
“Jangan berteriak,” ucap Juano yang mendekatkan wajahnya ke arah Maria yang tiba-tiba memejamkan matanya. “Apa kamu mengantuk? Kalau mengantuk tidur saja di kamar,”
Juano berkata sambil menjauhkan wajahnya saat dirinya sudah mengambil dalaman miliknya yang ada di lemari samping lemari Maria
Dan Maria yang tadi mengira Juano akan menciumnya langsung membuka matanya dengan perasaan malu.
Lalu Maria yang merasa canggung, kemudian mengambil salah satu gaun yang menurutnya sedikit tertutup beserta kain segi tiga dan pembungkus gunung kembarnya, lalu berjalan keluar dari ruangan tersebut dengan terburu buru menuju kamar mandi.
Senyum kebahagiaan terukir dari kedua sudut bibit Juano selepas kepergian Maria.
“Kamu akan kecanduan dengan bibir sexy ku ini istriku sayang, dan setelah itu kamu akan meminta tambah bila sedang... Ach aku sudah tidak sabar untuk menanti saat itu,” ujar Juano dengan tersenyum senang.
“Ya ampun baju apa ini, kenapa baju ini juga kehabisan bahan. Ya ampun mana Dina membeli baju di mana,” ucap Maria saat sudah mengenakan baju tersebut yang menurutnya lebih tertutup dari pada yang lainnya. Tapi tetap saja saat dirinya gunakan, gaun tersebut memperlihatkan paha mulus nya dan memperlihatkan belahan dadanya apa lagi gaun yang dirinya kenakan tidak memiliki lengan. Lalu Maria mengenakan jubah mandi kembali untuk menutupi pakaian yang di kenakannya dan keluar dari kamar mandi sambil menggerutu.
Juano yang sudah rapi dengan celana sebatas lutut dan juga kaos yang melekat di tubuhnya pakaian khas rumah, mengerutkan keningnya menatap Maria yang baru saja keluar dari kamar mandi.
“Kenapa–
“Jangan bertanya, aku tidak terbiasa mengenakan baju kurang bahan, biarkan aku menggunakan kemeja milikmu,” sambung Maria memotong perkataan Juano, lalu melangkahkan kakinya menuju ruang ganti, tapi Juano langsung menarik tangan Maria untuk mendekat ke arahnya.
Mata Juano dan Maria saling bertemu sesaat sebelum Maria memalingkan wajahnya.
__ADS_1
“Aku suamimu tataplah aku sebelum orang lain menatapku,”
Mendengar perkataan Juano Maria menyipitkan matanya menatap ke arah Juano.
“Aku tidak peduli,”
“Yakin?”
“Iya,”
“Ya sudah aku pergi,” ujar Juano sambil membalik tubuhnya, tapi tangannya langsung di tahan oleh Maria. Mengetahui itu Juano langsung tersenyum senang kemudian membalik tumbuhnya kembali menghadap ke arah Maria.
“Enak saja, sebelum pergi antarkan aku ke rumah sakit yang tadi, aku ingin tahu keponakan aku sudah lahir apa belum. Dan setelah itu kamu boleh pergi ke mana pun kamu ingin pergi, aku tidak akan melarangmu, lagi pula aku sudah memiliki semua harta milikku,”
“Iya juga, ya sudah kalau begitu aku tidak akan pergi,” ujar Juano sambil tersenyum ke arah Maria.
“Ish ada-ada saja, kalau begitu antarkan aku ke rumah sakit,”
“Tidak mau, kata Mario kamu tidak perlu kuatir, karena ketiga keponakan kamu sudah lahir dengan selamat begitu pun dengan kakak ipar kamu,”
“Oh iya, Terima kasih Tuhan akhirnya aku punya keponakan baru,” ucap Maria dengan antusias dan refleks memeluk tubuh Juano.
__ADS_1
Lalu Maria melepas pelukannya saat dirinya baru menyadari, kemudian membalik tumbuhnya, tapi tangannya langsung di cekal Juano, yang menariknya ke dalam pelukannya.
“Biarkan aku sejenak saja memelukmu, kamu tahu tidak, saat aku memelukmu seperti ini rasanya begitu nyaman,”
Mendengar perkataan Juano entah mengapa Maria tidak bisa menolaknya, saat dirinya juga merasa nyaman di dalam pelukannya, lalu Maria mengangkat kedua tangannya untuk balas memeluk Juano.
Setelah sekian menit Juano melepas pelukannya, lalu beralih meraup wajah Maria dengan kedua tangannya.
“I love you my wife,” ucap Juano sambil mencium kening Maria, dan Maria refleks mencium bibir Juano setelahnya.
Tanpa pikir panjang Juano yang tidak ingin menyia nyiakan kesempatan yang sudah di nantinya tersebut. Me lu mat bibir Maria dan memeluk tubuhnya, lalu mengarahkan ke arah tempat tidur.
Bersambung...................
__ADS_1