Terpaksa Menikahi Asisten

Terpaksa Menikahi Asisten
133 Nikmati Prosesnya


__ADS_3

Setengah jam kemudian mobil yang Anton kendarai tiba di rumah sakit terdekat di kota tersebut.


Mario yang sudah terlebih dahulu berada di rumah sakit, lalu berjalan menghampiri mobil di ikuti para perawat yang sudah siap dengan brankar.


Bukannya langsung mengangkat tubuh sang istri, Mario malah tertawa terbahak bahak melihat penampilan Juano dengan rambut acak acakan dan pakaian yang di kenakannya tidak lagi rapi seperti tadi.


“Jangan menertawakan aku kakak ipar, ini semua ulah istrimu, dan ini tidak gratis,” ujar Juano yang sudah terlebih dahulu turun dari mobil.


“Bisa saja, kamu sudah memiliki segalanya adik ipar, dan ini sekalian melatih dirimu agar saat nanti istri kamu melahirkan kamu sudah tidak kaget lagi,”


“Benar juga apa yang kamu katakan kakak ipar,” Juano yang tadi terlihat kesal sekarang tersenyum bahagia. Lalu meraih tangan Maria yang ingin ikut ke dalam rumah sakit mengikuti Mario dan juga Lery yang sudah di dorong menggunakan brankar.


“Ano lepaskan tanganku,”


“Tidak bisa, memangnya kamu mau ke mana?”


“Jelas saja ingin menunggu keponakan aku lahir,”


“Dengan pakaian seperti ini?”


Mendengar perkataan Juano, Maria menatap dirinya dan juga menatap Juano bergantian. Lalu melihat ke sekeliling, banyak pasang mata yang menatap dirinya dan juga Juano dengan aneh. Kemudian Maria membalik tubuhnya dan kembali masuk ke dalam mobil.

__ADS_1


“Dan saatnya unboxing, menanam benih terong grade A,” ujar Juano lalu masuk ke dalam mobil dengan tersenyum penuh kebahagiaan.


*


*


*


Mario terus memeluk tubuh sang istri saat Lery sudah berada di ruang persalinan, dan terus mengarahkan sang istri untuk lebih tenang dengan cara mengambil nafas melalui hidung dan mengeluarkan lewat mulut.


Dan Mario tetap tenang saat Lery mencengkeram lengannya ketika mengalami kontraksi yang jaraknya lebih cepat, saat dokter kandungan mengatakan jalan lahirnya sudah pembukaan sembilan.


“Mario,”


“Aku takut,”


“Kenapa sayang?”


“Usia kandunganku baru memasuki tujuh bulan tapi–


“Tapi kenapa? Wajar bagi ibu hamil yang mengandung anak kembar sepertimu melahirkan lebih dini, sayang, tadi dokter sudah menjelaskan bukan, jadi tetap lah tenang oke,” Mario menenangkan sang istri lalu meraup wajahnya dan memberikan ciuman di seluruh wajahnya.

__ADS_1


“Mario, sakit,”


“Aku tahu sayang, dan nikmati prosesnya, aku akan selalu berada di sampingmu, hingga baby boy kita melihat dunia ini,” ujar Mario dan membiarkan sang istri yang sedang mengalami kontraksi kembali mencengkeramnya.


Alat-alat persalinan sudah di sediakan dan dokter sudah siap melakukan persalinan saat pembukaan sudah lengkap.


Lery terus memeluk Mario, dan Mario yang sudah pernah menemani Lery menghadapi persalinannya sudah tahu hal itu, dokter terus memberikan arahan pada Lery dan Mario pun juga membantu arahan yang dokter berikan kepada sang istri untuk mengejan hingga suara tangisan bayi pertama memenuhi ruangan, dan kebahagiaan terus terpancar dari wajah Mario yang terus memberikan arahan kepada sang istri atas perintah dokter, saat kepala bagi yang kedua sudah mulai terlihat.


Dan benar saja hanya berselang lima menit tangisan bayi yang kedua kembali memenuhi ruangan tersebut.


“Sayang apa kamu masih kuat?” Mario bertanya pada Lery yang hanya bisa menangis penuh kebahagiaan saat dirinya sudah merasakan letih yang luar biasa dan tenaganya sudah terkuras, di akhiri dengan menganggukkan kepalanya.


“Demi buah hati kita aku kuat sayang,” ucapan itu akhirnya lolos dari bibir Lery dan kembali mengikuti arahan dokter.


Butuh waktu yang cukup lama untuk bayi ketiga melihat dunia, saat tenaga Lery benar-benar habis terkuras.


Saat tangisan bayi ketiga, Mario yang menemani persalinan sang istri dan melihat begitu menakjubkannya keajaiban Tuhan langsung lemas dan menjatuhkan lututnya di lantai dan tidak terasa tangisan penuh bahagia juga memenuhi ruang persalinan tersebut.


Mario segera berdiri dari tempatnya sambil menghapus air mata kebagian, lalu menatap sang istri sambil mengerutkan dahinya.


“Sayang, sayang, Lery. Dokter!!!!!!!”

__ADS_1


Bersambung.................


__ADS_2