
Sebulan setelah kepulangan Mario dari rumah sakit. Mario dan juga Lery menjalani rumah tangga tanpa suatu halangan karena rumah tangganya begitu harmonis. Hingga siapa pun yang melihatnya pasti sangat iri.
Dan Mario juga sudah menjalani aktivitasnya seperti semula. Dan Lery pun juga menepati janjinya karena sekarang dirinya hanya menjadi seorang ibu rumah tangga sesungguhnya saat dirinya berhenti bekerja dan hanya fokus dengan Marco, Merin dan juga Mario yang melebihi dari seorang bayi. Meskipun tidak bekerja lagi Lery juga masih sering datang ke perusahaan, untuk mengantar bekal makan siang untuk sang suami. Tidak hanya itu Mario juga sering memaksa Lery datang sewaktu waktu, saat dirinya ingin bercocok tanam karena di rumah dirinya selalu mengalah dengan Merin dan juga Marco, yang selalu berada di samping Lery siang maupun malam. Hingga dirinya harus menahan untuk bercocok tanam.
Seperti pagi ini Mario terus cemberut ketika baru saja ke luar dari kamar mandi dan mendapati Merin dan juga Marco sudah menguasai tempat tidurnya. Padahal niatnya pagi ini dirinya ingin bercocok tanam saat semalam gagal total karena Lery begitu kelelahan saat mengurus Marco yang tiba-tiba dendam.
Brak
Mario langsung terkejut saat pintu kamarnya di buka dengan kencang. Dan Lery yang membuka pintu kamar tersebut langsung lari dengan terburu buru masuk ke dalam kamar mandi.
Uwek wek wek
Suara Lery dari dalam kamar mandi yang sedang memuntahkan isi perutnya, membuat Mario langsung menghampiri sang istri dan langsung memijit belakang leher sang istri yang masih terus memuntahkan isi perutnya.
“Sayang ada apa denganmu?” tanya Mario sambil menyelipkan rambut Lery yang berantakan ke belakang telinganya setelah Lery selesai memuntahkan isi perutnya.
“Entahlah tiba-tiba aku ingin muntah dan kepala aku sedikit pusing,”
“Aku tahu kenapa,”
__ADS_1
“Memangnya kenapa?” tanya Lery penasaran.
“Karena selama satu minggu aku belum memberi vitamin,”
“Satu minggu kamu bilang?” tanya Lery sambil menatap tajam ke arah Mario tahu apa yang Mario katakan. “Kamu baru menanam dua hari yang lalu Mario sayang,”
“Masa sih. Ah tidak mungkin tapi perasanku sudah seminggu,”
“ Au ah gelap,”
“Kan enak yang gelap-gelap sambil menanam,”
“Mario!”
“Mario ada anak-anak di dalam kamar,”
“Kita melakukan disini saja,”
“Nanti kalau Marco jatuh dari tempat tidur bagaimana?”
__ADS_1
“Tidak akan sayang. Tenang saja ada Merin yang menjaganya,”
“Merin juga masih...”
Ucapan Lery berhenti saat Mario me lu mat bibirnya dengan rakus sambil mengangkat tubuh Lery tapi dengan segera Lery langsung melepas tautan bibirnya dan turun dari gendongan Mario.
“Ada apa sayang?” tanya Mario tapi tidak di hiraukan oleh Lery yang sekarang sedang mengendus endus tubuh Marco kemudian Lery langsung menuju wastafel untuk memuntahkan isi perutnya kembali.
“Sayang sebenarnya ada apa denganmu?” tanya Mario sambil memijit belakang leher istrinya.
“Harusnya aku yang bertanya kamu sudah mandi apa belum?” tanya Lery setelah selesai memuntahkan isi perutnya sambil menutup hidungnya sendiri menatap ke arah Mario.
“Tentu saja aku sudah mandi,”
“Tapi kenapa kamu bau bangkai tikus?”
“Ya ampun kamu tega sekali sayang mengatakan itu padaku. Aku wangi begini di bilang bau bangkai,” ujar Mario sambil menciumi tubuhnya sendiri.
“Minggir,” ucap Lery sambil menyingkirkan tubuh Mario dan langsung keluar dari kamar mandi dengan terburu buru.
__ADS_1
“Ahhh udah di ubun-ubun malah di tinggal nasib-nasib mengkirut dah,” ucap Mario sambil mengacak acak rambutnya. “Jangan- jangan Lery,” ucap Mario lagi sambil tersenyum kemudian langsung keluar dari dalam kamar mandi dengan tersenyum senang.
Bersambung.............