Terpaksa Menikahi Asisten

Terpaksa Menikahi Asisten
88 Hal Penting


__ADS_3

Seminggu berlalu Maria melakoni tugasnya sebagai rekan kerja Juano dengan baik, saat Mario mempercayakan proyek yang sedang di tanganinya kepada adiknya meskipun tidak sepenuhnya. Karena Mario juga selalu memantau proyek tersebut.


Hubungan Maria dan juga Juano pun hanya sebatas rekan kerja tidak ada yang spesial, karena Maria maupun Juano saling menjaga jarak. Hanya saat Maria mengunjungi mama Dina dan keduanya berpura pura sebagai pasangan sungguhan yang begitu romantis, dan itu membuat kesehatan mama Dina berangsur angsur membaik.


Seperti hari ini di mana akhir pekan yang biasa digunakan Maria untuk memanjakan diri tidur sepuasnya, setelah hampir setiap hari dirinya bekerja sampai larut malam karena Juano ingin menyelesaikan pekerjaannya di Indonesia sebelum kembali ke Singapura.


“Nona Maria,” ujar mbok Jum sambil menggoyang goyangkan bahu Maria yang masih tidur nyenyak di bawah selimut yang menutupi tubuhnya. Tapi tidak ada tanda-tanda Maria akan terbangun. Mbok Jum yang untuk ke sekian kalinya membangunkan Maria tapi Maria tidak juga bangun langsung membuat gorden jendela kamar Maria. Hingga cahaya matahari yang sudah naik ke atas langsung mengenai wajah Maria.


“Mbok aku masih mengantuk,” ujar Maria dengan suara parau khas bangun tidur sambil membalik tubuhnya saat merasakan silau di wajahnya.


“Nona yang bilang sendiri pada mbok. Kalau minta di bangunkan jam sembilan, apa nona lupa?”


“Tidak,” jawab Maria sambil menutup wajahnya dengan selimut.


“Kalau begitu nona bangunlah. Ini bukan jam sembilan lagi tapi jam sepuluh,”


“Apa!” teriak Maria yang langsung membuka selimut yang menutupi tubuhnya lalu beranjak dari tidurnya dan langsung menyambar ponsel yang berada di atas meja nakas yang berada di samping kanan tempat tidurnya. “Ya ampun ponselku mati pasti mama Dina... Oh tidak,” ujar Maria yang langsung turun dari tempat tidurnya dengan terburu buru menuju kamar mandi. Pasalnya hari ini dirinya sudah berjanji pada mama Dina untuk mengunjungi rumah mama Dina sebelum makan siang, saat perjalanan dari rumahnya menuju rumah mama Dina memakan waktu yang lama.

__ADS_1


*


*


*


Dan benar saja pukul dua, Maria baru saja sampai di rumah mama Dina dengan mengendarai mobilnya.


Senyum terukir dari kedua sudut bibir Maria ketika baru turun dari mobil yang di kendarainya, saat melihat mama Dina berada di depan teras rumahnya.


“Selamat siang mama. Maaf aku terlambat,” ujar Maria saat sudah menghampiri mama Dina kemudian bersalaman dan mencium punggung tangan mama Dina diakhiri dengan mencium ke dua pipi wanita paruh baya tersebut yang terus saja tersenyum.


“Iya ma sekali lagi maaf ya ma,” bohong Maria pasalnya bukan karena macet tapi karena bangun kesiangan. “Kenapa mama ada di luar?”


“Mama sedang menunggu kamu  sayang. Mama kira kamu bersama dengan Ano,”


“Tidak ma. Apa Ano tidak memberi tahu mama kalau hari ini dia akan kembali ke Singapura?”

__ADS_1


“Sudah sayang. Mama kira dia ingin menemui mama dulu, tapi...”


“Tapi apa ma? Kan ada aku di sini. Ano sedang banyak pekerjaan ma,” sambung Maria memotong perkataan mama Dina agar mama Dina tidak kecewa dengan Ano.


“Terima kasih sayang. Mama sangat merindukanmu sayang,”


“Oh ya, padahal kita hampir setiap hari bertemu,” ujar Maria pasalnya hampir setiap hari Maria selalu mengunjungi mama Dina bersama dengan Ano setelah pekerjaannya selesai.


“Entah lah mama begitu bahagia saat bersamamu sayang,”


“Aku juga ma,” ujar Maria sambil memeluk mama Dina.


“Oh ya sayang apa kamu sudah makan siang?” tanya mama Dina setelah Maria melepas pelukannya dan Maria langsung menggeleng karena memang dirinya belum makan siang.


“Baiklah ayo kita makan siang terlebih dahulu. Mama sudah memasak makanan yang spesial khusus untukmu, dan setelah makan siang ada hal penting yang ingin mama sampaikan padamu,”


“Hal penting apa ma, aku jadi kepo,”

__ADS_1


“Nanti saja sayang,” sambung mama Dina sambil memeluk pinggang Maria dan masuk ke dalam rumah.


Bersambung.....................


__ADS_2