Terpaksa Menikahi Asisten

Terpaksa Menikahi Asisten
105 Presiden


__ADS_3

Kemudian Juano dengan terburu buru melepas bibirnya dari bibir Maria dan melepas pelukan Maria, kemudian pergi dari kamar Maria sambil menahan rasa yang begitu menyiksa bagi dirinya.


“Tuan ada apa?” tanya mbok Jum saat berpapasan dengan Juano tepat di depan pintu kamar Maria.


“Kamar mandi ada di mana mbok?”


“Di dalam kamar nona ada,”


“Yang lainnya?”


“Di samping dapur,”


“Terima kasih mbok,” ujar Juano yang langsung menuju ke arah dapur.


Kemudian Juano menghentikan langkahnya saat akan masuk ke dalam kamar mandi.


“Ini tidak benar, aku tidak ingin membuang bibitku percuma untuk yang pertama kalinya, siapa tahu nanti bibitku akan jadi presiden,” gumam Juano sambil membalik badannya menuju ke luar rumah dengan perasaan yang sungguh menyiksanya.


Mbok Jum yang melihat kelakuan aneh Juano langsung menggelengkan kepalanya kemudian menuju pintu untuk menguncinya.


“Tuan. Ada apa dengan tuan? Tuan baik-baik saja?” tanya Anton saat melihat Juano berkeringat yang memenuhi seluruh wajahnya tapi tidak di hiraukan oleh Juano yang langsung menuju jok belakang dan menidurkan tubuhnya dengan tengkurap. “Tu–


“Diam dan jalankan mobilnya!”


“Baik Tuan,”


*


*


*


Pagi harinya Maria yang sudah siap dengan pakaian kerjanya dan sedang menyantap sarapannya langsung berdecak kesal, saat pagi-pagi sudah ada yang mengetuk pintu rumahnya.

__ADS_1


Dengan malas Maria menaruh sendok yang berada di tangannya ke atas piring, lalu beranjak dari duduknya menuju ke arah pintu untuk membukanya, saat mbok Jum sedang berada di kamar mandi.


“Assalamu’alaikum selamat pagi,” sapa seseorang saat Maria sudah membuka pintu rumahnya.


Maria langsung menjawab salam dan begitu terkejut, mengetahui siapa yang datang pagi-pagi ke rumahnya.


“Tuan–


“Aku sudah pernah bilang padamu, jangan panggil Tuan. Panggil saja namaku,” pinta Oza memotong perkataan Maria, di akhiri dengan senyum manis yang membuat Maria langsung lumer bagaikan es krim yang terkena sinar matahari.


Dan senyum terus mengembang dari kedua sudut bibir Maria, tanpa sedikit pun berpaling, saat masih mengagumi pria yang berada di hadapannya.


“Maria,”


“Eh iya Tuan,”


“Tuh kan masih saja–


“Terima kasih,” ujar Oza yang langsung masuk ke dalam rumah Maria, untuk pertama kalinya.


“Kamu tahu rumahku dari mana?”


“Tidak penting. Oh iya bau apa ini? Nasi goreng kan?”


“Kenapa kamu bisa tahu?”


“Karena mommy suka membuatkan sarapan nasi goreng untukku,”


“Oh begitu. Kamu sudah sarapan belum?” tanya Maria dan Oza langsung menggelengkan kepalanya. “Baiklah Mari kita sarapan bersama."


Oza dan Maria yang sedang menikmati sarapan sesekali mencuri pandang, dan keduanya saling melempar senyum saat tatapan keduanya bertemu.


Jantung Maria pun berdetak tidak beraturan, saat mengetahui Oza pria yang dirinya suka meskipun dalam diam duduk tepat di hadapannya, wangi parfum yang selalu Oza kenakan dulu ketika Oza Masih bekerja di mana Maria bekerja, sebelum Oza pindah ke London memenuhi rongga hidungnya.

__ADS_1


Dan itu wangi yang selalu Maria rindukan, wangi yang begitu menenangkan yang di gunakan oleh Oza pria baik hati dan juga hangat yang sudah mencuri hatinya.


“Nasi goreng ini sungguh enak, tidak kalah enak dengan buatan mommy,” ujar Oza setelah selesai menyantap sarapannya.


“Tentu saja semua makanan yang di masak oleh mbok Jum pastilah enak. Oh ya oza, kamu kapan tiba di Indonesia?”


“Kemarin,”


“Apa ada pekerjaan yang mendadak?”


“Tidak. Aku hanya ingin mengunjungi keponakan aku bersama mommy,” jelas Oza sambil tersenyum ke arah Maria yang sedang menatapnya.


“Terus pagi-pagi kamu datang ke sini untuk apa?”


“Menjemputmu, karena hari ini aku akan menggantikan pekerjaan kakak kamu dan juga kakak iparku,”


“Maksud kamu–


“Untuk beberapa hari selama aku berada di Indonesia aku akan menggantikan pekerjaan Mario,” jelas Oza.


“Kenapa dia tidak bilang padaku,”


Oza yang mendengar perkataan Maria langsung mengangkat kedua bahunya sambil tersenyum ke pada Maria.


“Kamu mau minum apa? Kopi teh atau–


“Kopi saja,” sambung seseorang yang baru masukan menghampiri Maria dan memotong perkataan Maria.


“Ano?”


 


Bersambung................

__ADS_1


__ADS_2