
Tap...
Erlan tersenyum ketika melihat di hadapannya kini sudah ada Tisha yang berada di pelukan sang kakak yang sedang di tenangkan oleh Kalan.
"Sayang" panggil Erla kepada Tisha.
Tisha yang memang sangat mengenal suara itu dengan baik pun melepaskan pelukan dari sang kakak dan menghapus air matanya, membalikan badan dan tersenyum manis menyambut sang kekasih, "sayang" panggil Tisha lagi dan memeluk tubuh Erlan.
Erlan tersenyum, "tenang sayang, kamu tau bukan kalau Gema itu kuat?" tanya Erlan dengan nada yang sangat menghangatkan.
Tisha menganggukkan kepalanya, "maaf" cicitnya.
"Why baby?"
"Seharusnya aku engga kesini" jujur Tisha yang memang sudah teradar akan kesalahannya.
"Kamu engga salah ko sayang, kamu udah benar. Hal itu wajar kok, kamu jenguk yang sakit itu adalah hal baik, Sha" jelas Erlan.
Tisha melepaskan pelukannya dan tersenyum menatap ke arah Erlan, "terimakasih" ucapnya dan diangguki oleh Erlan dengan diiringi senyum manis yang di berikan oleh Erlan.
"Eh ada nak Kalan" sapa bunda Gema yang baru saja tiba di ruangan Gema setelah menghabiskan waktu makan siang bersama dengan sang suami, Chandra.
"Eh bunda" kata Kalan dan menyalami tangan bunda dan juga ayah Chandra.
Hanya Kalan, Gema, Galih, daddy Ardi, mommy Adin, para om dan tante dari keluarga Wijaya dan Chandra sajalah yang mengetahui identitas asli masing-masing, baik bunda, Tisha dan Tikha serta para sepupu dan teman-teman yang lain pun tidak mengetahui siapa Gema dan keluargannya itu.
Masa lalu ayah Chandra membuat mereka semua harus menutup rapat-rapat semua kenangan yang sudah terjalin di masa lalu, yang mampu membuat bunda akan semakin marah dengan Kalan dan keluarganya yang lain.
Entah karena apa bunda sampai sebegitu bencinya kepada mommy Adin, padahal baik mommy ataupun daddy Ardi tidak pernah mengganggu bunda.
"Siang om, tante" sapa Tisha dan juga Erlan.
"Siang" jawab ayah Chandra namun tidak dengan Bunda.
Melihat dari style yang di miliki oleh Tisha, bunda Sintia pun langsung menunjukkan wajah tak sukanya.
Kalian ingat bukan bahwa bunda Sintia memang sangat tidak menyukai wanita tomboy, karena itu mengingat kan dirinya kepada mommy Adin si wanita yang selalu tersimpan dengan baik dalam lubik hati suaminya.
Belum tau nama dan asal Tisha saja bunda sudah seperti ini, bagaimana jika bunda sudah tau dengan kenyataan yang sebenarnya bahwa Tisha adalah anak dari wanita masa lalu suaminya. Mommy Adin.
Erlan dan Tisha mengerutkan keningnya, berbeda dengan Kalan yang memang sudah tau bahwa bunda memag sangat tidak menyukai wanita tomboy, itu pun menjadi salah satu alasan kenapa Kalan tidak memperbolehkan sang adik dekat dengan Gema.
"Ini adik Kalan bun, Tisha" ucapnya.
"Dan ini... " belum Kalan melanjutkan pembicaraannya, sang bunda sudah memotong pembicaraan Kalan.
"Oh jadi kamu yang bernama Tisha?" teriak bunda.
__ADS_1
Bunda memang mengetahui tentang Tisha namun hanya tentang kecelakaan ini karena Gema yang patah hati karena wanita bernama Tisha.
"Iya tante" jawab Tisha yang tak kalah terkejut mendengar teriakan sang bunda.
"Jadi kamu yang udah buat anak saya kecelakaan, iya?!" teriak sang bunda lagi dan mendekat ke arah Tisha untuk menampar Tisha.
Namun dengan sigap Kalan langsung menahan tangan bunda dan berdiri di depan Erlan, karena Tisha yang langsung di tarik Erlan untuk berada di belakang tubuhnya.
"Dasar anak pembawa sial!" teriak Sintia lagi.
"Jaga ucapan anda tante!" tegas Kalan dengan sorot mata yang tajam dengan menurunkan tangan bunda Sintia.
