
Maria makan siang dengan lahapnya tidak menyadari sadari tadi mama Dina terus menatapnya sambil tersenyum.
“Hati-hati sayang. Pelan-pelan saja makannya, kamu tidak sedang mengikuti lomba makan,” ujar mama Dina sambil menyodorkan segelas air putih ke hadapan Maria yang sedang tersedak.
“Maaf ma, habisnya makanan mama ini sangat enak, rasanya ingin setiap hari aku makan makanan enak seperti ini,”
“Kalau begitu kamu tinggal saja disini dengan mama,” ujar mama Dina membuat Maria yang sedang minum air putih langsung tersedak kembali.
“Sayang ada apa denganmu?” tanya mama Dina sambil menepuk punggung Maria.
“Tidak ada ma,”
“Bagaimana mau tidak tinggal di sini bersama mama?”
“Maaf ma. Bukannya menolak tapi...”
“Iya tidak apa-apa sayang, mama saja yang berlebihan,” sambung mama Dina memotong perkataan Maria. “Mama hanya tidak sabar ingin kamu cepat-cepat jadi menantu mama. Apa pernikahan kalian tidak bisa di majukan?” tanya mama Dina, pasalnya Maria mau pun Juano berbohong dan mengatakan pada mama Dina jika keduanya ingin melangsungkan pernikahan tahun depan.
“Kemarin kan kita sudah...”
“Iya sayang mama tahu,” sambung mama Dina memotong perkataan Maria. Saat sebelumnya Maria dan juga Juano sudah memberi tahu alasannya meskipun semuanya hanya kebohongan belaka, agar mama Dina benar-benar sembuh, dan kebohongan Maria dan juga Juano pun berhasil karena mama Dina benar-benar sudah pulih seperti sedia kala.
“Oh iya ma. Tadi mama bilang ada hal penting yang ingin mama sampaikan padaku,”
“Iya sayang. Tapi sebelum itu kamu habiskan makan siangnya,” ujar mama Dina sambil tersenyum manis.
__ADS_1
Mama Dina langsung duduk di samping Maria yang sudah berada di ruang keluarga, setelah keduanya menyelesaikan makan siang. Kemudian mama Dina menghadap Maria sambil menggenggam tangan Maria.
“Sayang ada yang perlu kamu tahu tentang Ano,” ujar mama Dina dan Maria pun langsung menatap ke arah mama Dina. “Ano tumbuh tanpa seorang ayah di samping dan...”
“Aku sudah tahu ma. Ano sudah menceritakan itu padamu ma,” ucap Maria memotong perkataan mama Dina.
“Tapi mama yakin ada yang belum kamu tahu tentang Ano. Saat Ano belum pernah tidur bersamamu,”
“Maksud mama?” tanya Maria sambil mengerutkan ke dua alisnya penasaran dengan perkataan mama Dina.
“Sebenarnya Ano memiliki kelainan sejak kecil,”
“Kelainan? Maksud mama terkena gangguan jiwa begitu?” tanya Maria dan mama Dina langsung tersenyum mendengar pertanyaan Maria.
“Terus?”
“Sebenarnya adik kecil Ano sejak kecil tidak bisa berdiri dengan sempurna,”
“Maksud mama adik Ano? Ano bilang dia anak tunggal. Kalau Ano anak tunggal berarti tidak memiliki adik ma,” ucap Maria membuat mama Dina langsung menepuk jidatnya.
“Iya Ano anak tunggal sayang,”
“Terus kenapa punya adik?”
“Maria sayang umur kamu berapa sih? Adik kecil saja tidak tahu,”
__ADS_1
“Apa mama lupa kalau aku ber umur dua puluh lima tahun, kemarin aku sudah memberi tahu mama bukan?”
“Iya sayang mama tahu. Maksud mama adik kecil alat untuk mengeluarkan air ken cing pada pria,”
“Oh itu aku tahu mah,”
“Nah itu kamu tahu. Dan kamu harus tahu adik kecil milik Ano tidak bisa berdiri dengan tegak. Tapi kamu jangan kuatir. Selama ini Ano sudah menjalani terapi dan dokter terapi Ano bilang pada mama, adik kecil Ano sudah bisa berdiri tegak meskipun paling lama hanya satu menit, dan dengan terapi rutin adik kecil Ano bisa berdiri sempurna,”
“YA ampun ketawa tidak, ketawa tidak, ya ketawalah. Satu menit gitu loh,” gumam Maria dalam hati sambil menahan tawa.
“Pilihan ada di tangan kamu, setelah mama memberi tahu ini semua, agar tidak ada rahasia lagi diantar kamu dan juga Ano. Tapi mama harap kamu akan terus bersama dengan Ano sayang,”
“Tenang ma, aku akan selalu bersama dengan Ano karena aku yakin Ano pasti bisa bila menjalani terapi secara rutin,”
“Terima kasih sayang,” ujar mana Dina yang langsung memeluk tubuh Maria.
“Sama-sama mama Dina, aku tidak peduli berdiri atau tidak yang penting aku dapat uang dari anakmu,” gumam Maria dalam hati sambil tersenyum saat masih berada di pelukan mana Dina.
Maria memukul setir pengemudinya sambil tertawa terbahak bahak, saat dirinya sudah berada di dalam mobil dan memutuskan untuk pulang saat hari sudah petang.
“Ya ampun loyo,” ucap Maria dan terus tertawa saat mengetahui kebenaran tentang Ano, kemudian Maria menghentikan tawanya saat ponselnya berdering. “Ya ampun loyo telepon ada apa ya? Apa dia sudah sampai Singapura,” ujar Maria saat tahu yang menghubunginya Ano dan Maria langsung mengangkat sambungan teleponnya.
Bersambung......................
__ADS_1