
"Sha tunggu" teriak Gema.
Tisha berhenti dan membalikkan badanya "ada apa lagi sih Kak?"
"Kamu kenapa?" tanya Gema dengan mendekat ke arah Tisha.
"Gue engga apa-apa" jawabnya.
"Bener? Terus tadi kenapa jutek banget?"
"Gue kan emang begitu kak"
"Yakan tapi ke gue engga begitu juga Sha"
"Yaudah sorry, udah kan?"
Gema menggeleng "belum"
Tisha menaikkan satu alisnya "apa lagi?" tanyanya.
"Lo kenapa? Lagi kesel? Karena tadi? Sakit kah?" tanya Gema.
Tisha menggeleng "engga juga"
"Terus kenapa?"
"Gue lagi kesel aja tadi sama si Reysha, Tikha juga"
"Kenapa?"
"Mereka bilang kalau lo itu udah bikin perhitungan ke ka Marsha biar dia engga gangguin gue lagi!"
"Yang mereka bilang itu kan bener, Sha. Apa salahnya?"
Tisha menggeleng "engga ada sih"
"Ya terus kenapa?"
"Lo tau engga sih kak, kak Marsha akan semakin benci sama gue kalau kaya gitu caranya!"
"Engga akan, Sha. Marsha engga akan benci lagi sama lo"
"Ya itukan kata lo, bukan kata ka Marsha nya"
"Mau gue tanyain?"
"Percuma tau engga kalah lo yang tanyain, dia engga akan jujur. Kalau dia jujur sama aja kaya lagi bangunin singa tidur"
Gema terkekeh mendengarnya "engga akan, Sha"
"Udah kak, gue mau masuk. Ada pelajaran Ekonomi"
Gema menganggukkan kepalanya "oke" jawabnya, dan berlalu lah Tisha meninggalkan Gema.
"Eh eh itu si Sailendra 'kan?" tanya Tisha di dalam hati ketika melihat Sailendra sedang di hormat kepada bendera merah putih.
Tisha terkekeh sambil menggelengkan kepalanya "kayanya seru nih lalai di videoin" katanya lagi dan mengambil ponselnya lalu menekan fitur kamera untuk memulai video.
"Hay mas mas ganteng" ledek Tisha.
__ADS_1
"Ck engga usah ganggu gue, bisa?" tanya Sailendra dengan ketus.
Tisha menggeleng sambil terkekeh "enggak!"
"Kak Kalan nih si Latisha Elenora Prasetya Wijaya gangguin saya!" teriak Sailendra yang membuat Tisha ketar ketir dan langsung berlari terbirit-birit meninggalkan lapangan. Bisa gawat kalau kakaknya melihat dirinya ada di lapangan, bisa kena hukum juga.
Sailendra terkekeh melihat itu "takut juga lo ke Ka Kalan" monolognya.
"Lama amat ya 15 menit" keluh Sailendra.
"Mana haus banget lagi" keluhnya lagi.
"Mau minum ya?" tanya Reysha yang mendekat ke arah Sailendra.
Sailendra pun melihat ke arah Reysha, Tikha dan juga Elvana "ck, baru aja tadi si tomboy sekarang udah ada lagi gengnya" keluh Sailendra.
"Eumm Enak" kata Reysha sambil meminum esnya.
Glek... Sailendra tergiur! Sailendra haus maksimal!
"Mauin ya?" ledek Tikha dan membuat ketiganga tertawa terbahak-bahak.
Sailendra kembali memasang muka tak bersahabat, dan kembali berteriak "Ka Ardan, ka Miko, ka Kalan, nih Tikha Eleaner, Reysha sama Elvana gangguin saya!"
"Anjir, kabur guys" teriak Reysha dan ketiganya pun lari terbirit-birit sama seperti Tisha tadi.
Sailendra tertawa terbahak-bahak melihatnya "gila sih, nama mereka bertiga emang keramat!" kata Sailendra. Padahal ketiganya memang tidak ada, tidak tahu kemana.
"Bentar lagi, yes" kata Sailendra ketika melihat jam tangannya.
...****************...
"Ck ada apa sih?" gerutu Tikha yang melihat nama Devandra Narendra lah yang berada di layar ponselnya.
Bukan tanpa alasan Tikha tidak mau mengangkatnya tetapi memang kini masih di jam pelajaran Ekonomi, yang dimana guru Ekonomi adalah salah satu guru kiler di sekolahnya.
"Siapa sih, Kha?" tanya Tisha kepada Tikha.
