
Mario terus menggenggam erat tangan Lery saat keduanya sedang duduk di kursi, tepat di hadapan meja kerja dokter kandungan yang baru saja memeriksa dan juga melakukan USG kepada Lery. Saat keduanya hari ini memutuskan untuk pergi ke rumah sakit biasa Lery melakukan pemeriksaan, ingin mengetahui jenis kelamin anak kembar mereka yang baru saja memasuki usia tujuh bulan.
“Dok, bagaimana keadaan anak-anak kami? Apa mereka berjenis kelamin laki-laki semua?” tanya Mario penuh harap saat dokter yang baru saja memeriksa Lery duduk di kursinya.
“Enak saja laki-laki, aku ingin mereka semua perempuan, iya kan sayang,” sambung Lery sambil mengelus perutnya yang besarnya melebihi ibu hamil sembilan bulan.
“Tidak bisa, mereka harus laki-laki,”
“Tidak bisa, pokoknya harus perempuan, aku yang mengandung,”
“Dan aku yang menanam dan memberi bibit, dan aku juga yang memberi vitamin dan juga memupuk,”
“Tidak bisa,”
“Jelas saja bisa,”
Dokter yang berada di hadapan keduanya langsung berdehem menghentikan perdebatan suami istri di hadapannya.
“Maafkan dok, kami terlalu antusias,” ucap Mario setelah menghentikan perdebatannya.
“Tidak masalah Tuan, dan sekarang giliran saya yang akan berbicara,”
“Silakan dok,”
“Baik, keadaan nona dan juga bayinya baik-baik saja, tapi–
“Tapi kenapa dok?”
“Ish, dokter sedang berbicara sudah kamu potong saja,” sambung Lery sambil memukul lengan Mario.
“Iya maaf dok, aku terlalu antusias, silakan dokter teruskan saja,”
“Baiklah,” ucap dokter tersebut dan langsung meneruskan perkataannya.
__ADS_1
Mario bersorak gembira sambil menciumi perut sang istri di akhiri dengan memberikan ciuman singkat di bibirnya, saat dokter tersebut memberi tahu jika ketiga bayi yang masih berada di kandungan Lery semuanya berjenis kelamin laki-laki dan sesuai keinginan Mario.
“Kenapa kamu cemberut begitu sayang, bagus bukan kalau anak kita semua laki-laki, jadi akan semakin banyak laki-laki yang akan menjagamu iya kan?”
“Tetap saja aku menginginkan anak perempuan,”
“Tenang saja, setelah baby boy melihat dunia. Kita buat adik lagi untuk mereka oke,”
“Ya ampun Mario! Kamu pikir melahirkan itu gampang tinggal di muntahin gitu? Kalau bicara ada-ada saja, aku bukan kucing! Melahirkan juga belum, sudah bilang ingin punya anak lagi, coba kamu merasakan gimana rasanya melahirkan,”
Kesal Lery dan beranjak dari duduknya diikuti Mario setelah berpamitan kepada dokter yang baru saja memeriksa kandungan sang istri.
“Sayang apa kamu tidak senang jika–
“Tentu saja senang,” sambung Lery memotong perkataan Mario, tahu apa yang akan di katakannya.
“Kenapa kamu cemberut?” tanya Mario sambil memeluk pinggang sang istri keluar dari rumah sakit.
“Gimana tidak cemberut, anak kita saja belum lahir kamu sudah ingin punya anak lagi, aku takut kalau aku menolak untuk memiliki anak lagi, kamu akan mencari wanita lain,”
“Sayang kenapa pikirkan kamu pendek sekali, tidak mungkin bagiku mencari wanita lain selain dirimu, karena hanya kamu yang selalu memenuhi hidupku, dan asal kamu tahu, aku tidak bisa sedetik pun, tidak mengingat dirimu sayang,”
“Kamu berbohong,”
“Aku jujur sayang, kalau kamu tidak percaya belah lah dadaku,”
“Tapi kenapa akhir-akhir ini kamu tidak ingin mendekatiku?”
“Kan kamu yang bilang sendiri aku suruh menjauh,” jelas Mario mengingat kembali jika Lery menyuruhnya untuk menjauh, karena saat sedang berdua pasti akan selalu berakhir dengan tanam menaman, yang membuat Lery kelelahan, dan Mario pun mengiyakan permintaan sang istri tidak tega melihat istrinya kelelahan.
“Aku merindukannya,”
Mendengar perkataan sang istri Mario langsung tersenyum bahagia, kemudian memegang dagu sang istri.
__ADS_1
“Merindukan menanam?” tanya Mario dan Lery pun langsung mengangguk. “Baiklah, aku juga sangat merindukan itu sayang, yuk kita menanam,”
"Yuk,"
*
*
*
Sementara itu Maria yang sudah membawa kompresan di tangannya tidak jadi membuka pintu, saat dirinya merasa ragu jika harus mengompres adik kecil Juano.
“Maria tidak apa kompres saja, dia kan sedang tidak sadarkan diri,” entah setan dari mana yang berisik di telinganya, dan Maria pun langsung membuka pintu dan masuk ke dalam kamarnya.
Saat sudah masuk ke kamarnya Maria mengerutkan dahinya saat tidak mendapati Juano di atas tempat tidur.
“Ke mana dia,”
“Aku di sini,”
Mendengar suara Juano, Maria langsung membalik tubuhnya saat suara tersebut berasal dari belakangnya.
“Ano!”
Bersambung....................
__ADS_1