
Maria terus menangis dengan seluruh tubuh yang masih gemetar saat sudah berada di rumah sakit, dan pakaian yang di gunakannya sudah berlumur darah. Saat sebelumnya memangku Juano yang tertabrak sebuah mobil tepat di hadapannya.
“Ya Tuhan kenapa jadi seperti ini, tolong selamatkan suamiku, ya Tuhan,”
Maria terus menangis saat dirinya begitu kuatir dengan keadaan Juano, yang sudah tidak sadarkan diri dengan banyaknya darah di sekujur tubuhnya. Apalagi dokter yang menangani Juano belum juga keluar dari ruang IGD.
Maria yang sedang duduk di bangku tepat di depan ruang IGD bersama dengan Anton yang sedari tadi menangkannya, langsung menatap seseorang dengan tatapan tajam yang duduk tidak jauh dari tempatnya berada.
Maria beranjak dari duduknya dan menghapus air mata yang sedari terus mengalir dari pelupuk matanya, lalu berjalan menuju seseorang yang sedari tadi dirinya tatap.
Maria berdiri tepat di hadapan orang tersebut yang juga terlihat begitu kuatir.
“Aku tidak akan pernah memaafkanmu Tuan, jika terjadi sesuatu pada suamiku!” ucap Maria penuh penekanan.
“Maaf Maria, aku benar-benar tidak sengaja, dan ini di luar kendaliku, sekali lagi maafkan aku, aku mohon Maria,”
“Aku tidak akan memaafkanmu Tuan Oza, apa pun alsanmu, karena kau telah melukai suamiku!”
Mendengar perkataan Maria, Oza langsung meraih tangan Maria, tapi Maria dengan kasar menyingkirkan nya.
__ADS_1
“Aku akan bertanggung jawab Maria,”
Senyum sinis terukir dari sebelah sudut bibir Maria mendengar perkataan Oza.
“Bertanggung jawab seperti apa? Polisi saja membebaskanmu tanpa syarat, dengan alasan mobil yang kamu kendarai pecah ban. Tanggung jawab seperti apa yang kamu maksud? Jangan bilang biaya rumah sakit akan kamu tanggung hingga suamiku sembuh begitu? Dan aku tidak membutuhkan itu, suamiku bukan orang susah kamu tahu itu Tuan Vioza Waradhana! Jadi sekarang pergilah dari harapanku, aku tidak sudi melihat dirimu dan jangan sampai aku berbuat kasar kepadamu!”
Ucap Maria mengingat kembali, mobil milik Oza lah yang mengalami pecah ban yang telah menabrak Juano, meskipun mobil yang di kendarai Oza sebisa mungkin menghindar, tapi Oza tidak bisa mengendalikan nya dan menabrak Juano yang terpental dan tubuh Juano tertindas sebuah motor yang melaju kencang. Dan polisi hanya menahan pengendara motor, saat CCTV yang ada di tempat kejadian memperlihatkan Juano sama sekali tidak terluka saat tertabrak mobil Oza, Juano terluka parah saat motor yang melaju kencang menindasnya.
“Polisi sudah menjelaskan padamu bukan jika–
Plak!!!!!
“Tapi ini semua karenamu Tuan Oza!”
“Maafkan aku Maria,”
“Nona hentikan,” ujar Anton sambil menahan tangan Maria yang akan menampar pipi Oza kembali.
“Anton, jangan hentikan aku. Dia juga harus merasakan apa yang suamiku rasakan saat ini, ini tidak adil Anton, suamiku menderita di dalam sana, tapi polisi menahannya pun tidak,”
__ADS_1
Maria berkata dan tangisnya kembali pecah memenuhi lorong rumah sakit tersebut.
“Anton, suruh dia pergi dari sini, aku tidak ingin melihatnya,” perintah Maria di tengah-tengah tangisnya lalu kembali ke tempatnya semula.
Oza memutuskan untuk pergi, dan langkahnya terhenti saat sudah menjauh, air mata tidak terasa juga jatuh membasahi pipi, hatinya begitu sakit melihat wanita yang di cintainya begitu terpuruk karena kesalahannya meskipun tidak dirinya sengaja.
“Maria maafkan aku, aku berjanji akan membuat kamu tersenyum kembali,” ucap Oza dan langsung melangkahkan kakinya kembali keluar dari rumah sakit.
Sudah hampir tiga jam, tapi dokter yang menangani Juano belum juga keluar dari ruang IGD. Membuat Maria yang sudah bisa mengendalikan dirinya, tidak bisa berhenti mondar mandir tepat di depan ruang IGD.
Dan pintu ruang IGD di buka oleh seseorang dari dalam.
Bersambung................
__ADS_1