
Lihatlah kening Rijal yang sudah berkedut ketika rasa pusing melanda dirinya "terus kenapa kalau si Ardan pacaran, Fer. Bukannya bagus? berarti anak gue normal, 'kan?" tanyanya sambil memijat pelipisnya pelan.
Inilah sifat Rijal yang tidak disukai oleh Ardi yang tidak akan mencari tahu tentang latar belakang siapa saja yang berteman dengan sang anak, bukan maksud Ardi ingin mencampuri urusan dari keluarga Rijal, tetapi Ardi hanya khawatir jika Ardan memilih wanita yang salah.
"Ya, anakmu normal, Jal"
"Memangnya kamu tidak ingin mencari tahu tentang latar belakang dari wanita itu?" tanya Ardi dan Rijal menggelengkan kepalanya.
"Ardan sama seperti ku, Fer. Dia tidak akan pernah ingin mencari tahu tentang gadis itu, bagi dia jika dia sudah jatuh cinta yasudah"
Ferdi menganggukkan kepalanya memahami apa yang adik iparnya katakan "Nicholas sudah mencari tahu tentang wanita anakmu, Rijal"
"Baiklah, gue yakin lo engga akan diam begitu aja jika itu menyangkut dengan keluarga"
Ardi menganggukkan kepalanya lagi membenarkan ucapan dari sang adik ipar "jelaskan, Nicholas"
"Baik tuan"
"Tuan muda Ardan sudah menyukai nona Kia sejak kelas 2 SMA, tapi tuan muda Ardan tidak mau mengungkapkan perasaannya, karena takut merusak pertemanannya, walaupun mereka berdua tidak begitu dekat, dan baru hari ini tuan muda Ardan memberanikan dirinya untuk mengungkapkan perasaannya dengan bantuan para sepupunya, begitu kabar yang saya dapatkan"
Rijal menggelengkan kepalanya "turunan gue semua di pendam, untung takdir sangat baik kepada mu, nak" monolognya.
"Mangkanya kalau jadi cowo itu yang gentel, Jal" ledek Ardi yang mendengar ucapan Rijal.
Rijal hanya mencebikkan bibirnya saja karena merasa kesal "lanjutkan, Nicholas"
Nicholas menganggukkan kepalanya "saya sudah mencari tahu tentang nona Kia, nona Kia atau dengan nama lengkap Erasma Adzkia Arayyan anak kedua dari pasangan tuan Herlambang Arayyan dan nyonya Yanti Arayyan pengusaha yang paling di takuti di negara London karena dulu mereka tinggal di negara London, dan keluarga Arayyan kembali ke Jakarta untuk menetap disini dengan memiliki perusahaan yang bekerja sama dengan perusahaan WJY Group"
"Arayyan" ucap Ardi sambil menatap lurus dengan mengetuk-ngetuk mejanya.
"Apakah dia cantik?" celetuk Rijal.
"Cantik dan lemah lembut" jawab Nicholas.
"Oke saya setuju dengan Kia"
"Gimana, Fer?" tanyanya kepada sang kakak ipar.
Ardi menganggukkan kepalanya juga "gue juga setuju"
"Nicholas, bukankah kita pernah mencari tahu tentang keluarga Arayyan sebelumnya?"
"Benar tuan, kakak pertama nona Kia adalah pria yang selama ini di tunggu oleh nona muda Tisha"
Ardi kembali menganggukkan kepalanya "dunia memang sangat sempit" celetuk Ardi.
"Lah, kenapa?"
"Mereka berdua akan sama-sama menjadi menantu di keluarga Wijaya"
"Iya juga, walaupun marga mereka akan berbeda. Tisha yang akan memakai marga Arayyan sedangkan Kia akan memakai marga Putra, tapi tetap saja darah Wijaya akan melekat kepada anak mereka"
__ADS_1
"Betul" jawab Ardi sambil menganggukkan kepalanya.
"Tuan Ardi, Tuan muda Erlangga akan menetap di Jakarta untuk bertemu dengan nona muda Tisha, kini tuan muda Erlangga sedang dalam perjalanan bersama dengan sang asistennya Angga"
"Biarkan mereka menyelesaikan masalahnya sendiri, Nicholas. Tetapi harus tetap dalam pantauan"
"Baik tuan"
***
"Apa kabarmu, Fris?"
"Baik mba, mba sendiri gimana kabarnya? Aku kangen banget sama mba" Friska memeluk tubuh sang kakak ipar yang sangat disayanginya itu.
