Terpaksa Menikahi Asisten

Terpaksa Menikahi Asisten
78 Kesebelasan


__ADS_3

Mario terus menggenggam tangan Sang istri yang sudah berada di rumah sakit, dan sedang menjalani pemeriksaan dari dokter kandungan sang istri, saat dirinya memutuskan untuk membawa Lery ke rumah sakit.


“Dok bagaimana keadaan istri saya?” tanya Mario penasaran saat dokter tersebut telah selesai memeriksa keadaan Lery.


“Syukurlah nona baik-baik saja,”


“Tapi kenapa istri saya mengeluh sakit di bagian perutnya dok?”


“Itu karena nona makan makanan yang sebelumnya tidak pernah di makan,”


“Tapi tadi istriku terjatuh dok. Anak kita baik-baik saja kan dok?”


“Syukurlah mereka baik-baik saja. Karena kandungan nona sangat lah kuat,” jelas dokter tersebut membuat Lery dan juga Mario langsung saling pandang mendengar perkataan dokter tersebut.


“Mereka dok?” tanya Mario dan juga Lery bersamaan.


“Iya nona, tuan. Setelah tadi aku melakukan USG, ternyata kantung bayi yang berada di dalam rahim nona ada tiga. Dan ketiganya berkembang dengan baik. Dan saya pastikan nona dan tuan akan memiliki bayi kembar tiga,” jelas dokter tersebut ketika baru kali ini dirinya melakukan USG, saat sebelumnya setiap Lery melakukan pemeriksaan Lery enggan melakukan USG sebelum usia kandungannya memasuki usia empat bulan.


“Ya tuhan kurang tujuh lagi biar jadi kesebelasan,” ujar Mario yang langsung menciumi seluruh wajah sang istri yang sedang terbaring di ranjang pemeriksaan.


“Tujuh, enak saja kalau berbicara. Memangnya melahirkan tinggal di muntahin,” ucap kesal Lery sambil mendorong wajah  Mario yang terus saja menciuminya.


“Tapi meskipun kandungan nona kuat. Nona harus tetap beristirahat total dan jangan melakukan aktifitas yang melelahkan, karena begitu rentan bagi wanita hamil kembar seperti nona ini,” sambung dokter tersebut sambil tersenyum.


“Tapi kalau yang melelahkannya enak bagaimana dok?” tanya Mario pada dokter pria yang menjadi dokter kandungan sang istri.


“Boleh tapi harus di batasi dan dengan cara yang aman,” jawab dokter tersebut tahu apa yang Mario tanyakan.

__ADS_1


“Yang aman itu bagaimana dok?”


“Mario jangan banyak bertanya,” sambung Lery sambil menarik tangan sang suami. “Terima kasih dok, apa aku boleh langsung pulang?” tanya Lery untuk mengalihkan pertanyaan dari Mario. Saat dirinya tahu dokter kandungan tersebut belum memiliki istri.


“Boleh nona, kalau begitu saya permisi,” ujar dokter tersebut yang langsung meninggalkan keduanya.


“Sayang pertanyaanku belum di jawab,”


“Kamu bertanya yang tidak masuk akal, kamu sudah memiliki anak tentu kamu tahu itu, tidak perlu bertanya,”


“Terus yang bagaimana posisinya?”


“Mario! Jangan bercanda. Dan aku ingin kamu mengurungkan menggunakan brand ambassador untuk proyek yang kamu kerjakan, apa lagi brand ambassador itu si Adel yang hampir memcelakakan anak kita,”


“Baik sayang,” ujar Mario yang langsung membantu sang istri yang ingin beranjak dari tudurnyay. “Tapi kenapa Adel bisa masuk ke ruang kerjaku?”


“Siap bos,” sambung Mario yang langsung memeluk pinggang sang istri keluar dari ruangan tersebut. “Dan aku tidak ingin kamu memakan makanan yang tadi kamu bersama Maria, yang sudah membahayakan kesehatanmu,”


“Aku tidak janji,”


“Lery istriku sayang,”


“Mungkin karena aku baru sekali makan makanan pinggir jalan, tapi kalau sudah sering tidak akan sakit perut lagi Mario,”


“Awas saja kalau kamu masih memakannya,” ancaman Mario dan Lery pun hanya mengangkat kedua bahunya.


*

__ADS_1


*


*


Jam menunjukkan pukul sembilan malam saat Maria baru saja tiba di rumahnya. Saat dirinya harus lembur untuk mengerjakan pekerjaan sang kakak yang tidak kembali ke kantor setelah mengantar istrinya ke rumah sakit.


“Malam non,” sapa mbok Jum saat majikannya itu baru masuk ke dalam rumah.


“Malam mbok. Aku ingin jus jeruk tolong mbok Jum buatan ya,”


“Baik non,” ucap mbok Jum yang langsung menuju ke dapur sedangkan Maria langsung merebahkan tubuhnya di atas sofa ruang tamu.


“Kapan aku jadi tajir melintir tanpa bekerja sudah memiliki uang,” ucap Maria sambil menghembuskan nafasnya kasar. “Mana bisa Maria Maria. Kecuali kamu punya peliharaan ba bi ngempet, dan ujung ujungnya kamu di bakar masal jika ketahuan,” ucap Maria lagi pada dirinya sendiri sambil menggelengkan kepalanya.


“Ya ampun siapa yang mengetuk pintu malam-malam,” ujar Maria sambil beranjak dari tidurnya menuju ke arah pintu untuk membukanya. “Kamu,” ucap Maria sambil mengerutkan keningnya  saat sudah membuka pintu rumahnya, saat tahu siapa yang berkunjung malam-malam, kemudian Maria ingin menutup pintu tersebut sebelum pria tersebut menahan pintunya.


“Maafkan aku atas perkataanku tadi siang,” ujar Juano.


“Aku sudah memaafkannya sekarang pergilah,”


“Aku tidak akan pergi sebelum mengatakan apa yang ingin aku katakan kepadamu,”


"Dan maaf, aku tidak ingin mendengarkan apa yang ingin kamu katakan padaku tuan Juano Franshola!"


Bersambung...............


Bersambung.............

__ADS_1


__ADS_2