Terpaksa Menikahi Asisten

Terpaksa Menikahi Asisten
120 Materi


__ADS_3

Mario yang sedang mengemudikan mobilnya masih tidak percaya pada perkataan Camel, meskipun Lery sudah menjelaskan panjang kali lebar.


“Sayang aku sungguh–


“Mario fokuslah, jangan tanyakan apa pun, aku sudah menjelaskan padamu, biarkan saja Camel memilih pilihannya sendiri, kita sebagai sahabat cukup mendoakan yang terbaik,”


“Iya juga sih, kamu juga cinta metong padaku meskipun aku hanya seorang asisten, ya begitulah hidup, rumit bagi yang membuatnya rumit dan gampang bagi yang menerima dengan ikhlas apa yang telah di takdir kan oleh Tuhan kepada kita,”


Lery yang mendengar perkataan Mario menyipitkan kedua matanya menatap sang suami, berbeda lagi dengan Maria yang ada di kursi belakang, karena langsung beranjak dari duduknya dan memegang kening Mario.


“Kakak ipar hari ini, kakakku di beri makan apa? Kenapa bicaranya bisa lurus, apa jalannya sudah di buat lurus dan tidak ada lagi belokan tanjakan dan turunan?”


“Entah lah, apa mungkin tadi kerasukan setan ketika di taman?”


“Bisa jadi, tapi kalau kerasukan kenapa jadi benar?”


“Mungkin setannya langsung insaf, merasuki kakakmu yang belok,” jawab Lery dan keduanya langsung tertawa.


Berbeda dengan Mario yang langsung menyingkirkan tangan Maria dan terus menggerutu.


“Maaf suamiku sayang, kita hanya bercanda, iya kan Maria,”


Maria yang mendengar perkataan Lery, langsung menganggukkan kepalanya, dan menahan tawanya. Kemudian mengambil ponsel miliknya saat ada notifikasi pesan masuk.


“Iya aku maafkan, awas saja mengataiku lagi, aku hajar habis kamu, sampai terken cing ken cing,”


“Iya maaf suamiku,” ujar Lery dan meraih lengan Mario dan menyandarkan kepalanya.


“Kenapa ciloknya tidak di makan?”

__ADS_1


“Aku sudah tidak menginginkannya, aku ingin cilok yang lain, tentunya yang bikin merem melek,”


“Akhirnya malam ini menanamnya tidak libur, terima kasih sayang,” ujar Mario dan di akhiri mencium kening Lery.


“Menanam apa malam-malam begini?” tanya Maria penasaran dari kursi belakang.


“Kenikmatan iya kan– aww,”


“Menanam bunga tapi besok pagi, tadi aku baru membeli bibit bunga,” sambung Lery memotong perkataan Mario sambil mencubit lengan suaminya.


“Ada apa sayang, sebentar lagi dia akan menikah, kita harus memberi materi kepada dia, posisi yang mana saja yang bikin cenat cenut gurih,”


“Sialan, kampret, ini mah menjerumuskan ke arah dua puluh satu plus,” sambung Maria lalu kakinya menendang kursi yang Mario duduki, kemudian mengambil headset yang ada di dalam tasnya untuk menyumpal telinganya.


Dan Maria yang tadi belum sempat membuka pesan di ponselnya, langsung menyalakan ponselnya kembali.


[Terima kasih Maria calon istriku, atas


 kartu keluarga kita. Dan aku tidak butuh


 cinta darimu, cukup aku yang akan


 mencintaimu dan membuatmu nyaman


 di sisiku, hingga kamu lupa caranya pergi


 dariku. I love you sayang, dari calon ayah di


 dalam kartu keluarga kita. Emot kiss tiga

__ADS_1


 kali]


Maria hanya bisa menggelengkan kepala sambil menahan senyum saat sudah membaca pesan dari Ano.


“Dasar loyo alay sekarang sudah bisa menggombal” gumam Maria dan memasukkan ponselnya ke dalam tas kemudian menyandarkan kepalanya, dan memejamkan matanya saat kantuk mulai menyerang.


*


*


*


Juano menepuk jidatnya saat mama Dina baru saja memberi tahu keinginan Maria yang ingin mengadakan resepsi di taman safari.


“Ma, apa tidak ada yang lebih ekstrem lagi, misalnya di kolam buaya begitu,” ujar Juano saat baru saja dirinya membuka matanya di pagi hari, sudah mendapat kabar yang begitu mengejutkan bagi dirinya yang tidak sama sekali menyukai semua jenis binatang.


“Nanti mama tanyakan ke Maria ya sayang, kalau kamu ingin mengadakan resepsi di kolam buaya, tapi nanti dulu, kapan kamu menyukai buaya?”


“Ya ampun,” jawab Juano sambil menggelengkan kepalanya. “Pokoknya mama bilang ke calon menantu mama, aku tidak ingin mengadakan resepsi pernikahan di taman Safari, mama tahu sendiri aku tidak menyukai semua jenis binatang bukan,”


“Iya juga sih, tapi ini keinginan Maria sayang,”


“Apa mama mau di hari yang membahagiakan, melihat aku mati berdiri,”


“Tantu saja tidak,”


“Tapi aku tetap ingin mengadakan resepsi di sana,” ujar Maria yang tiba-tiba sudah berada di dalam ruang perawat Juano.


Juano yang mendengar ucapan Maria langsung jatuh pingsan.

__ADS_1


Bersambung..................


__ADS_2