
"Sorry" gumam Gema ketika melihat Tisha yang berjalan dengan membawa kotak P3K menuju ke kelasnya dari rooftop.
...****************...
"Nah ini dia nih yang selalu bikin onar di sekolah kita guys" ucap Salsa ketika Tisha sudah masuk ke kelasnya.
"Ada apa lagi ini, Tuhan" keluh Elvana.
Tisha berhenti tepat di meja Ayumi, karena kini di meja Ayumi sedang berkumpul ke empat sekawan itu.
Tisha menarik nafasnya dalam-dalam dan membuangnya secara perlahan, "Mood gue lagi engga baik hari ini, lo bisa diem engga?" tanya Tisha kepada Salsa dengan tegas.
"Bisa" jawab Nomnom dengan cepat dan menganggukkan kepalanya.
"Ih Nomnom apa sih" ucap Salsa.
"Emang si Naomi doang yang waras dari pada kalian bertiga"
"Emang lo doang yang si pembuat onar yang lain mah engga" timpal Siska dan membuat kedua temannya tertawa terkecuali Naomi.
"Sha udah, biarin aja" teriak Reysha.
"Tuh dengerin ajudan lo, disuruh diem" ledek Ayumi yang tak ada kapoknya selalu membuat Tisha marah, padahal baru saja tadi dirinya terkena tamparan maut dari seorang Tisha Elenora.
"Lo masih belum kapok ya Yum" kata Tisha.
"Apa? Kapok?" tanya Ayumi dengan wajah remeh.
"Lo yang harusnya kapok udah berani sama gue, Tisha!" teriak Ayumi dan mengangkat tangannya untuk menampar pipi Tisha.
"Tisha awas!" teriak Elvana dan juga Reysha sambil menutup matanya.
Tisha yang sudah tahu gerak gerik Ayumi pun sigap menahan tanganya sebelum sampai ke wajahnya, "sebelom tangan lo yang kena pipi mulus gue, tangan lo duluan yang gue patahin!" tegas Tisha yang memutarkan tangan Ayumi ke belakang tubuhnya.
"Aws"
"Gimana? Sakit?" tanyanya dengan bisikan di telinganya.
"Lepasin Ayumi, Tisha" teriak Salsa.
"Kenapa? Engga Terima? Lo mau juga?"
"Beraninya ya elo sama gue" teriak Salsa.
Dan
__ADS_1
Bruk...
Ayumi dan Salsa menimpah tubuh molek Naomin dna juga Siska.
Para siswa kelas X IPS 5 pun tertawa terbahak-bahak melihat kejadian itu.
"Daebak" teriak Elvana yang langsung membuka matanya lebar-lebar karena Tisha sudah berhasil membuat Ayumi and the geng malu sampai ke ubun-ubun.
"Engga usah ganggu hidup gue!" tegas Tisha dan berjalan ke arah mejanya.
"Lah lo mau kemana, Sha?" tanya Reysha ketika melihat Tisha yang mengambil tasnya.
"Bolos"
Sailendra yang sedang memejamkan matanya pun langsung sigap untuk berdiri ketika mendengar kata "bolos"
"Kuy" teriaknya tapi tidak ada gubrisan dari Tisha yang tetap jalan menuju keluar kelas.
"Heh Sai, bukannya lo tahan malah ikut" teriak Reysha.
"Gue aduin ya ke daddy" teriak Reysha lagi dan hanya mendapat lambaian tangan saja dari Sailendra.
"Sha tungguin gue dong" ucap Sailendra yang tertinggal di belakang Tisha.
"Tumben nih sekolah sepi amat" lanjutnya, sepertinya dirinya benar-benar lupa kejadian yang baru saja terjadi, yang dimana terjadi baku hantam di sekolahnya.
"Aduh aduh aduh telinga gue, siapa sih yang berani-beraninya tarik telinga gue anjir" gerutu Sailendra yang baru saja hendak berbelok ke arah parkiran mengikuti Tisha yang akan menaiki mobilnya.
"Woy anjir telinga gu... " ucapnya terhenti ketika melihat sudah ada Miko dan juga Ardan yang berada di belakangnya.
"Eh ada duo babang" ucapnya diiringi dengan kekehan kecil karena merasa malu sudah ketangkap basah ingin bolos.
