
"Cie... Selamat untuk Ka Ardan dan juga Ka Kia" teriak semua siswa dan siswi SMA SATYA dengan ponsel yang masih merekam kejadian hari ini.
"Selamaaat" teriak Reysha, Rea, Tikha dan juga Tisha.
Kia merasa terkejut ketika melihat kini dirinya di kelilingi oleh siswa dan siswi SMA SATYA "malu" ucapnya sambil menyembunyikan kepalanya di dada bidang Ardan.
Ardan yang melihat tingkah lucu yang kini menjadi kekasihnya pun terkekeh dan mengusap kepala sang kekasih "engga usah malu" bisiknya.
"Sosweet" lagi-lagi teriakan dari siswa dan siswi SMA SATYA secara kompak.
Kia menjadi semakin malu di buatnya, lihatlah wajah Kia kini sudah memerah bagaikan kepiting rebus.
^^^Kalandra Elvano^^^
^^^Om, siapkan pesta kecil-kecilan untuk Ardan dan juga Kia besok^^^
***
"Elo engga mau kaya gitu juga, Gem?" tanya Reno.
"Belum waktunya" jawab Gema dengan tangan yang di masukkan ke dalam saku celananya.
Memang Gema dan kedua temannya melihat apa yang dilakukan Ardan kepada Kia. Gema tak merusak suasana bahagia tersebut, Gema tak memiliki masalah pada keduanya, jadi untuk apa Gema merusak suasana bahagia ini.
***
"Tuan Ardi" panggil Nicholas.
"Ya, Nicholas" jawab Ardi.
"Tuan muda Kalan mengirimkan pesan kepada saya, bahwa saya di perintahkan untuk menyiapkan pesta kecil-kecilan untuk tuan muda Ardan dan juga nona Kia"
"Kia?"
"Siapa Kia?" lanjut Ardi.
__ADS_1
"Saya belum tahu betul tentang Kia, Tuan. Yang saya tahu dari mata-mata yang saya kirimkan, bahwa Tuan Muda Ardan sudah berhubungan dengan nona Kia, hari ini"
Ardi menganggukkan kepalanya "cari tahu tentang Kia, saya tunggu satu jam lagi"
"Baik tuan" setelah mengatakan itu, Nicholas langsung mencari tahu tentang Kia dan Ardi masuk kedalam rumahnya.
"Daddy" panggil anak bungsunya.
"Hay boy, kamu sedang apa?"
"Sedang menonton, dad"
"Baiklah, apakah semua tugas mu sudah selesai di kerjakan?"
"Sudah dad"
"Dimana mommy?"
"Dikamar dad, tadi bilangnya mau mandi dulu"
"Oke dad"
Begitulah cara Ardi memperlakukan anak-anaknya, tidak begitu di manjakan dan tidak begitu di tekan, biarlah mereka jadi diri mereka dan memilih hidupnya ingin menjadi apa, begitu pun dengan si sulung. Ardi tidak pernah membeda-bedakan anak-anaknya, Ardi selalu memberikan pengertian bahwa perusahaan yang sudah di bangun dengan susah payah itu harus memiliki pengganti dirinya, dan keempat anaknya hanya menganggukkan kepalanya. Tetapi sepertinya Kalan yang akan mengikuti keinginannya, karena sejak kecil Kalan sangat senang jika diajak ke perusahaan dan sedikit demi sedikit Kalan belajar tentang bisnis.
Ardi sempat tersenyum ketika melihat respon Kalan yang sangat cepat tanggap perihal bisnis, Ardi memang melihat potensi yang dimiliki dalam diri si sulung yang sangatlah kompeten dalam berbicara dan itu membuat Ardi semakin yakin bahwa Kalan memang layak untuk di jadikan penerus dirinya.
Berbeda dengan si bungsu yang terlihat lebih menguasai sains atau semua tentang ke dokteran, sepertinya Nathan lebih tertarik dengan dunia ke dokteran di bandingkan dunia Bisnis. Untung saja, perusahaan WJY GROUP memiliki beberapa cabang rumah sakit, jadi tidak perlu begitu mengkhawatirkan si bungsu jika lebih memilih terjun ke dunia ke dokteran. Biarlah mereka memilih jalan hidupnya masing-masing.
