
"Woy nenek lampir!" teriak Sailendra ketika baru saja masuk ke kelasnya sudah melihat pandangan yang tak enak untuk di lihat.
"Turunin tangan suci lo dari rambut setan yang penuh noda itu, Latisha!" tegas Sailendra sambil memberikan aura dingin dan berjalan ke arah Tisha.
Glek... Reysha menelan ludahnya secara paksa.
"Mampus, si Lendra keluar lagi" celetuk Reysha ketika melihat aura yang berbeda dari Sailendra.
Sama dengan Tisha dan juga Tikha yang melihat aura dingin dari seorang Sailendra.
Dengan cepat Tisha melepaskan genggaman tangannya dari rambut Marsha.
Marsha mengerutkan keningnya ketika melihat Tisha yang melepaskan jambakannya.
"Keluar kalian semua dari kelas ini! Kecuali keluarga Wijaya dan Marsha!" tegasnya membuat siapa saja yang mendengarnya merinding dibuatnya.
"El keluar" bisik Reysha.
"Aku juga?" tanyanya polos dan Reysha pun menganggukkan kepalanya.
"Oke, gua keluar dulu, lo hati-hati" jawabnya.
"Santai" jawab Reysha dan mendapatkan anggukan dari Elvana.
"Telepon apy Hans" kode mulut dari Reysha kepada Tikha yang berada di belakang Sailendra.
Tikha yang mengerti kode tersebut menganggukkan kepalanya, dan mengambil ponselnya untuk menghubungi Apy.
"Bukannya gue udah bilang sebelumnya sama lo, Sha?"
Mendengar pertanyaan itu pun Marsha membalikan tubuhnya, dan
Tap
Sailendra tepat berada di belakang tubuhnya. Marsha membulatkan matanya dan mundur satu langkah ke belakang untuk menghindari Sailendra.
"Gue udah bilang jangan pernah sentuh Tisha!" ucapnya dengan penuh tekanan.
"Kenapa tangan lo ini masih berani menyentuh Tisha hah?" tanyanya lagi dengan tetap maju mendekat ke arah Marsha.
"Lendra, stop!" cegah Tisha kepada Sailendra.
Lendra menatap ke arah Tisha, "engga usah lo halangin gue"
"Cewe ini harus gue kasih pelajaran"
"Si... Siapa lo sebenarnya?" tanya Marsha dengan kegugupan yang di miliki.
Sailendra tersenyum sinis seperti malaikat maut yang tengah berhadapan dengan Marsha, "akhirnya lo sadar juga kalau gue bukan Sailendra"
"Gue Lendra, sisi lain dari Ilen"
Marsha kembali membulatkan matanya mendengar perkataan dari Lendra, "al... altar ego"
Lendra mengangguk, "dan lo harus mati di tangan gue hari ini juga!" ucapnya dengan penuh intimidasi.
"Lendra, no" teriak Reysha dan juga Tikha, namun Lendra tak mau mendengarkan teriakan keduanya.
Lendra mencengkram dagu runcing milik Marsha.
Marsha pun meringis merasakan sakit yang teramat mendalam.
"Lepasin Marsha!" teriak Niko yang baru saja masuk ke kelas Sailendra.
__ADS_1
"Kalau lo berani jangan sama cewe, lawan gue!" teriak Niko kepada Sailendra.
Tisha, Tikha dan Reysha terkejut di buatnya, ketiganya pun semakin was-was di buatnya, bukan tanpa alasan. Lendra bukan altar ego tipe pemaaf, dia akan semakin senang jika ada yang menantangnya.
Tisha, Tikha, Marsha dan Reysha menggelengkan kepalanya, "are you ready?" tanya Lendra kepada Niko.m dan Niko pun menganggukkan kepalanya.
"Lendra come back!" teriaknya dengan senang hati, karena sudah lama sekali Lendra tidak berkelahi seperti setelah vakum dari beberapa tahun yang lalu.
"Lendra stop, kalian berdua masih pake baju seragam dan ini masih di area sekolah" rayu Tisha kepada Lendra namun tidak di gubris oleh Lendra.
Dan akhirnya terjadilah pertengkaran.
"Ini meja gara-gara lo, Marsha" celetuk Reysha kepada Marsha sambil membantunya untuk duduk.
"Niko bisa mati di tangan Lendra" celetuk Tisha dan diangguki oleh Tikha dan juga Reysha.
"Semoga Apy cepet datang ke sini ya" ucap Tikha.
"Aminn" kata Reysha.
"Lo hubungi Apy?" tanya Tisha kepada kembarannya.
Tikha mengangguk, "tadi gue hubungi Apy, tapi gue engga ngomong, Aph cuma denger percakapan kita, pas aku liat lagi sambingan teleponnya udah di putus, kayanya Apy langsung kesini deh" jelas Tikha.
Tisha mengangguk, "semoga cepat sampai"
"Amiin" jawab Tikha dan juga Reysha.
