
Mario yang sudah masuk ke dalam mobilnya langsung menatap sang adik yang sudah menggunakan pakaian baru yang di belikan oleh Anton asisten pribadi Juano atas perintah mama Dina.
“Maria, kamu belum menjawab pertanyaan ku, apa kamu benar akan menikah dengan Ano? Apa kamu tidak berpikir dulu sebelum mengambil keputusan, Ano loyo loh,”
“Memangnya kenapa kalau loyo. Kan loyonya tidak permanen dan bisa sembuh,”
“Yakin tidak ada alasan lain? Aku tahu siapa kamu Maria. Kalau hanya tentang uang aku bisa memberikan seberapa pun yang kamu minta. Tapi jangan mempermainkan perasaan pria,”
“Kenapa kamu berkata seperti itu. Aku memang mata duitan tapi aku tidak ingin mempermainkan perasaan seseorang, dan aku sungguh-sungguh mencintai Ano,” bohong Maria sambil tersenyum untuk meyakinkan sang kakak.
“Baiklah, kalau itu keputusan kamu. Toh kamu juga yang akan menjalani rumah tangga. Aku sebagai kakak yang baik akan selalu mendoakan kebahagiaanmu,”
“Terima kasih. Oh iya mana kado untukku?”
“Tidak ada,”
“Ish dasar pelit,”
“Sebentar lagi kamu akan menjadi nona Franshola, apa pun yang kamu mau, kamu bisa membelinya,”
“Tapi kan beda,”
“Sama saja, oh iya ngomong-ngomong kamu sudah berapa lama menjalin hubungan dengan Ano?”
__ADS_1
“Satu minggu,” dan Maria yang keceplosan langsung menutup mulutnya saat Mario menatapnya dengan aneh.
“Satu minggu?”
“Ya ampun, maksudku satu tahun yang lalu, kamu tahu kan satu tahun lalu aku bersama dengan teman-teman berlibur ke Singapura, dan di sana aku bertemu dengan Ano, dan kita menjalin hubungan jarak jauh,” bohong Maria untuk meyakinkan Mario.
Mario pun langsung percaya, karena memang satu tahun yang lalu Maria berlibur ke Singapura. Kemudian Mario mengambil ponsel miliknya yang tersimpan di kantong celananya, saat ada seseorang yang menghubunginya.
“Apa!” Mario yang sudah mengangkat ponsel miliknya langsung terkejut, dan menutup ponselnya.
“Ada apa?” tanya Maria penasaran tapi tidak di hiraukan oleh Mario yang langsung menginjak pedal gas mobilnya.
*
*
*
“Jangan-jangan ini perbuatan Adel,”
“Sudah pasti. Dan aku tidak akan pernah memberi ampun padanya,” ujar Mario dan langsung masuk ke dalam ruang perawatan sang istri.
Mario yang sudah berada di dalam ruang perawatan Lery, langsung menghampiri ranjang di mana istrinya sedang terbaring dengan selang infus yang sudah menempel di lengan kiri sang istri.
__ADS_1
“Sayang, kamu baik-baik saja?” tanya Mario ambil meraup wajah sang istri, yang langsung menganggukkan kepadanya. “Bagaimana dengan si–
“Anak kita baik-baik saja sayang, hanya saja Merin–
“Ada apa dengan Merin. Dia di rawat di mana? Kenapa tidak satu ruangan denganmu,” ujar Mario memotong perkataan sang istri.
“Apa pak sopir tidak memberi tahumu?”
“Tidak. Ada apa sayang?”
“Maaf aku tidak menjaga Merin dengan baik. Dan Adel tadi membawa Merin dengan paksa,” jelas Lery saat Adel menabrak mobilnya dari belakang, dan saat dirinya mempertahankan Merin, Adel langsung mendorong tubuhnya hingga dirinya jatuh terluka untung kandungannya baik-baik saja, dan anak buah Adel langsung membawa Merin dengan paksa.
“Sial,” ucap kesal Mario sambil mengepalkan tangannya kemudian keluar dari ruang perawatan Lery, setelah mencium kening sang istri dan berpamitan untuk mengambil Merin.
“Kakak ipar baik-baik saja?” tanya Maria setelah kepergian Mario.
“Aku baik Maria. Tapi Merin, aku takut Adel melakukan sesuatu pada Merin,”
“Tenang saja kak. Mario pasti bisa membawa Merin kembali,”
“Mudah mudahan."
Bersambung..............
__ADS_1