"Mau kemana lo?" tanya Miko dengan wajah garangnya.
"Tuh mau temenin Tisha bolos" jawabnya dengan jujur tanpa ada raut wajah penuh dosa.
"Bisa-bisanya lo mau temenin bukannya di larang!" ucap Ardan dengan penuh intimidasi.
"Balik ke kelas sekarang atau gue bilangin ke Apy" tegas Miko.
Mendengar nama sang Apy Sailendra langsung menekuk wajahnya "iya iya, gue balik lagi ke kelas" katanya dengan patuh dengan wajah memelas.
"Pasti si Reysha ini yang bilang, dasar tukang ngadu!" gerutu Sailendra sambil kembali menaikk tangga untuk kembali ke kelasnya.
"Engga usah ngedumel!" tegas Ardan yang mendengar dumelan dari Sailendra.
__ADS_1
Sailendra yang harus kembali lagi ke kelasnya karena ketahuan oleh Ardan dan juga Miko, begitupun dengan Tisha yang di kejutkan dengan kedatangan sang kakak yang mengetuk kaca mobilnya, "loh kakak" katanya.
"Turun" perintah Kalan dengan wajah tegas.
Mau tak mau Tisha pun mengikuti perintah dari Kalan, "pindah, biar kakak yang bawa mobil" katanya.
Tisha mengerutkan keningnya mendengar perkataan dari sang kakak, "kakak bilang pindah, ya pindah Latisha Elenora" tegasnya.
Deg..
"Iy... iya kak" katanya sambil berjalan ke arah kursi penumpang.
"Kakak kenapa ya?" gumamnya dalam hati.
Kalan pun masuk ke dalam mobil Tisha untuk mengambil alih kemudi.
"Kakak engga pernah larang kamu untuk melakukan hal apapun, Tisha. Tetapi kakak juga engga minta untuk kamu kenal pria, jika kamu menangis karena terluka, berarti kakak memang tidak becus untuk menjaga mu" ucap Kalan dengan penuh intimidasi dan makna di setiap perkataannya.
Jleb...
Tisha semakin merasa terperosok oleh perkataan dua pria yang ia temui beberapa menit yang lalu.
"Cukup kakak yang terluka karena cinta, kakak engga bisa kalau sampai liat adik-adik kakak harus terluka hanya karena cinta yang tak akan ada ujungnya" lanjutnya lagi sambil menggenggam stir mobil kuat-kuat untuk menahan emosinya.
Tisha mulai kembali meneteskan air matanya tanpa suara.
Inilah hal yang sangat menyakitkan, menangis tanpa bersuara itu sangat amatlah sakit dan sesak.
"Anggaplah kakak ada, de. Kalandra Elvano ini adalah kakak kamu, kakak kandung kamu, kakak yang harus menjaga adik-adik nya. Kamu, Tikha, Nathan adalah tanggung jawab kakak. Jangan samakan kakak dengan beberapa teman kamu, yang engga pernah dijadikan tempat ternyaman kamu untuk bercerita ataupun berkeluh kesah"
"Daddy dan mommy pasti kecewa sama kakak, karena engga becus jagain kamu"
Jika seorang pria sudah meneteskan air matanya itu tandanya dirinya sudah benar-benar merasa lelah ataupun terluka sangat dalam, lihatlah kini Kalan meneteskan air matanya dan menambah kecepatan mobil milik Tisha.
"Kamu paling ceria, engga pernah sedikit pun terlihat menangis, yang kalau ada apa-apa selalu cerita. Tapi kenapa kamu sekarang seperti ini, Sha? Berubah"
"Kamu engga anggap kakak ada lagi?"
"Apa kakak harus mencari taunya semua sendiri?Hem?"
"Apa kakak engga berhak kalau harus tau langsung dari mulut adik-adik kakak?"
"Jawab kakak, Tisha"
"Jawab" bentak Kalan tanpa sadar.
__ADS_1
Selama ini Kalan adalah tipe pria penyayang yang tidak pernah membentak siapapun, sekalipun Kalan benar-benar marah, Kalan tidak pernah menunjukkan amarahnya, dirinya selalu tersenyum dan menenangkan dirinya terlebih dahulu barulah dirinya bisa berbicara dengan baik.