“Kamu ganti baju saja, aku tidak akan mengintip, untuk apa aku harus mengintip saat aku bisa melihat langsung,”


“Ano!”


Maria yang sudah masuk ke dalam ruang ganti, mengedarkan pandangannya bukan karena takjub dengan isi ruangan tersebut yang di isi dengan barang-barang mewah dari berbagai jenis merek. Tapi dirinya mencari tombol yang mungkin saja ada seperti di kamar mandi untuk menurunkan tirai di ruangan tersebut.


Dan benar saja setelah beberapa menit mencari, akhirnya Maria menemukan tombol untuk menurunkan tirai.


Mata Maria terus menatap setiap sudut ruangan tersebut yang terdapat koleksi sepatu bermerek yang sudah tertata rapi, dan juga baju yang tergantung di lemari kaca yang ukurannya sangat panjang, yang dirinya yakini pasti milik Juano, lalu Maria melangkahkan kakinya berjalan menyusuri setiap jengkal ruangan tersebut menuju sebuah lemari untuk mencari pakaiannya.


“Orang kaya mau beli apa saja bebas, lah aku mau beli tas bermerek satu saja harus menabung satu tahun menyedihkan,” ujar Maria sambil membuka satu lemari yang ukurannya juga tidak kalah besar dengan pintu tertutup tidak seperti lainnya yang memiliki pintu transparan.

__ADS_1


Maria membuka mulutnya saat sudah membuka lemari tersebut, tentu saja isinya baju yang bermerek. Tapi bukan itu yang membuat Maria terkejut. Pasalnya isi lemari tersebut di dominasi dengan linggeri yang begitu ****, dan gaun yang ada di dalamnya juga sangat minim, yang sama sekali tidak pernah Maria kenakan.


“Ya ampun baju haram,” ujar Maria saat mengambil beberapa linggeri dari dalam lemari.


“Yang warna maroon sungguh sexy, dan itu cocok untuk kamu,”


“Ano,” ujar Maria dan langsung menaruh baju yang ada di tangannya ke lemari, ketika Juano tiba-tiba sudah berada di ruang ganti dengan bertelanjang dada dan handuk yang melilit pinggangnya. “Kenapa kamu ada di sini?”


Bukannya menjawab pertanyaan  Maria, Juano malah berjalan mendekat ke arah Maria.


“Apa yang kamu lakukan Ano!”


Bersambung..................


 


 


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2