"Mba juga baik"
"Oya mba, Anak-anak pada kemana? Ko sepi?"
"Twince sama si sulung lagi ke puncak, biasa MOS, kalau si bungsu baru aja tadi ke atas katanya mau main game" jelasnya.
"Oh" jawab Friska sambil menganggukkan kepalanya.
"Gimana Zahra, Fris? Kenapa engga ikut kesini?"
"Zahra baik mba, Zahra belum pulang mba. Tadi kak Rijal buru-buru jadi engga sempet nunggu Zahra pulang dulu" jelasnya dan diangguki oleh Adin. Karena Zahra seumuran dengan Nathan.
"Mba, mba" panggil Friska.
"Apa ada masalah serius?"
"Engga tau, tapi pas aku tanyain ke mas Ardi katanya cuma masalah kasmaran aja"
"Maksudnya gimana sih mba?"
"Anak mu punya hubungan spesial sepertinya dengan seorang wanita"
"Ha? Ardan maksudnya mba?"
"Iya dong Ardan, siapa lagi, masa Zahra? Zahra kan engga ikut kemah sama anak-anak" kekehnya.
Friska pun ikut terkekeh mendengarnya "gentel juga ya mba anak ku"
"Iya, aku juga engga nyangka bisa ngelangkahin sepupu-sepupunya"
"Iya benar. Tapi kak Ardi tau dari mana mba, kalau Ardan punya hubungan spesial?"
"Mba juga kurang tau sih, Fris. Soalnya belum tanya detail banget tadi"
"Oh"
***
__ADS_1
"Elvana kamu pindah lagi ya" ucap Gema ketika sudah naik bus.
"Iya kak, ini juga saya mau pindah" ucapnya. Gema hanya menganggukan kepala lnya saja.
"Kamu baik-baik aja kan, Tisha?" Tanya Gema kepada Tisha yang kini Tisha sedang memejamkan matanya dan earphone yang melekat di telinganya.
"Baik" jawabnya seadanya. Gema pun duduk di samping Tisha.
Sailendra yang melihat itu mengerenyitkan dahinya, karena melihat gerak-gerik Tisha yang tak seperti biasanya. Biasanya Tisha selalu ketus tetapi sekarang Tisha hanya diam saja dibuatnya.
"Tisha kenapa ya?" Monolognya dalam hati.
***
Begitupun di bus 2 yang dimana Tikha sudah tak bisa diam dan merasa tak enak dengan perasaannya.
"Kamu kenapa, Kha?" tanya Reysha.
"Aku engga tau nih, Ey. Ko perasaan aku jadi engga enak gini ya"
"Coba aku kirim pesan dulu ya ke Tisha" lanjutnya dan diangguki oleh Reysha.
^^^Latikha Elenaner^^^
^^^Kamu kenapa, Sha?^^^
Tak lama Tisha membalas pesan tersebut.
Latisha Elenora
Aku engga apa-apa, Kha
"Kenapa katanya?" tanya Reysha ketika Tikha sudah memasukan kembali ponselnya.
"Engga apa-apa katanya"
Reysha menganggukkan kepalanya "itu hanya perasaanmu saja kali"
"Semoga"
***
15 menit sudah dalam perjalanan, hari semakin larut, lihatlah di bus 1 sangat sepi mungkin karena mereka kelelahan dengan acara yang tidak ada habisnya itu ketika di Puncak membuat mereka memejamkan matanya.
Begitupun dengan Tisha yang sangat nyaman dengan pejaman matanya, kini kepala Tisha sudah berada di bahu Gema, entah sejak kapan posisi mereka seperti ini, yang dimana kepala Tisha berada di bahu Gema dan kepala Gema bersandar di kepala Tisha. Romantis sekali mereka jika terlihat akur seperti ini.
Awalnya Gema tersenyum dengan posisi Tisha yang bersandar nyaman di bahunya, tetapi lama-kelamaan Gema juga dilanda rasa kantuk yang sangat dalam, dan dirinya ikut memejamkan matanya.
"Aku tidak sudi melihat kamu bahagia bersama dengan Tisha, Gem. Lihat saja apa yang akan aku lakukan terhadap kalian berdua" gumam Marsha dalam hati ketika melihat Tisha dan Gema yang sedang terlelap.
"Kamu selalu saja selangkah lebih maju di depanku, Tisha. Lihat saja nanti aku akan merebut kak Gema dari hidupmu" gumam Ayumi sambil mengepalkan tangannya.
__ADS_1