"Bun apa-apaan sih kamu" tegas ayah dengan memancarkan raut wajah kecewa.
"Bawa Tisha pulang dari sini, Erlan" perintah Kalan dengan suara yang tidak ingin di bantah.
Erlan menganggukkan kepalanya, "ayo sayang kita pulang" ajak Erlan dengan suara yang sama seperti Kalan, yang tidak ingin di bantah.
"Iya" jawab Tisha berjalan meninggalkan Kalan dan juga kedua orang tua Gema dengan tangan yang di genggam oleh Erlan.
"Kamu engga apa-apa sayang?" tanya Erlan kepada Tisha.
"Aku engga apa-apa ko" jawab Tisha dan diangguki oleh Erlan
Tisha baru pertama kali ini melihat amarah Erlan ya walaupun tidak sepenuhnya mengeluarkan amarahnya.
Wajah putih yang memerah karena menahan emosinya, diam, dingin dan cuek namun masih perhatian itulah yang sedang dihadapi oleh Erlan dan juga Tisha.
Erlan mengeluarkan nafasnya, "kamu engga salah sayang"
"Maaf aku cuek" katanya.
Tisha ikut tersenyum, "engga apa-apa ko" jawab Tisha.
Cup... Erlan mengecup pucuk kepala sang kekasih untuk menenangkan sang kekasih dan dirinya.
...****************...
"Kamu apa-apan sih mas, lepasin aku" teriak Sintia.
"Jaga ucapan kamu, Sintia!" tegas Chandra.
"Biarin aja, memang karena wanita tak jelas itu anak kita menjadi seperti ini"
"Tante!" teriak Kalan dengan amarah yang masih tertahan karena Kalan masih menghormati Sintia yang lebih tua darinya.
Dengan tangan mengepal Kalan kembali membuka suaranya, "jangan pernah tante menyalahkan adik saya, Gema seperti ini karena kelalaian dari anak anda, bukan karena adik saya!"
__ADS_1
"Jangan pernah anda menyentuh adik saya seujung kuku pun, jika itu terjadi anda akan berhadapan dengan saya!"
"Untuk anda tuan Chandra, tolong ajarkan istri anda sopan santun! Dan tolong ajarkan istri anda untuk menghormati orang lain, jangan asal menuduh tanpa bukti!"
"Saya permisi" lanjutnya dan meninggalkan pasangan suami istri itu.
"Sintia!" teriak Chandra.
"Kita pulang!" teriak Chandra sambil membawa sang istri untuk pulang ke rumahnya.
"Mas lepas mas" teriak Sintia dengan memohon untuk di lepaskan.
"Diam kamu!" bentak Chandra dan Sintia pun terdiam karena bentakan itu.
...****************...
"Anjir Ren, lo liat gara-gara lo kasih tau si Tisha. Malah makin runyam urusannya" kata Niko kepada Reno.
Reno dan Niko melihat mereka dari balik tembok.
"Maksud gue kan baik, Nik"
"Ya salah kalau kaya gini tuh jadinya, Ren"
"Terus gue harus gimana?"
"Engga tau gue juga pusing, lo sih gegabah" kata Niko sambil keluar dari tpat persembunyian nya karena kedua orang tua Gema, Tisha, Erlan dan juga Kalan sudah tidak ada di depan ruang ICU.
"Ah bodo lah, yang penting Tisha udah kesini dan kasih semangat buat Gema" kata Reno kepada Niko.
"Eh bentar" kata Niko ketika melihat Marsha yang baru saja tiba.
"Mau kemana lo?" tanya Reno dengan menghadang pintu ruang ICU Gema.
"Awas, gue mau masuk"
"Engga boleh!"
"Siapa lo?"
"Sahabatnya"
"Awas!"
"Engga usah bikin malu deh, lo engga malu di liatin banyak orang kaya sekarang" kata Marsha, mendengar itu Reno dan Niko pu melihat ke sekeliling bahwa benar kini mereka bertiga sedang di perhatikan.
Bagaimana tidak di perhatikan? Baru saja tadi ada pertengkaran dari Tisha dan bunda Sintia, kini sudah ad alagi pertengkaran dari Reno dan juga Marsha.
__ADS_1
"Yaudah sana masuk" kata Reno.
"Dari tadi kek" kata Marsha dan masuk ke dalam ruang ICU.