Bagaimana dengan si kembar? Ardi memang sempat bingung dengan si kembar yang masih belum menampakkan ketertarikannya dengan bisnis, tetapi jika untuk Tikha sepertinya memang dirinya sudah meyakinkan bahwa Tikha memang benar-benar tidak tertarik dengan dunia bisnis berbeda halnya dengan Tisha yang selalu bertanya-tanya kepada sang kakak mengenai bisnis. Biarlah waktu yang menjawabnya.
"Sayang" panggil daddy. Sampai sekarang memang panggilan mereka belum berubah jika mereka sedang berdua, tetap dengan panggilan sayang mereka yaitu "sayang dan mas".
"Iya mas"
"Wanginya" puji sang suami ketika memeluk sang istri yang baru saja keluar dari walk in closet.
__ADS_1
"Pasti lelah" ucap sang istri sambil mengusap punggung sang suami.
Sosweet sekali pasutri ini, masih saja terlihat awet muda dan semakin romantis dengan menambahnya umur mereka.
"Hem" jawab Ardi sambil menelusukkan kepalanya di dada sang istri, tempat ternyaman bagi Ardi.
"Mas mandi dulu ya, abis itu mas istirahat, nanti aku panggil saat waktunya makan malam"
"5 menit lagi sayang"
"Baiklah" putus Adin, dan kembali mengusap punggung sang suami dengan lembut. Senyum Adin tak pernah luntur dari wajahnya, inilah sisi lain dari Ardi, dibalik dirinya yang selalu dingin setiap kali bertemu dengan orang lain, tetapi selalu lembut kepada keluarganya, apalagi kepada dirinya yang tak pernah berubah dari dulu ketika mereka masih remaja.
Sungguh indah jalan hidup yang di jalani oleh Adin, walaupun awalnya sangat menyakitkan tetapi Tuhan memberikan pria yang lebih baik lagi dari sebelumnya.
"Aku sayang kamu" kata itu yang selalu Adin dengar setiap kali mereka sedang berdua seperti saat ini.
"Aku juga sayang kamu, mas" lihatlah walaupun mereka sudah berumur tetapi rasa sayang dan cinta mereka tak pernah pudar di makan waktu, malah semakin menguat seiring berjalannya waktu.
Cup.. Cium Ardi kepada kening Adin.
"Aku mandi dulu ya sayang, jika Nicholas sudah tiba, tolong suruh tunggu aku di ruang kerjaku saja"
"Baik mas" jawab Adin. Setelah mendapatkan jawaban dari sang istri, Ardi pun masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang terasa lengket. Melihat suami masuk kedalam kamar mandi, Adin pun berjalan ke Walk in closet untuk mengambil pakaian untuk sang suami dan setelah itu dirinya keluar dari kamar untuk menemani si bungsu menonton.
"Hay sayang" panggil Adin kepada si bungsu.
"Hay mom" jawab si bungsu dan langsung tidur dalam pangkuan sang mommy, memang itu adalah kebiasaan si bungsu yang selalu ingin tidur dalam pangkuan sang mommy jika sang daddy tidak ada, karena sampai sekarang pun sang daddy belum bisa berbagi sang istri.
Adin mengusap-ngusap lembut rambut Nathan "apa kamu merasa kesepian tidak ada kakak-kakak kamu, nak?"
Nathan pun menganggukkan kepalanya "mereka kapan pulang sih mom?"
Adin tersenyum mendengar pengakuan dari Nathan, walaupun mereka berempat sering bertengkar, tetapi pertengkaran itu yang membuat mereka saling merindu dan selalu menumpahkan rasa sayangnya, memang baik Ardi dan juga Adin selalu mengajarkan kepada anak-anaknya untuk saling menyanyangi satu sama lain, jangan saling menyakiti, karena jika bukan keluarga siapa lagi yang akan bersama mereka. Maka dari itu keempat anaknya selalu tampak menyayangi walaupun mereka sering bertengkar.
Setelah keluar dari kamar mandi, Ardi tersenyum ketika melihat sudah ada pakaian di atas tempat tidurnya, Ardi pun memakai pakaiannya dan mengambil ponselnya untuk menghubungi sang adik ipar, siapa lagi kalau bukan Rijal Putra, adik ipar satu-satunya yang di miliki oleh Ardi.
__ADS_1