Marsha hanya diam termenjng melihat Niko yang kini sedang berkelahi dengan Sailendra yang dimana Niko sudah babak belur di buatnya.
Tisha berlari ke arah keduanya, "stop Lendra" teriaknya namun tetap Sailendra tidak menggubris itu.
"Ilen come back!" teriak Tisha.
"Lo bisa bikin dia mati Lendra, Stop!" terian Tisha dengan menghadang Niko dengan tubuhnya.
"Tisha" teriak Tkkha dan juga Reysha.
Lendra menahan pukulannya, karena kini yang ada di hadapanya itu adalah Tisha bukan mainannya.
"Minggir!" ucap Lendra dengan nada dingin.
Tisha menggeleng, "gak!"
"Atau lo yang gue tonjok"
"Oke" tantang Tisha.
"Jangan!" teriak Reysha dan juga Tikha.
"Gue engga bakal apa-apa" tenang Tidha kepada Reysha dan juga Tikha.
"Jangan Sha" kata Tikha.
"Santai Kha"
"Ayo" ucap Tisha.
"Lo minggir kak" perintah Tidha kepada Niko, dan Niko pun berjalan tertatih untuk duduk di kursi yang ada di dekatnya.
"Bang Kalan kemana sih?" tanya Reysha kepada Tikha.
"Engga ada, dia ke keluar tadi" jawab Rea ketika baru saja masuk ke dalam kelas Sailendra.
__ADS_1
"Lendra, stop. Lo bisa bahayain banyak orang" rayunya dengan nada lembut.
"Engga usah ikut campur!" ucapnya.
Dan pertengkaran dengan Tisha pun tak terhindarkan.
"Aduh gimana ini" ucap Tikha dengan wajah yang sudah pucat karena tak tenang melihat snang kembarannya sedang berkelahi dengan Lendra, ya walaupun mereka berdua sudah sering berkelahi namun tetap saja itu membuatnya was-was.
"Stop Sailendra, Latisha!" teriak seseorang dari pintu kelas yang di buka.
Mereka semua pun melihat ke arah pintu, "pak Beni" ucapnya secara serempak ketika melihat siapa yang sudah menghentikan perkelahian antara Latisha dan juga Sailendra.
"Ga usah ikut campur!" jawab Sailendra dan juga Tisha.
Pak Beni menggelengkan kepalanya, pak Beni tidak mengetahui bahwa kini yang sedang bertengkar bukanlah Sailendra dengan Tisha melainkan Lendra dengan Tisha.
"Kalian benar-benar ya" ucapnya dan berlari untuk memisahkan mereka.
"Jangan pak!" cegah Rea, Reysha, Tikha, Marsha dan Niko secara bersamaan.
Dan
Bugh...
Pak Beni pun terkena bogem mentah dari seorang Sailendra.
"Pak Beni" teriak Reysha, Tikha, Marsha, Rea dan juga Niko.
Niko walau pelan namun pasti mengejar Pak Beni untuk membantu pak Beni untuk bangun dan menjauhi Tisha dan juga Sailendra, begitu pun dengan Marsha, Reysha, Rea dan juga Tikha yang membantu pak Beni untuk bangun, "itu Sailendra bogem mentahnya mantep banget" celetuk pak Beni ketika sudah agak jauh dari Tisha dan juga Sailendra.
"Kan tadi udah di bilangin pak, jangan di deketin" kata Niko.
"Tisha bisa mati" kata pak Beni.
"Percayain aja pak sama Tisha, Tidha jago vela diri kok" kata Tokha menenangkan.
"Gimana saya mau percaya, itu cewe lawan cowo loh. Kekuatan cewe itu engga sebanding sama cowo"
"Udah bapa diem aja dari pada dapet bogem mentah lagi dari mereka berdua" kata Rea.
"Loh loh ini kalian berdua kenapa?" tanyanya kepada Niko dan juga Marsha ketika baru tersadar bahwa sebagian wajah Marsha dan Niko berwarna ungu.
"Ya ini sama kaya bapa" jawab Reysha.
"Udah sana kalian ke UKS obatin dulu nih luka kalian" perintahnya.
"Baik Pak" jawab Marsha.
"Kamu bisa jalan kan Niko?" tanya pak Beni.
"Bisa pak"
"Marsha tolong bantu Niko"
"Baik Pak" jawbanya dan keduanya pun berjalan untuk ke ruang UKS.
"Bapa engga di obatin juga?" tanya Rea.
"Saya harus memisahkan mereka terlebih dahulu, saya tidak tenang" katanya ketika melihat Sailendra dan juga Tisha masih asik berkelahi.
"Lendra stop!" terdnegar suara barington dari seseorang yang sangat di kenal itu.
"Apy" ucap Retaha, Reda, Tikha, Tisha dan Sailendra secara bersamaan.
__ADS_1