Terpaksa Menikahi Asisten

Terpaksa Menikahi Asisten
129 Belalai


__ADS_3

Mendengar pertanyaan mama Dina, Juano langsung mengangkat tangannya dan menunjukkan jarinya ke sebelah kanannya dengan tubuh yang bergetar.


Mama Dina yang sedari tadi juga ikut cemas karena Maria belum juga datang akhirnya tersenyum penuh dengan kebahagiaan, saat melihat ke arah yang Juano tunjuk, saat dirinya melihat Maria sedang duduk di atas sebuah kursi bersama dengan Mario di atas punggung gajah yang mendekat ke arah Juano yang sedang menunggunya di kursi tempat keduanya akan mengikat janji suci sehidup semati di depan penghulu.


Juano memeluk mama Dina yang berdiri di sampingnya, lalu menyelusupkan kepalanya di ketiak sang mama, melihat gajah tersebut yang terus mendekat ke arahnya.


“Ma– mama a– aku takut Ma,” ucap Juano dengan terbata dengan tubuh yang bergetar dan juga merasakan sesak di dadanya, saat menahan rasa takut yang luar biasa,”


Plak!


Mama Dina memukul lengan Juano dengan kencang, hingga penghulu yang sudah duduk tepat di hadapannya menahan tawa, melihat kelakuan Juano, padahal para tamu undangan begitu antusias saat pengantin wanita datang dengan menggunakan gajah.


“Ya ampun Juano! Jangan membuat malu mama, terlebih lagi dengan rekan bisnis kamu yang menghadiri acara ini dan juga wartawan yang meliput acara ini, apa yang akan mereka katakan dan beritakan, jika pemilik hotel Franshola takut pada gajah."


“Masa bodo, aku takut Ma, bawa aku pergi dari sini Ma,_


“Baiklah ayo, jadi kamu tidak ingin menikah dengan Maria oke, ayo berdiri dan kita pulang,”

__ADS_1


“Aku tetap ingin menikah dengan Maria Ma, tapi–


“Kalau kamu ingin menikah dengan Maria jangan begini, malu, cepat berdiri dan jemput Maria, jangan membuat pak penghulu menunggu lebih lama,” ujar mama Dina memotong perkataan Juano.


“Tapi Ma,”


“Ano, jika kamu ingin Maria mencintaimu, tunjukkan padanya, kalau kamu lelaki sejati, masa dengan gajah takut,”


Mendengar perkataan mama Dina, Juano dengan susah payah beranjak dari duduknya kemudian berdiri tegak, dengan wajah yang begitu pucat dan juga tubuh yang terus bergetar.


Juano menghentikan langkahnya ketika baru saja beberapa langkah melangkah. Pandangannya bukan tertutup pada Maria melainkan pada gajah yang berdiri di samping Maria.


“Sayang ada apa?”


“Itu Ma, belalai gajahnya aku takut,” bisik Juano di telinga mama Dina.


“Ya ampun sayang, kamu juga punya belalai kenapa kamu takut, kamu tidak ingin belalai kamu berfungsi sempurna dan menyemburkan air, agar mama bisa cepat punya cucu, kalau kamu sudah sah menjadi suami Maria kamu langsung bisa mencobanya, buktikan pada Maria belalai kamu berfungsi dengan sempurna, bukan cuma satu menit tapi satu Jam,”

__ADS_1


Mendengar perkataan mama Dina Juano langsung menegakkan tubuhnya lalu melepas tangan mama Dina yang masih memeluk lengannya, dan melangkahkan kakinya pasti menuju ke arah Maria yang sedang tersenyum ke arahnya.


Juano membungkukkan tubuhnya dan mengulurkan satu tangannya ke arah Maria, saat sudah mendekatinya.


Dan Maria pun dengan segera menerima uluran tangan Juano, lalu terdengar tepukan tangan yang begitu meriah dari seluruh tamu undangan yang hadir.


“Takut ya dengan gajah?” tanya Maria saat menggandeng lengan Juano menuju ke arah penghulu.


“Tidak siapa juga yang takut dengan gajah,”


“Tadi aku lihat, muka kamu pucat dan juga tubuh kamu gemetar,”


“Oh itu, aku sedang membayangkan jika belalaiku nanti bisa menyemburkan air dan bikin kamu merem melek setelah kita resmi menjadi suami istri,”


Plak!


Bersambung..................

__ADS_1


__ADS_2