
Sudah sebulan semenjak Lery dinyatakan hamil. Dan selama sebulan juga Mario sama sekali tidak pernah mendekati sang istri hanya sekali dua kali saja saat Lery ingin melayani sang suami menanam lobak, itu pun Lery harus mengenakan masker. Saat Lery langsung mual dan muntah-muntah jika berada di samping Mario. Mario yang mengetahui jika Lery mengalami itu karena hormon di tubuh sang istri berubah, tidak mempermasalahkan saat dokter kandungan Lery sudah memberi tahu hal tersebut. Dan selama sebulan ini keinginan Lery yang begitu aneh-aneh selalu Mario turuti karena Mario sudah berjanji kepada sang istri akan menjadi suami siaga.
Seperti pagi ini saat Mario akan berangkat ke kantor Lery malah menyuruh Mario untuk membelikan bubur ayam. Dan Mario langsung menuruti sang istri dan segara mencari bubur ayam keinginan sang istri.
Setengah jam berlalu Mario yang baru masuk ke dalam rumah, setelah mendapat bubur ayam langsung tersenyum menatap sang istri yang sedang berada di meja bersama dengan Merin dan juga Marco yang sedang menikmati sarapannya.
“Pesanan kamu sudah sampai sayang,” ujar Mario sambil memberikan bungkusan yang dirinya bawa kepada asisten rumah tangganya untuk menyiapkan nya.
“Mana ayamnya?” tanya Lery membuat Mario yang akan duduk di kursi langsung menatap sang istri.
“Maksudnya?” tanya Mario sambil mengerutkan keningnya.
“Tadi aku menyuruhmu untuk membelikan apa?”
“Bubur ayam,” jawab Mario yang langsung mengambil sarapan yang sudah tersaji di meja makan.
“Terus mana ayamnya?”
“Ya ada di dalam bubur ayam sayang. Nanti mbak akan membawakan nya untukmu,”
__ADS_1
“Mario!”
“Iya sayang,”
“Aku menyuruh kamu membelikan bubur ayam. Kenapa hanya membeli bubur,” ucap Lery sambil menunjuk bubur ayam yang baru saja diletakan di hadapannya oleh asisten rumah tangganya.
“Ini kan sudah ada ayamnya sayang,” sambung Mario sambil menyendok bubur ayam yang ada di hadapan sang istri.
“Maksud aku bukan ayam ini Mario. Tapi ayam yang masih hidup. Kan tadi aku bilang belikan bubur ayam. Berarti bubur dan juga ayam,” ucap kesal Lery sambil menatap tajam ke arah Mario yang langsung menghembuskan nafasnya kasar.
“Baiklah aku akan membelikan ayam untukmu,” ujar Mario sambil beranjak dari duduknya.
“Tidak perlu. Aku sudah tidak menginginkannya lagi. Yang aku inginkan sekarang makan sate maranggi,”
“Maksud kamu?” tanya Lery balik.
“Sate maranggi kan dari sapi. Nanti aku salah lagi tidak membelikan sapi juga untukmu,” jelas Mario tidak ingin terjadi kesalahan lagi.
“Mario yang aku inginkan sate maranggi bukan sate sapi. Kecuali aku bilang ingin sate sapi. Maka kamu harus membelikan sate dan juga sapi. Kamu mengerti tidak Mario!” teriak Lery membuat Mario yang duduk tidak jauh dari sang istri langsung menutup telinganya begitu juga dengan Merin, tapi tidak dengan Marco yang tertawa senang.
__ADS_1
“Oke oke ratuku. Aku akan segara membawakannya untukmu,” ujar Mario yang langsung mencium pipi Lery.
“Mario!” teriak Lery karena dirinya masih saja mencium bau tak sedap dari tubuh Mario.
“Mama tama papa lutu. Taya tom dan jeli,” ucap Merin sambil tertawa. “Oh iya ma. Apa talau beli bubul ayam halus beli ayamnya juga?” tanya Merin dan Lery pun langsung menepuk jidatnya. Dan ingin menjelaskan ke pada Merin sebelum Lea tiba-tiba sudah masuk ke dalam rumah dan menuju meja makan.
“Selamat pagi,” sapa Lea yang langsung mencium pipi Marco yang sedang di suapi Lery. Kemudian beralih mencium pipi Merin.
“Telamat pagi mom,” sambung Merin balas mencium pipi Lea.
“Pintar sekali anak satu ini, si kembar sudah menunggumu di dalam mobil sayang. Katanya ingin berangkat sekolah dengan Merin,” ucap Lea sambil mengelus rambut Merin yang memang sudah siap dengan seragam sekolahnya.
“Benalkah kalau begitu aku belangkat cekolah dulu ma,” ucap Merin yang memang sudah selesai menyantap sarapannya kemudian berpamitan pada Lery dan juga Lea dan langsung keluar rumah di ikuti pengasuh Merin. Menghampiri si kembar tiga yang sering menghampiri Merin untuk berangkat sekolah bersama saat Merin sekarang satu sekolah dengan si kembar.
“Tumben sekali pagi-pagi sudah datang kemari. Biasanya tidak pernah mengantar si kembar,” ucap Lery setelah kepergian Merin.
“Ada hal penting yang ingin aku sampaikan kepadamu Lery ini tentang ibu kandung Merin,” sambung Lea membuat Lery langsung menatap istri dari saudara kembarnya.
__ADS_1
Bersambung...................