
“Ano!”
“Maria!” teriak Juano dan juga mama Dina mama dari Juano bergantian saat tiba-tiba Maria pingsan dan jatuh ke lantai.
Juano langsung menepuk pipi Maria untuk membangunkannya, tapi tidak ada tanggapan dari Maria.
“Sayang ada apa dengan calon menantu mama?”
“Entah lah ma,” jawab Juano yang sekarang mengangkat tubuh Maria menuju ke salah satu kamar yang tak lain dan tak bukan adalah kamar Juano, di ikuti oleh mama Dina dari belakang yang masih duduk di atas kursi roda yang di dorong oleh perawatnya.
“Maria bangunlah ada apa denganmu?” tanya Juano sambil menepuk nepuk pipi Maria yang baru saja dirinya rebahkan di atas ranjang dengan ukuran king size miliknya.
“Ano. Jangan-jangan Maria...”
“Jangan berfikir yang bukan-bukan ma,” sambung Juano memotong perkataan mama Dina tahu apa yang akan di katakan oleh sang mama.
“Kalau dia hamil duluan juga tidak masalah sayang. Mama malah senang sekali berarti kamu...”
“Ma itu tidak mungkin, aku tidur dengannya saja belum, kita kan ba...” ucap Juano memotong perkataan mama Dina kemudian menghentikan ucapannya.
__ADS_1
“Kalian kenapa?” tanya mama Dina penasaran sambil menatap ke arah sang putra.
“Karena kita sudah berkomitmen ma. Tidak akan melakukan hal itu bila kita belum menikah,” bohong Juano untuk meyakinkan sang mama saat sebelumnya dirinya hampir saja Keceplosan.
“Bagus sayang. Mama bangga padamu. Tapi mama takut terjadi sesuatu pada Maria. Lebih baik kamu panggil dokter keluarga kita,”
“Baik ma,” sambung Juano sambil mengambil ponsel yang berada di kantong celananya untuk menghubungi dokter pribadi keluarganya.
Tidak butuh waktu lama dokter pribadi sampai di rumahnya. Lalu memeriksa keadaan Maria yang masih belum sadarkan diri. Membuat Juano hanya bisa mondar mandir di dalam kamarnya karena begitu cemas dengan keadaan Maria.
“Sayang berhentilah. Kamu membuat mama pusing,” ujar mama Dina sambil menarik tangan Juano untuk menghentikan langkahnya yang terus saja mondar mandir. “Mama tahu kamu sangat mencintainya, tapi kamu harus tenang. Maria sedang di periksa oleh dokter,”
“Bagaimana aku bisa tenang ma. Coba saja setelah dia sadar, pasti juga langsung meminta ganti rugi, lama-lama harta milikku ludes,” gumam Juano dalam hati sambil menatap Maria yang sudah membuka matanya. Kemudian Juano menghampiri dokter yang sudah seleksi memeriksa keadaan maria.
“Nona baik-baik saja hanya sedikit demam, di karenakan nona kelaparan. Sepertinya perut nona belum terisi makanan sama sekali,” jelas dokter tersebut membuat Juano langsung menepuk jidatnya.
“Siap-siap ganti rugi Ano. Ini juga karena salahmu kan?” gumam Juano dalam hati bertanya pada dirinya sendiri sambil menghembuskan nafasnya kasar.
“Untuk itu segera beri nona makan agar demamnya turun. Dan langsung berikan obat ini,” ujar dokter tersebut sambil memberikan obat di tangan Juano kemudian pergi dari kamar tersebut, setelah Juano mengucapkan terima kasih.
__ADS_1
“Ya ampun sayang. Apa anak mama tidak memberi kamu makan, sehingga kamu jatuh pingsan seperti ini?” tanya mama Dina sambil menggenggam tangan Maria saat mama Dina mendekat ke arah Maria.
“Tidak ma,” ucap singkat Maria sambil menatap kesal ke arah Juano yang berdiri tepat di samping mama Dina.
“Dasar anak nakal. Apa kamu sudah kehabisan uang?” tanya mama Dina sambil menarik tangan Juano.
“Bukan begitu maksudnya ma. Sebenarnya kita ingin makan siang bersama dengan mama begitu ma,”
“Ya ampun makan siang kamu bilang? Kamu sampai rumah saja sudah jam tiga Sore,” ujar mama Dina sambil menarik telinga Juano.
“Ma ampun lepaskan ma sakit!”
“Awas saja kalau sampai calon menantu mama kenapa napa nanti,”
“Tadi dokter bilang dia baik-baik saja ma. Mama tenang saja,”
“Dasar anak nakal,” ujar mama Dina sambil melepas tangannya yang masih menjewer telinga anaknya. Saat asisten rumah tangganya masuk ke dalam kamar sambil membawa nampan berisi makanan yang langsung di letakkan di meja nakas yang berada di samping kanan tempat tidurnya. “Mama tinggal dulu ke kamar mama ya sayang, biar Ano yang menemanimu disini, kalau kamu sudah baikkan nanti ke kamar mama ya sayang,” ujar mama Dina sambil menepuk punggung tangan Maria dan Maria pun langsung mengangguk sambil tersenyum.
Selepas kepergian sang mama, Juano langsung menatap ke arah Maria yang juga sedang menatapnya dengan tajam. Tapi naas bagi Juano saat dirinya akan mendekat ke arah Maria Juano tersandung kakinya sendiri.
__ADS_1
Bersambung........................