Twince LA

Twince LA
Satya Medica


__ADS_3

"Abang" teriak Tisha tepat di depan pintu masuk kelasnya Kalan.


Mendengar suara adiknya yang sangat ia tahu bahwa kini adiknya sedang marah, sepertinya Tisha sudah mengetahui apa yang sedang ia sembunyikan.


Kalan menoleh ke arah sang adik, "kenapa?" tanyanya dengan lembut dan menghampiri sangat adik.


"Kita bicara di rooftop"


"Iya de" jawabnya dan mengikuti Tisha dari belakang.


Ardan dan Miko saling pandang melihat itu, Miko menaik turunkan bahunya ketika mengerti arti tatapan dari Miko.


"Lah lo pada engga ngejar si Tisha sama bang Kalan?" tanya Sailendra yang baru saja datang dengan nafas yang tersenggal-senggal.


"Urusan keluarga Sai" jawab Miko.


"Masalah Gema ege" ketus Sailendra, Ardan Miko pun mengerutkan keningnya.


"Kenapa emang sama si Gema?" tanya Miko.


"Kecelakaan, dan bang Kalan tau soal itu" jelas Sailendra.


"Tisha marah?" lanjut Ardan dan Sailendra pun menganggukkan kepalanya.


"Kita liat nanti, jangan gegabah. Ini urusan anatraa Kalan sama Tisha, Sai" cegah Miko.


"Kalau ada aba-aba dari Kalan baru kita bergerak" lanjut Miko.


"Oke kalau gitu" jawab Sailendra dan juga Ardan dengan menganggukkan kepalanya.


...****************...


"Kenapa abang engga bilang sama Tisha kalau Gema kecelakaan?" tanya Tisha to the point ketika sudah sampai di rooftop.


Kalan berjalan untuk duduk di kursi yang memang sudah ada di rooftop tersebut, "kamu udah tau?" bukannya menjawab Kalan kembali bertanya


Tisha mengangguk, "iya Tisha udah tau, kenapa abang engga jujur sama Tisha?"


"Ada hubungan apa kamu sama Gema?" tanya Kalan dengan tegas.


"Tisha engga ada hubungan apapun sama Gema"


"Dengan cara kamu mengkhawatirkan dia seperti ini itu menandakan bahwa kamu ada hubungan spesial dengan Gema, Sha"


"Aku bilang engga ya engga abang" tegas Tisha.


Kalan bangkit dari duduknya, "kamu engga bisa bohongin abang, engga seharusnya kamu kaya gini, Sha. Kamu tau ini dimana? Ini masih di sekolah, Sha. Bukan kaya gini caranya, kamu engga liat tadi siswa dan siswi liat kamu marah-marah kaya tadi" jelas Kalan sambil mendekat ke arah Tisha.


Tisha ikut mundur perlahan ketika sang kakak mendekat ke arahnya, "liat abang Latisha" perintah Kalan.


Tisha pun menatap mata sang kakak, "abang tau, abang sangat tau kedekatan kamu dengan Gema seperti apa, abang tau kamu udah jatuh hati sama dia walaupun itu cuma seujung kuku! Abang tau, hati kamu sebenarnya sudah terbagi antara Gema dan juga Erlan"


"Kenapa kamu kaya gini Sha? Yang abang tau Tisha ini adalah wanita tomboy yang tidak pernah memikirkan pria, kenapa sekarang kamu yang seperti ini hem? Kenapa kamu seakan seperti memainkan hati pria? Bukannya abang sudah bilang jangan pernah kamu berdekatan dengan Gema, kenapa kamu melanggar itu?" jelas Kalan


"Latisha Elenora jawab abang" tegas Kalan.


Tisha memejamkan matanya ketika mendengar nama lengkapnya di sebut oleh sang kakak, "hatiku engga terbagi bang, hatiku tetap untuk Erlan bukan Gema" jawabnya dengan membuka matanya dan kembali menatap mata sang kakak.


Kalan tersenyum sinis, "abang tau kamu Sha"


"Gema sekarang sedang kritis di rumah sakit SATYA MEDICA"

__ADS_1


Tisha mendorong pelan sang kakak dan langsung berlari meninggalkan sang kakak di rooftop.


Kalan melihat ke arah sang adik dan tersenyum, "abang tau kamu emang udah jatuh cinta sama Gema, tapi rasa itu masih kalah sama cinta yang kamu kasih ke Erlan, Sha" katanya ketika melihat ke arah Tisha.


Kalan pun mengikuti Tisha yang turun dari rooftop.


"Gue balik duluan" kata Tisha dengan mengambil tas dan menyambar kunci mobilnya.


"Eh eh lo mau kemana? Abis ini pelajaran Ekonomi, Sha" teriak Reysha namun Tisha tak menggubrisnya.


Begitupun dengan Kalan yang ikut pamit kepada ketiga sepupunya, karena Sailendra masih entada di kelasnya.


"Gue duluan" pamitnya.


"Lo mau kemana kak?" tanya Sailendra.


