
Mario yang sedang duduk di kursi kerjanya langsung berdiri dan menghampiri kedua wanita yang berada di sofa dan masih asik dengan berbagai macam makanan yang ada di meja.
“Sayang sudah hentikan. Aku takut kamu diare makan makanan seperti ini, terlebih lagi kamu belum pernah memakannya,” ujar Mario dan duduk di samping sang istri.
“Tidak akan sayang. Ke mana saja aku selama ini tidak mengetahui banyak makan enak seperti ini,” ucap Lery dan terus mengunyah makanan yang berada di hadapannya satu persatu bergantian. “Kamu coba yang ini sayang. Enak kenyal-kenyal macam toppoki yang dari negara gingseng, tapi lebih enak ini sayang,” ucap Lery sambil menyodorkan cilok ke hadapan Mario.
“Tidak mau, sekarang hentikan ini, lebih baik kamu minum susu ini saja,” ucap Mario sambil mengambil garpu yang berada di tangan sang istri kemudian menggantinya dengan susu ibu hamil sekali minum yang baru saja dirinya ambil dari lemari pendingin yang berada di ruang kerjanya.
“Tapi aku belum menghabiskan, cilok, siomay, batagor, cireng, cimol, gorengan dan ini semua sayang,” ujar Lery sambil menunjuk makan khas pinggir jalan yang begitu nikmat yang berada di atas meja,”
“Besok lagi oke,” ucap Mario sambil mengedipkan matanya ke arah Maria untuk membantu dirinya agar istri nya berhenti menyantap makanan tersebut. Dan Maria pun langsung tersenyum tahu apa yang di inginkan Mario. Kemudian Maria langsung mengangkat ke lima jarinya meminta lima juta untuk membantu sang kakak. Dan Mario pun langsung menganggukkan kepalanya menyetujui keinginan adiknya tersebut.
“Iya kakak ipar, benar apa yang dikatakan olah kakakku tersayang. Besok aku akan membawa makanan enak lagi selain ini yang belum pernah kakak ipar coba,”
“Benarkah?” tanya Lery penuh antusias.
“Iya kakak. Sekarang kita akhiri pesta ini dan kakak harus minum susu itu. Agar calon keponakan aku nanti tumbuh sehat, dan tidak cacingan karena tidak mendapat asupan gizi yang seimbang karena kebanyakan makan cilok,” ujar Maria untuk membujuk Lery tapi dirinya langsung mendapat lemparan tisu dari Mario.
__ADS_1
“Apa kamu mendoakan anakku cacingan,” ucap kesel Mario sambil menatap tajam ke arah adiknya tersebut. Kemudian Maria langsung beranjak dari duduknya sambil menahan tawa. “Mau ke mana?”
“Kembali bekerja. Apa aku harus makan gaji buta?”
“Bagus. Tapi kamu siapkan proposal yang aku butuhkan sebelum rapat di mulai setengah jam lagi,”
“Siap laksanakan,” ucap Maria sambil mengulurkan tangannya ke hadapan Mario. “Tambah dua juta,”
“Maria!”
“Kabur,” ucap Maria yang langsung keluar dari dalam ruang kerja Mario.
“Maaf sayang, aku belum sempat memberi tahu kamu. Hari ini ada rapat dengan klien baru dari Singapura selain tuan Licon, kamu tahu Juano Fransloha?”
“Tahu, pemilik hotel Loha yang terkenal di Singapura dan juga di beberapa negara,” jawab Lery karena dirinya tahu siapa dia yang memang sempat ingin bekerja sama dengan perusahaannya miliknya tapi selalu urung.
“Dan sekarang dia tertarik dengan proyek yang sekarang aku tangani,”
__ADS_1
“Bagus kalau begitu. Semoga proyek kamu berjalan dengan lancar,”
“Amin,” ucap Mario sambil tersenyum ke arah istrinya.
“Kenapa tersenyum? Dan kenapa masih disini? Bukannya rapat akan segera dimulai? Yang aku tahu tuan Juano Fransloha orangnya sangat disiplin dan tepat waktu,”
“Itu kan kalau di perusahaan miliknya. Sekarang kan dia berada di perusahaanku,”
“Apa aku tidak salah dengar?”
“Maksudku perusahaan istriku begitu sayang, tadi keceplosan,”
“Yang sudah sana aku perintahkan kamu untuk segera ke ruang rapat. Aku ingin tidur siang,” ucap Lery sambil merebahkan tubuhnya di atas sofa,”
“Bagus dan aku akan mengantarkan kamu untuk tidur nyenyak. Sekalian memberi nutrisi untuk baby kita sayang,” sambung Mario sambil tersenyum dan tangannya langsung mengelus perut sang istri.
“Mario jangan macam-macam, ini bukan waktunya untuk...” ucapan Lery berhenti saat Mario dengan tiba-tiba mencium bibirnya dan me lu matnya.
__ADS_1
“Energi untuk memulai rapat. Dan tidurlah yang nyenyak sayang aku akan segera kembali,” ucap Mario setelah melepas tautan bibirnya kemudian mencium singkat kening sang istri sebelum meninggalkan ruangannya.
Bersambung..................