
Prok... Prok.. Prok... terdengar suara tepuk tangan dari arah dalam.
"Wah wah wah kita kedatangan tamu besar rupanya!"
Semua yang sedang berkelahi pun berhenti ketika mendengar suara yang sangat familiar di telinga mereka terkecuali di telinga Nicholas dan anak buahnya.
Rasya melihat ke asal suara itu, tidak ada wajah tegang atau pun terkejut sama sekali dalam diri Rasya, karena dirinya tahu bahwa ia akan bertemu dengan Axel Candrio sang mafia terkenal di London ini.
"Siapa dia?" tanya Nicholas kepada Rasya ketika mereka sudah ada pada barisan depan dan semua anak buahnya ada di barisan belakang.
"Axel Candrio" jawab Rasya.
Nicholas menganggukkan kepalanya, Nicholas memang sudah tau tentang Axel tetapi tidak dengan wajahnya, namun kini Nicholas sudah melihat wajah asli dari Axel yang menurutnya tidak memiliki wajah yang cocok untuk menjadi seorang mafia.
Jangan tanya kenapa Nicholas begitu meremehkan Axel dan terlihat sangat tenang sekali berhadapan dengan Nicholas, karena Nicholas adalah turunan dari seorang mafia terkenal di Meksiko.
Tidak ada yang tau bukan? Tentang jati diri seorang Nicholas asisten dari daddy Ardi sejak muda, ya itulah Nicholas sangat pandai untuk menutupi rahasia yang sangat penting ini, bahkan istri dan anaknya pun tidak mengetahui bahwa Nicholas adalah anak dari seorang mafia terkenal kejam di Meksiko.
"Wah ada siapakah ini?"
"Ternyata kau hanya seorang diri?"
"Eh tapi tunggu dulu, apakah itu adalah member baru dari King AEIRa, sungguh asing sekali wajahnya"
"Apakah anggota inti AEIRa sudah tidak ada lagi? Sudah damai kah mereka di atas sana?" ledek Axel.
Lihatlah wajah Rasya kini sudah merah padam. dengan tangan yang sudah mengepal dengan sangat kuat "gak usah banyak bacot anjing!" teriaknya.
"Aw serem" ledek Axel lagi.
Benar kata Nicholas, Axel. memang tidak cocok untuk menjadi seorang mafia, lihatlah mafia yang katanya terkenal kejam di London hanya berbicara dan meledek para musuhnya bukan segera bertindak dan memulai penyerangan.
"Jangan gegabah!" ucap Nicholas kepada Rasya.
"Ingat, dia ingin bermain dengan emosimu. Karena kelemahan kita ada pada emosi kita sendiri" jelas Nicholas yang memang tau tentang gerak-gerik dari Axel yang sengaja untuk memancing emosi Rasya.
Mendengar itu Rasya berusaha untuk tetap tenang.
"Saya sudah menyiapkan bom untuk meruntuhkan tempat ini, 30 menit dari saya masuk tadi, mungkin kini tinggal tersisa 15 menit lagi, ulurlah waktu sampai waktunya akan habis jika tidak ingin ada pertumpahan darah lagi. Jika ingin melakukan penyerangan, saya akan memberikan tanda dengan mengeluarkan peluru secara berurutan sebanyak tiga kali" jelas Nicholas dengan sedikit berbisik.
Rasya membulatkan matanya mendengar penjelasan dari Nicholas, dirinya tidak menyangka bahwa akan memiliki patner yang sudah berfikir sampai sejauh itu, "bagaimana dengan yang lain?"
"Mereka sudah tau" jawab Nicholas.
"Baiklah" jawabnya.
"Apakah kalian sudah beralih profesi menjadi ibu-ibu Komplek tukang rumpi?" ledek Axel yang melihat Nicholas dan Rasya saling berbisik sejak tadi.
__ADS_1
Rasya tersenyum sinis "banyak bacot lo!" teriaknya.
"Berani-beraninya lo datang ke markas gue! Mau nganterin nyawa lo hah?" teriak Axel.
"Kalau ya kenapa? Lo takut? Takut lo yang gue ambil nyawanya, hah?"
"Apa lo bilang? Takut? Engga ada kata TAKUT bagi seorang Axel Candrio, ingat gue adalah mafia terkejam di London!"
"Kalau gitu ayo. kita bertarung!"