"Kejar Tisha" jawabnya dan lari begitu saja untuk keluar dari kelasnya.


...****************...


"Tante dengar kamu kemarin abis ngelamar cewe kamu itu ya, Lan?" tanya sang tante ketika sudah bertemu dengan sang keponakannya.


Erlan tersenyum, "iya tan, engga di rencanakan ko tan, tadinya mau makan-makan biasa aja, tapi engga tau kenapa aku langsung kepikiran kenapa engga sekalian aja gitu aku ngelamar dia" jelas Erlan.


"Bagus itu, lebih baik kaya gitu, kan lebih cepat lebih baik"


"Iya tan"


"Jadi kamu mau pilih gaun yang kaya gimana Lan? Ini tante udah siapin model-modelnya, atau mau model yang lain nanti akan tante buatkan" ucap sang tante.


Erlan pun melihat lihat gambar yang sudah di siapkan oleh sang tante.


"Kalau model lain kaya gimana tan?" tanya Erlan kepada sang tante.


"Coba kamu jelasin cewe kamu itu kaya gimana, kalau kemarin tante liatnya kalau dia itu agak sedikit tomboy ya" lanjutnya.


Erlan mengangguk, "iya tan, Tisha memang tomboy, lebih suka warna yang soft dan tidak terlalu suka sama pakaian yang terbuka tante" jelas Erlan.


Sang tante mengangguk, "oh jadi namanya Tisha" ledek sang tante sambil membuat desain yang cocok untuk Tisha.


Erlan tersenyum, "iya tan" jawabnya.


"Kok kaya engga asing ya di telinga tante"


"Dia anak yang paling g di takuti di kota ini tan"


"Oya?"


"Iya tan"


"Anaknya tuan Wijaya?" tebak sang tante.


Erlan mengangguk, "betul tan"


Tante tersenyum, "kamu hebat bisa dapetin dia"


"Ah tante bisa aja"


"Tante bener kok, banyak loh yang pengen banget jadi menantunya Ardi Wijaya tapi selalu di tolak"


"Mungkin belum jodoh tan"

__ADS_1


"Yakan jodohnya kamu" leseknya dan keduanya pun terkekeh di buatnya.


"Nah kalau gini gimana menurut kamu, Lan?" tanya sang tante ketika sudah selesai mendesain gaun yang akan di pakai oleh Tisha.


Erlan melihat desain dengan lengan panjang dengan panjang selutut yang tidak begitu mencolok sederhana namun elegan yang menurutnya sangat cocok jika di pakai oleh Tisha, "nah ini kayanya cocok tan, Erlan juga suka" katanya.


Sang tante tersenyum, "Oke deal ya yang seperti ini"


"Iya tan, warnanya rose gold aja gimana tan kalau untuk Tisha, kalau untuk Tikha kembarannya warna pink aja, soalnya Tikha engga tomboy tan" jelas Erlan.


"Boleh, nanti akan tante buat sama tetapi agak berbeda sedikit ya, karena mereka berdua juga berbeda, yang satu tomboy yang satu feminim" jelas dang tante.


"Oke tan"


"Kalau untuk hadiahnya, kamu ingin gaun seperti apa?" tanya tantenya lagi.


Erlan pun berfikir, "gaun malam tan, gimana?"


"Sebentar, tante buatkan dulu desainnya"


"Baik tan"


"Kalau kaya gini gimana?" tanya tante lagi dengan menunjukkan gaun panjang namun tidak memakai lengan itu pun menjadi pilihan sang tante untuk hadiah gaun malamnya kali ini.


"Boleh deh tan" putus Erlan.


"Pilihan dan buatan tante emang bagus-bagus semua, engga salah sih kalau butik tante sekarang semakin berkembang" puji Erlan.


"Ah kamu bisa aja nih"


"Mau warna apa nak?"


"Warna hitam atau cream aja tan"


"Kenapa engga dua-duanya aja? Nanti yang satunya akan tante buatkan lagi dengan model yang berbeda"


"Boleh deh tan, Erlan percayakan semuanya kepada tante"


"Siap nak"


Dret... Dret... Dret... Ponsel Erlan bergetar menunjukkan bahwa ada yang menghubunginya.


Erlan pun mengambil ponselnya dan melihat ada sebuah notifikasi pesan dari Kalan.


📩 KalandraElvano


Lan, dimana? Ke SATYA MEDICA sekarang


Setelah membaca pesan dari Kalan pun Erlan memutuskan untuk segera pamit kepada tantenya, "tan maaf Erlan harus pergi" pamit Erlan.


"Ko buru-buru?"


"Iya tan maaf ya, soalnya ada meeting mendadak"


"Oyaudah kalau gitu kamu hati-hati ya, biar nanti tante kirim detailnya ke kamu kalau udah jadi"


"Oke tan, Erlan percaya sama tante sepenuhnya"


"Oke nak, Hati-hati"


"Iya tan, kalau gitu Erlan pamit ya tan"

__ADS_1


"Iya nak"


__ADS_2