
Mario yang baru keluar dari kamar mandi langsung menatap ke arah Lery yang sedang terbaring di atas tempat tidur di temani kedua anaknya. Kemudian Mario keluar dari kamar dan memanggil asisten rumah tangganya dan juga pengasuh Marco untuk membawa Marco dan juga Merin keluar dari kamar.
“Papa tenapa aku dan juga Coco halus kelual kamar mama?” tanya Merin ketika sudah berada di luar kamar Mario.
“Merin sayang. Mama sedang tidak enak badan. Jadi mama butuh istirahat. Merin bermain dulu dengan mbak ya. Nanti kalau mama sudah sembuh Merin bermain dengan mama lagi oke,” ujar Mario sambil mencium sang putri dan juga Marco yang berada di gendongan sang pengasuh kemudian masuk ke dalam kamarnya.
Senyum terukir dari kedua sudut bibir Mario sambil menuju ranjang tidurnya di mana sudah ada Lery yang sedang terbaring lemah.
“Lery istriku sayang. Aku akan membantu kamu agar kamu merasa baikkan,” ujar Mario sambil menarik selimut yang menutupi tubuh istrinya tersebut.
“Mario jangan macam-macam. Aku tahu apa yang ada di otak me summu itu,”
“Kenapa kamu berkata seperti itu. Aku hanya ingin mengerok punggungmu itu dengan balsem. Aku yakin kamu masuk angin karena semalaman kamu kurang tidur,” ujar Mario dan langsung naik ke tempat tidur. “Dan setelahnya itu. Aku bisa menanam lobak asek. Sekarang modus dulu,” gumam Mario dalam hati sambil tersenyum.
“Dasar bodoh,” ujar Lery sambil melempar bantal yang berada di sampingnya ke arah Mario dan tepat mengenai wajah Mario.
__ADS_1
“Kenapa? Betulkan kalau sedang masuk angin di kerok menggunakan balsem pasti langsung sembuh,”
“Mario kamu sekolah atau tidak? Jaman sekarang masih percaya seperti itu. Percuma ada dokter di rumah sakit,”
“Iya aku tahu. Tapi kita coba dulu siapa tahu nanti lebih baikkan. Kalau tidak ada perubahan kita pergi ke rumah sakit,”
“Mario minggir tidak,” ucap Lery sambil mendorong tubuh Mario untuk menjauh dari dirinya saat Mario ingin melepas baju yang dikenakan oleh Lery.
“Kenapa sayang. Tidak ada salahnya bukan kita mencoba?”
“Bukan masalah itu. Badan kamu bau sekali, macam bangkai tikus,” ucap Lery sambil menutup hidungnya.
“Kenapa kamu marah?”
“Ya jelas saja marah. Kamu bilang aku bau,”
__ADS_1
“Iya maaf tapi...” perkataan Lery berhenti saat Mario menatapnya dengan tajam. “Iya aku minta maaf,”
“Maaf tidak di terima. Aku sudah terlanjur sakit hati. Tapi aku akan memaafkan kamu. Jika kamu mengabulkan permintaan aku,”
“Permintaan apa?” tanya Lery penasaran.
“Menanam lobak,” ucap Mario yang langsung naik kembali ke atas tempat tidur dan langsung mengungkung tubuh Lery di bawahnya. Dan Lery langsung menghembuskan nafasnya kasar dan pasrah. Tapi berbeda dengan Mario yang langsung tersenyum senang. “Akhirnya hanya dengan berpura pura marah aku bisa menanam lobak. Trik yang bagus boleh di coba lain kali,” gumam Mario dalam hati. “Tidak usah pemanasan ya? Aku sudah tidak tahan sayang,”
“Terserah,” ucap Lery pasrah yang masih terus menutup hidungnya saat dirinya terus saja mencium bau yang tidak sedap dari tubuh Mario.
“Oke,” ucap Mario senang dan langsung menurunkan pakaian yang Lery gunakan tidak menyadari ada seseorang yang membuka pintu kamarnya.
“Selamat pagi Lery. Aku dengar kamu sedang tidak enak ba...” ucapan seseorang yang baru saja masuk ke dalam kamar Lery berhenti saat menatap ke arah tempat tidur dan mendapati pemandangan yang menggugah hasrat. Membuat Lery langsung mendorong tubuh Mario hingga Mario jatuh terjengkang.
Bersambung.............
__ADS_1