Terpaksa Menikahi Asisten

Terpaksa Menikahi Asisten
75 Hanya Saja


__ADS_3

Maria yang baru keluar dari lift di lantai satu perusahaan sang kakak ipar, langsung mengikuti Mario dari belakang menuju ruang rapat yang memang terdapat di lantai satu perusahaan tersebut dengan terburu buru, pasalnya klien baru Mario sudah tiba di ruang rapat meskipun jadwal rapat akan di adakan setengah jam lagi, dan klien baru tersebut meminta agar rapat di majukan.


“Siapa dia sebenarnya Mario? Bisa bisanya kamu mengikuti dia agar rapat di majukan,” tanya Maria penasaran pasalnya selama ini Mario tidak pernah memajukan jadwal rapat meskipun klien nya sudah datang terlebih dahulu.


“Mata kamu buta?”


“Bukan tapi pi cek,” jawab Maria kesal.


“Sama saja itu bodoh, apa kamu tidak lihat siapa dia?”


“Tidak, bertemu juga belum,” jawab Maria lagi membuat Mario langsung menghentikan langkahnya dan menoyor kepala sang adik. “Kenapa? Benar apa yang aku katakan bukan, kalau aku belum pernah melihatnya,”


“Ya ampun Maria. Bukan itu maksudnya, aku apa kamu tidak melihat nama yang ada di proposal ini,” ucap Mario sambil menunjuk map yang berada di tangan Maria.


“Oh bilang kek dari tadi,”


“Aku juga sudah bilang dadi tadi Maria!”


“He he he maaf,” sambung Maria sambil tersenyum kemudian berjalan kembali mengikuti sang kakak sambil membuka map yang berada di tanyanya.


“Juano Franshola dua puluh tujuh tahun pemilik tunggal hotel Loha,” ujar Maria ketika membaca isi map tersebut saat tadi sebelum menyiapkannya dirinya tidak memperhatikan isi proposal tersebut. “Wow masih muda sudah tajir melimpir. Sudah punya istri belum ya,” ujar Maria lagi dan membaca proposal tersebut untuk melihat identitasnya dengan lengkap. “Lajang, asyik siapa tahu nyangkut. Lumayan kaya mendadak dan menjadi nona besar,”

__ADS_1


“Jangan mimpi. Mana mau dia dengan dirimu. Dia bisa mencari wanita yang lebih darimu hanya dengan memainkan jarinya,” sambung Mario yang mendengar perkataan sang adik sambil menoyor kepalanya.


“Memainkan jarinya gimana maksudnya Mario,”


“Maria! Bukan saatnya bercanda!”


“Iya iya,” sambung Maria yang langsung masuk ke dalam ruang rapat mengikuti sang kakak.


“Selamat siang,” sapa salah satu pria yang beranjak dari duduknya tapi tidak dengan satu pria lagi yang sedang serius dengan layar laptop di hadapannya.


“Selamat siang maaf terlambat,” ujar Mario yang langsung menuju kursi miliknya. Maria pun juga ikut duduk di samping Mario dan langsung membuka map yang dirinya bawa dan memberikannya pada Mario tanpa melihat pria yang duduk tepat di hadapannya.


“Aku tidak suka berbasa basi. Aku sudah mempelajari email yang anda kirimkan kemarin. Dan aku tertarik menjalin kerja sama dengan proyek baru Anda dan tuan Licon. Dan mana proposal yang harus aku tanda tangani,” ujar Juano Franshola membuat Maria langsung mengangkat kedua alisnya mendengar perkataan orang tersebut karena dirinya pernah mendengar suara yang sama dengan yang dirinya dengar sekarang.


“Maaf nona namaku Juano Franshola, dan biasa di panggil Ano,” ucap Juano sambil mengulurkan tangannya ke arah Maria.


“Maria,” sambung Maria bingung, pasalnya pria yang berada di depannya sekarang begitu tegas dan berbeda seratus delapan puluh derajat dengan prilakunya tadi malam.


“Maria apa kamu mengenalnya?” tanya Mario penasaran.


“Tidak, saya tidak mengenal perempuan matre seperti dia. Mana yang harus aku tanda tangani. Jangan membuang waktuku yang berharga,” Ujar Juano dan Mario langsung memberikan proposal yang harus di tanda tangani oleh Juano.

__ADS_1


“Cih sok cool dasar sad boy. Kamu sendiri yang membuang buang waktu dengan menangisi seorang wanita,” gerutu Maria membuat Mario dan juga Juano yang mendengar perkataannya langsung menatap ke arah Maria.


“Apa yang kamu katakan Maria! Dia tamu penting,” bisik Mario di telinga sang adik tapi Maria langsung mengangkat kedua bahunya.


“Beginilah salah satu ciri-ciri perempuan matre. Aku sudah tidak asing lagi pasti bosnya di rayu juga,” gumam Juano dalam hati saat melihat Mario membisikkan sesuatu di telinga Maria yang menurutnya begitu dekat. Kemudian Juano berdiri dari duduknya dan berpamitan setelah menandatangani proposal tersebut.


“Maria apa kamu mengenal dia?” tanya Mario penasaran setelah kepergian Juano.


“Tidak,”


“Tapi kamu tadi bilang sad boy,”


“Oh ya masa sih,”


“Maria! Jangan bercanda!”


“Aku tidak bercanda. Hanya saja...”


“Hanya saja apa Maria?” tanya Mario penasaran saat Maria menghentikan perkataannya.


Bersambung..................

__ADS_1


Ini aku berikan visual Juano Franshola



__ADS_2