
Juano yang sedang di peluk erat oleh Maria begitu terkejut saat pintu kamarnya di buka dengan kencang oleh seseorang. Dan tatapan Juano langsung tertuju ke arah pintu, dan dirinya begitu terkejut saat menatap seseorang yang sedang berada di depan pintu, dan menatap ke arahnya.
Juano langsung melepas pelukan Maria dan turun dari tempat tidur, tapi tidak dengan Maria yang masih tertidur pulas meskipun pintu kamar Juano di buka dengan kencang oleh sang kakak, yang sengaja datang ke apartemen Juano, ketika mengetahui Maria bermalam di apartemennya.
Plak
Mario menampar pipi Juano dengan kencang saat dirinya menghampiri Juano.
“Apa ini! Aku kira kamu pria yang baik, Tuan Juano Franshola. Tapi aku salah, kamu sama saja dengan pria brengsek di luar sana!”
“Ini tidak seperti apa yang kamu pikirkan Mario, aku dan juga Maria–
Bugh
Mario meninju perut Juano dengan kencang, dan Juano langsung memegangi perutnya sambil meringis kesakitan.
“Kamu tidak bisa mengelak, aku melihat dengan mata kepalaku sendiri jika kalian berada di tempat tidur yang sama dan sedang berpelukan,”
“Tapi kita tidak melakukan apa pun, percaya padaku,”
“Apa aku harus percaya padamu. Tidak!”
__ADS_1
“Aku bersumpah tidak melakukan apa pun pada Maria,”
“Oh Iya. Pria dan wanita di tempat tidur yang sama tidak melakukan apa pun, aku tidak akan pernah percaya pada apa yang kamu katakan. Kecuali kamu itu punya kelainan!” kesal Mario dan menyingkirkan tubuh Juano yang ada di depannya.
Kemudian Mario mengambil gelas berisi air yang selalu ada di meja nakas samping tempat tidur Juano, dan ingin menyiram muka Maria yang masih tertidur pulas sebelum Juano menghalanginya.
“Biarkan dia tidur,”
“Siapa kamu melarangku. Minggir.” Mario mendorong tubuh Juano kemudian menarik tangan Maria, tapi Maria masih belum juga terbangun dari tidurnya. “Maria!!!!!”
“Berisik sekali, aku masih mengantuk mbok. Mbok Jum bangunkan aku satu jam lagi,” ucap Maria dengan suara parau dengan mata yang masih terpejam sambil memeluk guling yang berada di sampingnya.
“Maria!!!!!!!” teriak Mario lagi sambil menarik tangan Maria.
“Pagi kamu bilang. Ini sudah siang bolong,”
“Jangan mengada ada,”
Prang
Mario membanting gelas yang masih berada di tangannya dengan kencang, hingga gelas tersebut pecah berkeping keping.
__ADS_1
“Iya aku bangun. Tapi ingat, kamu harus mengganti gelas yang baru saja kamu banting dengan sepuluh kali lipat,” ucap Maria sambil membuka matanya meskipun dengan enggan kemudian menguap.
Maria yang sudah membuka matanya dengan sempurna, langsung mengerutkan keningnya.
“Mario, Juano,” ucap Maria bergantian sambil menatap ke dua pria yang berada di hadapannya, dan Maria langsung menyadari dirinya masih berada di apartemen Juano. Kemudian Maria menatap ke arah tubuhnya yang masih mengenakan jubah mandi, dan Maria menarik selimut yang berada di dekatnya untuk menutupi tubuhnya.
“Turun!” teriak Mario sambil menarik tangan Maria dengan kasar dan Juano langsung menahan tubuh Maria saat Maria akan terjatuh ke lantai.
“Jangan berbuat kasar seperti ini, aku bisa menjelaskan semuanya. Kamu salah paham. Aku dan juga Maria tidak melakukan apa pun, seperti apa yang kamu pikirkan. Aku bersumpah,” ujar Juano sambil melepas tangan Mario yang masih memegang erat tangan Maria.
“Benar Mario aku dan juga Ano tidak melakukan apa pun,”
“Dan ini salahku karena menyuruh Maria untuk menginap. Jadi jangan marahi Maria dia tidak bersalah,” sambung Juano tapi tidak dihiraukan oleh Mario yang langsung menarik tangan Maria.
“Apa aku mengajarimu untuk menjadi wanita ja lang Maria? Tidak! Aku sungguh kecewa padamu,”
“Apa kamu menganggapku ja lang Mario?” tanya Maria sambil melepas tangan Mario. “Oke, aku kabulkan permintaanmu,” ujar Maria dengan air mata yang sudah siap meluncur, saat hatinya begitu sakit mendengar apa yang Mario katanya, kemudian Maria berlari menuju pintu di susul oleh Juano.
Bugh
Maria menghentikan langkahnya saat dirinya menabrak seseorang yang akan masuk ke dalam kamar Juano.
__ADS_1
Bersambung...................