
Juano dengan cekatan mengambil bahan-bahan yang Maria butuhkan, saat Juano menawarkan diri untuk membantu Maria memasak.
“Ano, ambilkan keju di kulkas, sepertinya kejunya kurang,”
“Siap Mom,”
“Aku bukan Mom kamu,”
“Bukan tapi akan menjadi Mom untuk anak-anakku nanti,”
“Sudah jangan banyak bicara, ambilkan kejunya, pastanya sebentar lagi matang!” perintah Lery dan dengan segera Juano menuju kulkas dan mengambil keju sesuai perintah Maria.
“Ini Mom, eh tapi nanti dulu, tebak dulu pertanyaanku,”
“Sudah jangan bercanda,” ujar Maria dan ingin mengambil keju yang berada di tangan Juano sebelum di jauhkan oleh Juano. “Ano!”
“Jawab dulu tebakanku,”
“Iya sudah buruan!”
“Oke, keju apa yang membuat hubungan menjadi nyaman?”
“Kejujuran,”
“Ko kamu tahu?”
“Anak kecil juga tahu, sudah jangan bercanda, tebakanmu garing, mana sini kejunya?”
“Nih,” ujar Juano dan memberikan keju pada Maria. “Kamu tidak asik, harusnya kamu bilang tidak tahu begitu,”
“Sudahlah, ayo kita makan, jangan membahas hal tidak penting,”
Maria dan juga Juano menikmati makan siang tanpa ada satu pun yang berbicara, hanya sesekali keduanya saling pandang, hingga makanan di hadapannya sudah tandas berpindah ke perut.
“Masakan kamu sungguh nikmat, dan aku ingin setelah kamu menjadi istriku, aku hanya ingin makan makanan yang kamu masak,”
__ADS_1
“Enak saja, aku calon istrimu, bukan calon asisten rumah tanggamu,” sambung Maria sambil membereskan meja makan.
“Baiklah, aku tidak memaksa. Tapi kalau aku mati kelaparan karena istriku tidak ingin memasak untukku bagaimana?”
“Sempit sekali pikiran kamu, kalau istri tidak memasak kan ada asisten rumah tangga yang bisa memasak,”
“Aku hanya ingin makanan yang di masak oleh tanganmu ini,” ujar Juano sambil meraih tangan Maria yang kebetulan sedang membereskan piring yang ada di hadapan Juano.
“Jangan lebay,”
Maria berkata sambil menatap Juano, lalu Maria terkekeh saat melihat di bibir Juano terdapat saus pasta, kemudian Maria mengambil tisu yang tidak jauh dari tempatnya kemudian menggelap bibir Juano.
Juano memegang tangan Maria, dan tatapan keduanya saling bertemu. Lalu Juano memegang dagu Maria, saat Maria memalingkan wajahnya.
“Jangan pernah berpaling dariku, karena hanya kamu pusat duniaku,”
“Pret,” sambung Maria kemudian Menampik tangan Juano.
“Kenapa kamu susah sekali di rayu sih?”
“Karena aku bukan tipe wanita yang suka di rayu, dan kamu itu tidak pantas merayu, sudahlah aku ingin membereskan meja,”
“Apa lagi?” tanya Maria yang sedang sibuk membereskan meja makan.
“Kamu ingin mahar apa untuk mas kawin?”
“Semua harta milikmu,” celetuk Maria dan langsung menuju ke arah dapur untuk menaruh piring di ikuti Juano dari belakang.
“Oke, aku kabulkan,”
“Bagus, kenapa kamu mengikutiku?”
“Aku ingin pulang,”
“Ya sudah sana pulang, pintu keluar bukan disini,”
__ADS_1
“Aku ingin meminta sesuatu padamu,”
“Apa?” tanya Maria dan Juano langsung menunjuk sebelah sudut pipinya.
“Tidak mau, sudah sana pulang,”
“Sekali saja,”
“Oke-oke,” ucap Maria dan ingin mencium pipi Juano, tapi Juano lebih dulu mencium bibir Maria, dan Maria pun tidak menolak seakan menikmati sentuhan kenyal bibir Juano yang sekarang dengan perlahan mulai me lu matnya hingga sepersekian menit Maria yang mulai susah bernafas langsung melepas tautan bibirnya.
“Terima kasih, aku pulang,” ujar Juano dengan begitu bahagia kemudian keluar dari rumah Maria.
Setelah kepergian Juano Maria memegang dadanya sendiri saat merasakan debaran yang berbeda.
“Kenapa aku menyukai ciumannya,”
*
*
*
Hari pernikahan Juano dan Maria pun tiba, semua kerabat dan juga para tamu undangan begitu antusias menghadiri acara pernikahan Maria dan juga Juano yang di adakan di taman Safari.
Juano yang sedang menunggu Maria saat penghulu sudah hadir, begitu kuatir saat ponsel Maria tidak bisa di hubungi, lima menit, dua puluh menit, tiga puluh menit tapi Maria belum juga kelihatan batang hidungnya.
Hingga terdengar ponsel miliknya berdering, dan segera Juano mengangkatnya.
“Halo, Apa!” teriak Juano dan keringat dingin langsung keluar dari pori porinya. Mama dina yang tahu putranya sedang tidak baik-baik saja langsung mendekatinya.
“Sayang, ada apa?”
“Maria Ma,”
“Ada apa dengan Maria?”
__ADS_1
Bersambung.................