"Ayo"
"Serang!!!!" teriak Axel dan juga Raysa secara bersamaan.
Dan mereka pun kembali memulai perkelahian dengan tak mengenal kata ampun.
Dor...
Dor...
Dor...
Tiga tembakan secara berurutan yang dikeluarkan oleh Nicholas sudah terdengar di telinga Rasya dan anak buahnya "mundur!!" teriak Rasya dengan lantang.
Dan anak buahnya pun mengikuti apa yang dikatakan oleh Rasya begitupun dengan anak buah Nicholas yang ikut mundur dan keluar dari markas tersebut.
2...
1...
Dan
Boom
Bom itu meledak dengan sangat jelas dan lihatlah kobaran api menjadi besar, tak membutuhkan waktu yang sangat lama untuk markas itu menjadi satu dengan tanah.
"Axel.... " teriak seorang wanita dengan lantang yang melihat itu semua.
Ya!! Siapa lagi jika bukan Cheryl istri dari Axel Candrio.
Rasya, Nicholas dan yang lainnya pun melihat ke asal suara itu. Taidak ada yang terkejut melihat hal itu, mereka tetap terlihat tenang seperti tidak terjadi apa-apa sebelumnya.
"Ayo kita harus kembali ke markas" ajak Rasya dan diangguki oleh Nicholas.
"Tapi maaf tuan Rasya saya harus kembali ke rumah sakit" ucap Nicholas dengan pelan.
"Ah ya tidak apa-apa tuan Nicholas, terimakasih atas bantuannya malam ini" ucap Rasya dengan tulus.
__ADS_1
"Anda sangat keren sudah seperti mafia sungguhan" lanjut Rasya lagi dengan bersungguh-sungguh.
Lihatlah Nicholas tetap menutupi semuanya yang ia miliki "ah sama-sama, anda juga sangat keren tuan Rasya, anda dan dan pasukan anda patut di acungi jempol"
"Bisa saja tuan Nicholas" ucapnya sambil tertawa dan Nicholas pun menjawabnya dengan ikut tertawa.
"Kalau begitu saya duluan ya tuan Rasya" pamit Nicholas.
Rasya mengangguk "baik, hati-hati dan sekali lagi saya banyak-banyak terimakasih kepada Anda"
"Sama-sama tuan Rasya, anda juga hati-hati" katanya dan di angguki oleh Rasya.
...****************...
"Van gue tau lo kuat, lo sanggup. Gue mohon lo jangan tutup mata elo!" perintah Angga kepada Ivan yang sedang menahan rasa sakitnya.
Kini Angga dan Ivan sedang dalam perjalanan menuju rumah sakit bersama dengan Miko dan 5 anak buah miliknya, karena sisanya membantu Nicholas dan juga Rasya untuk melawan Axel.
Ivan tersenyum dalam rasa sakitnya "lo emang sahabat gue yang paling baik, Ga. Gue seneng kenal sama elo" ucapnya dengan terbata-bata.
"Udah lo diem aja kenapa Van. Gue tau perut lu itu sakit banget"
Ivan kembali tersenyum dan menggeleng "engga sesakit pas Erlan kritis di banding gue, Ga" ucapnya lagi.
"Udah diem aja lo! Lo cukup diam tapi jangan tutup mata lo, udah lo cukup kaya gitu aja Ivan!"
"Sorry tadi gue engga ikutin apa kata lo" ucap. Ivan lagi yang tidak mendengarkan perintah dari Angga.
"Lo beneran ya Van, engga bisa diem"
Ivan tersenyum "so... sorry, Ga" ucapnya dan Ivan menutup matanya.
Angga yang melihat itu pun menepuk-nepuk pipi Ivan dengan pelan "Van bangun Van!" teriaknya.
"Ivandra!"
"Gue lagi engga becanda ya Van, becanda lo engga lucu anjir!"
"Van"
"Ivan!" teriak Angga yang shock melihat temannya memang tidak sedang becanda saat ini.
"Ivan bangun Van, buka mata lo" lirih Angga dengan menahan air matanya.
"Tenang Ga, sebentar lagi kita sampai rumah sakit" Miko berkata untuk menenangkan Angga.
Angga mengangguk "ya"
__ADS_1
"Van bangun" ucap Angga lagi dengan tetap menepuk-nepuk pipi Ivan.