Terpaksa Menikahi Asisten

Terpaksa Menikahi Asisten
84 Membakar Lemak


__ADS_3

Adel yang melihat Merin untuk pertama kalinya dengan dekat saat Lery menuntun Merin menuruni tangga, langsung meneteskan air mata, saat dulu tidak pernah sekalipun Adel menemui Merin dan hanya melihat perkembangan Merin dari foto yang selalu Mario kirimkan.


Kemudian Adel berjalan mendekati Merin dan langsung mengsejajarkan  tubuhnya dengan Merin lalu memeluknya dengan erat, membuat Merin merasa bingung.


“Sayang maafkan mama, tapi asal Merin tahu mama selalu merindukan Merin meskipun mama jauh dari Merin,” ujar Adel yang sekarang meraup wajah Merin dan memberikan ciuman di seluruh wajahnya.


“Mama,” ucap Merin sambil memeluk Lery.


“Ada apa sayang?” tanya Lery sambil mengsejajarkan tubuhnya.


“Dia tiapa? Tenapa dia bilang mama, aku kan tuma punya dua mama. Aku tidak mahu punya mama lagi,” tanya Merin sambil menunjuk ke arah Adel.


“Mama boleh menceritakan sesuatu pada Merin?” tanya Lery membuat Merin langsung menganggukkan kepalanya.


“Merin di sekolah sudah di ajarkan oleh miss, kalau Merin lahir dari seorang ibu bukan?”


“Iya teyus,”


“Merin ingin tahu siapa yang melahirkan Merin?”


“Mama mayia,”


“Bukan sayang tapi...”


“Belalti telama ini papa, mama maiya, dan mama Leyi bohong pada aku?” tanya Merin memotong perkataan Lery.

__ADS_1


“Bukannya bohong sayang. Tapi mama, papa dan juga mama Maria ingin memberi tahu jika Merin sudah besar. Dan ini saatnya mama memberi tahu pada Merin karena Merin sudah besar, karena sudah memiliki adik...”


“Coco dan juga adik kembal yang ada di peyut mama,” sambung Merin memotong perkataan Lery. Dan Adel yang mendengar perkataan Merin langsung terlihat tidak senang.


“Pintar sekali anak mama yang satu ini,” ucap Lery sambil mencium pipi gembul Merin.


“Teyus siapa mama yang tudah melahilkan aku?”


“Dia, namanya mama Adel. Mama yang sudah melahirkan Merin,” jelas Lery sambil menunjuk Adel yang langsung tersenyum ke arah Merin yang sedang menatap dirinya.


“Tapi ma,”


“Kenapa sayang?” tanya Lery sambil membelai pipi Merin. “Mama Adel memang mama yang sudah melahirkan Merin. Tapi mama Lery yang akan selalu ada untuk Merin, mama pernah berjanji kan pada Merin kalau mama akan selalu bersama Merin,” ucap Lery sambil tersenyum dan Merin langsung memeluk erat tubuh Lery.


“Mama juga tidak akan mau jika anak mama satu ini pergi meninggalkan mama, karena Merin adalah segalanya untuk mama,” ujar Lery sambil melepas pelukan Merin dan beralih meraup wajah Merin. “Mama hanya ingin memberi tahu kebenaran kepada Merin kalau dia mama yang sudah melahirkan Merin,”


“Tapi aku tidak mahu sama dia aku mahu sama mama,” sambung Merin yang langsung mencium ke dua pipi Lery dan langsung pergi menuju kamarnya tanpa melihat ke arah Adel.


“Adel kamu sudah melihat sendiri bagaimana Merin, jadi...”


“Ini tidak bisa di biarkan karena kamu sudah meracuni otak anakku Lery,” sambung Adel dengan kesal memotong perkataan Lery.


“Mau ke mana kau,” ujar Mario sambil mencekal tangan Adel yang akan menuju ke arah tangga untuk menyusul Merin.


“Mario lepaskan tanganku. Merin anakku kalian sudah meracuni otak anakku,”

__ADS_1


“Tapi kamu dengar sendiri apa yang dikatakan oleh anakmu bukan? Dan sekarang saatnya kamu pergi dan jangan pernah menginjakkan kakimu lagi di rumah ini!” tegas Mario yang langsung menarik tangan Adel dengan paksa keluar dari dalam rumah. Lery pun langsung mengikuti dari belakang.


“Kalian jangan senang dulu. Merin anakku dan aku pastikan akan membawa Merin keluar dari rumah ini,” ujar Adel saat sudah terlepas dari tangan Mario.


“Jangan bermimpi!” tegas Mario kemudian memanggil panjaga gerbang untuk membawa Adel keluar dari kediamannya meskipun Adel terus memberontak.


Setelah kepergian Adel Mario langsung memeluk sang istri yang berada di sampingnya.


“Terima kasih sayang, ibu dari anak-anakku,” ujar Mario sambil melepas pelukannya beralih mencium kening sang istri dengan lembut.


“Untuk apa?”


“Semuanya yang tidak bisa aku sebutkan satu persatu,”


“Mario aku takut Adel akan...”


“Jangan bicara apa pun yang belum tentu akan terjadi,” sambung Mario memotong perkataan sang istri.


“Tapi...” ucapan Lery berhenti saat Mario menaruh jari telunjuknya di bibir sang istri kemudian Mario langsung mengangkat tubuh sang istri.


“Saatnya membakar lemak,” ujar Mario tersenyum sambil mengedipkan sebelah matanya untuk menggoda sang istri.


 


Bersambung..............

__ADS_1


__ADS_2