Terpaksa Menikahi Asisten

Terpaksa Menikahi Asisten
91 Tuhan Maha Adil


__ADS_3

“Ano!”


Wek... Wek... Wek


Juano mengeluarkan isi perutnya tepat di dada Maria, saat Juano tidak sengaja menindih tubuh Maria ketika dirinya kehilangan keseimbangan.


“Ano!” teriak Maria sambil mendorong tubuh Juano hingga terjatuh di sampingnya. “Menjijikkan sekali, Anton!” teriak Maria lagi dan beranjak dari tempatnya, tidak lama kemudian Anton pun masuk ke dalam kamar Juano. “Lihat apa yang  bos kamu lakukan, menjijikan sekali, wek,” ujar Maria sambil menutup hidungnya dan menghentak hentakan kakinya kesal kemudian berlari menuju kamar mandi dengan terburu buru saat dirinya merasa mual dengan bau muntahan Juano yang mengenai pakaian yang di gunakan.


Maria yang sudah berada di kamar mandi juga memuntahkan isi perutnya saat dirinya tidak bisa menahan bau menyengat muntahan Juano.


“Ya ampun dasar pria menyedihkan, menyebalkan dan aku tidak suka, ya Tuhan kenapa aku harus bertemu dengan pria seperti itu achh,” kesal Maria dan langsung berdiri di bawah guyuran air shower.


Setelah selesai membersihkan dirinya Maria langsung menepuk jidatnya.


“Aku harus menggunakan apa? Baju dan juga dalaman sudah__ achh sial,” ujar Maria yang langsung mengenakan jubah mandi. Pasalnya pakaian yang dirinya gunakan sudah terkena muntahan Juano dan hanya kain segitiga miliknya yang masih bisa di selamatkan.


Maria membuka pintu kamar mandi dan mengintip ke arah ranjang yang sudah rapi dan juga sudah di ganti seprei oleh Anton. Kemudian dirinya menghembuskan nafasnya lega saat di kamar Juano tidak ada lagi Anton, dan Juano pun sudah tidur dengan posisi tengkurap dan pakaiannya pun sudah di ganti oleh Anton.

__ADS_1


“Pikirkan Maria. Bagaimana cara kamu pulang. Apa kamu harus menggunakan jubah mandi ini?” tanya Maria pada dirinya sendiri. “Oh tidak bisa. Yang ada nanti orang berpikir negatif tentang dirimu,” ujar Maria sambil menunjuk keningnya dengan jari telunjuk. “Oh iya pintu apartemen ini kan berhadapan dengan lift dan langsung menuju parkirkan mobil, dasar bodoh siapa yang akan melihatmu Maria,” ujar Maria lagi kemudian menuju ke arah ranjang Juano untuk mengambil tas miliknya yang sudah berada di atas meja nakas di samping tempat tidur Juano. Mungkin Anton yang meletakannya, saat dirinya mengingat telah menjatuhkan tasnya saat Juano mendorongnya.


“Menjijikkan, dasar sad boy yang menyedihkan,” gerutu Maria ketika sudah berada di samping ranjang Juano dan mengambil tas miliknya.


“Aku mohon jangan tinggalkan aku. Aku  butuh sandaran dan juga teman Maria. Aku butuh kamu untuk tetap disini menemaniku, aku mohon,” pinta Juano yang masih pada posisinya dengan tangan yang mencekal tangan Maria ketika Maria akan pergi.


“Tapi–


“Maria aku mohon padamu, aku butuh pencerahan darimu, dan aku tidak ingin menjadi pria cengeng seperti ini. Ajari aku agar aku bisa menjadi pria yang tegar,” ujar Juano memotong perkataan Maria kemudian beranjak dari tidurnya sambil memegangi keningnya.


“Ya ampun Ano. Kamu tahu aku wanita, mana bisa aku mengajarimu. Kan ada Anton,” sambung Maria sambil melepas tangan Juano.


“Teman?”


“Iya, aku ingin menjadi temanmu, dan tolong tetap berada di sisiku,”


“Oke baiklah,” ujar Maria sambil menghembuskan nafasnya kasar, dan tidak ada salahnya Maria tetap berada di samping Juano saat Maria berpikir Juano berbeda dengan pria nakal di luar sana, kemudian Maria duduk di samping Juano.

__ADS_1


“Terima kasih Maria,”


“Apa yang kamu lakukan Ano?” tanya Maria saat juano menyandarkan kepalanya di bahu Maria.


“Aku butuh sandaran saat pikiran aku tidak bisa berpikir jernih,”


“Mulai sekarang jernihkan pikiranmu, aku tahu cinta kamu teramat besar untuk Elis. Tapi kamu juga harus tahu meskipun kamu berjodoh dengan Elis, kalian juga akan terpisah oleh maut. Karena di dunia ini tidak ada yang abadi. Maka dari itu kita harus memiliki hati yang besar untuk menghadapi kenyataan yang sudah pasti akan terjadi. Seperti kamu sekarang ini. Tapi kamu harus yakin, Tuhan maha adil. Dan aku yakin Tuhan akan mengirim seseorang yang jauh lebih baik dari Elis,”


“Apa wanita itu mau jika tahu siapa aku sebenarnya?”


“Dan ini yang aku tidak suka dirimu. Kamu itu pesimis, harusnya kamu terus berjuang untuk kesembuhan kamu Ano, dengan rutin melakukan terapi, dan aku yakin kamu bisa,”


“Terima kasih Maria. Izinkan aku tidur di pangkuan mu,”


“Apa!”


 

__ADS_1


 


Bersambung...........


__ADS_2