"Bukan siapa-siapa, Sha"
"Tapi dia telponin kamu terus loh dari tadi"
"Bukan orang penting"
"Oh" jawabnya sambil menganggukkan kepalanya.
"Ko perasaan aku jadi engga enak gini ya" gumam Tikha.
"Sama, Kha" timpal Tisha yang mendengar gumaman Tikha.
"Bakal ada apa ya, Sha?"
Tisha menggeleng "aku juga engga tau kha, tapi yang pasti kamu jangan jauh-jauh dari aku" jelas Tisha dan diangguki oleh Tikha.
...****************...
Kring..... Suara bel telah berbunyi menandakan bahwa waktu istirahat telah tiba.
Kini ke empat sekawan itu pergi ke kantin untuk mengisi perutnya yang sudah keroncongan.
__ADS_1
"Makan bakso kayanya enak nih" kata Tikha.
"Iya bener juga tuh" timpal Elvana.
"Mau duduk dimana?" tanya Tisha kepada Reysha, Tikha dan juga Elvana.
"Tempat biasa aja, di pojokan" jawab Reysha.
"Oke" jawab Tisha dan keempatnya pun berjalan ke arah meja yang paling pojok tepat biasa mereka duduk.
"Gue pesenin" kata Elvana.
"Mau ikut, gue yang pesen minumnya" timpal Reysha dan diangguki oleh Elvana.
Tak lama Reysha dan Elvana datang dengan membawa makanan dan minuman pesanan mereka, keempatnya pun memakan makananya dengan santai.
Sedang asik dengan makanan masing-masing terdengar suara riuh gaduh dari arah dalam "dimana Tikha?"
"Yang mana yang namanya Tikha?" teriak seseorang dari dalam.
"Tikha!" panggil seseorang yang suaranya sudah tidak asing lagi di telinga Tikha.
Tikha, Tisha, Reysha dan Elvana pun menoleh ke asal suara..
Uhuk... Uhuk... Uhuk... Tikha tersedak ketika melihat siapa yang sudah membuat gaduh.
Terlihat banyak siswi yang ketakutan melihat Dafa datang dengan beberapa bodyguard yang membawa senjatanya.
Ya yang datang ke SMA SATYA saat ini adalah Dafa saudara kembar dari Devan.
"Da... Dafa" ucap Tikha dengan tubuh yang bergetar hebat.
"Kha" panggil Tisha dan langsung memeluk tubuh Tikha yang sudah bergetar hebat.
Tikha memang punya trauma terhadap senjata api, karena dari sejak kecil Tikha adalah sasaran empuk anak kecil yang selalu di culik, dan pernah suatu ketika Tikha melihat langsung bagaimana korban penculikan di bunuh dengan senjata api di hadapannya. Dari situ lah Tikha seakan trauma ketika melihat senjata api.
"Cepet hubungi kakak atau Sailendra, gue bisa ngulur waktu, tapi gue engga bisa buat melawan mereka. Karena kalau gue lawan mereka lo engga ada yang jaga. Selagi gue ngulur waktu kalian berdua jaga Tikha" bisiknya dan diangguki oleh ketiganya.
"Siapa lo?" tanya Tisha.
Kini keadaan Kantin sudah sepi, karena para bodyguard dari Dafa sudah mengusir mereka begitu pun dengan guru dan kepala sekolah yang tidak berani untuk ikut campur karena mereka membawa senjata.
"Ko kamu ada dua sih?" tanya Dafa yang nada bicaranya di lembut-lembutkan.
"Engga usah banyak basa-basi deh. Lo siapa?"
"Kamu engga kenal aku? Aku Dafa yang pernah DM kamu"
Yap! Satu yang tidak Tisha ketahui, Tikha sudah tidak jujur kepadanya karena hal ini.
"Lo siapa?" tanya Dafa kali ini dengan nada yang tinggi.
"Gue Latisha, saudari kembar dari Latikha yang elo kenal"
Dafa tersenyum "cantik juga"
Tak menunggu waktu lama, Kalan, Ardan, Sailendra dan Miko datang dan langsung membuat satu barisan menjadi garda terdepan. Jadi kini Tisha berada di belakang mereka berempat dan Tikha, Reysha dan juga Elvana berada di belakang Tisha.
Tisha membuang nafas lega karena akhirnya mereka berempat pun telah tiba, jadi sekarang dirinya bisa fokus untuk menjaga Elvana, Reysha dan juga Tikha yang tidak bisa berkelahi, terutama seorang Tikha yang kini tubuhnya masih bergetar hebat.
__ADS_1
"Siapa lagi nih?" tanya Dafa ketika melihat Kalan, Miko, Ardan dan juga Sailendra datang.