
"Lio, lo kenapa?" tanya Lia kakak Lio.
"Aku lagi mikir ka"
"Mikir?" Lio mengangguk.
"Mikirin apa? Cewe pasti"
Lio terkekeh "tau aja lo, Ka"
"Tau lah, lo kan adik gue, Lio"
"Cewe yang mana lagi nih? Gue engga mau ya lo dapetin cewe kaya si Tasya" telaknya.
"Santai ka, cewe yang mau gue deketin sekarang kayanya engga akan kaya si Tasya deh"
"Ko pake deh si, Lio?"
"Yaa karena dia kembar"
"Kembar?" Lio kembali mengangguk.
"Siapa tuh?"
"Tikha"
"Tikha?" tanya Lia sambil berfikir, dimana dirinya pernah bertemu dengan Tikha.
"Siapa sih, Li. Jangan bikin teka-teki deh"
"Gue juga engga tau bener engga tau salah ya ka. Inget engga yang dulu gue pernah di tonjok sama anak cewe tomboy, yang kita langsung samperin sama papa itu malem-malem, ka"
Flashback On
“Mamaaa” teriak seorang anak kecil sambil menangis.
“Iy.. Loh-loh Lio kamu kenapa, nak?” tanya Putri panik.
“Lio kenapa, Ken?” tanya Putri kepada Kenan teman Lio.
“Itu tante, tadi Lio di tonjok sama anak cewe tante” Putri yang mendengar penjelasan dari Kenan pun membulatkan matanya “apa Ken, di tonjok?”
“Iya tante, Lio di tonjok sama anak cewe”
“Siapa anak itu, Ken?”
“Nama nya..” ucap Kenan sambil berfikir, karena dirinya lupa.
“Tisha mah, namanya Latisha” timpal Lio sambil sesegukan.
“Anak komplek sini?”
“Komplek sebelah, mah”
“Oh begitu, yaudah ayo mamah obatin dulu memar yang ada di wajah kamu itu” ucapnya sambil mengusap kepala sang anak dengan lembut.
“Ken, makasih ya udah anterin Lio pulang” ucapnya kepada Kenan, karena hanya kenan lah yang mengantarkan Lio pulang.
“Iya tante sama-sama. Kalau gitu Kenan pulang dulu ya, tan”
“Iya Ken, hati-hati ya”
“Iya tante”
***
Nathalio putra Lingga adalah anak kedua dari pasangan Putri dan juga Rizki, Lio si anak bungsu itu terlahir dengan penuh kasih sayang sama seperti sang kakak Lia. Tapi sayangnya Lio sangat berbeda dengan Lia, Lia terlahir sebagai wanita yang baik dan lemah lembut sama seperti bibi dari sang ayah. Berbeda dengan Lio yang terlahir menjadi pria yang arogan dan penuh ambisi sama seperti kedua orang tuanya, dirinya tidak akan pernah mau di kalahkan oleh siapa pun. Lio hanya bisa lembut kepada keluarganya saja. Selebihnya Lio benar benar menjadi pria yang penuh dengan amarah.
__ADS_1
“Emang siapa yang salah, sayang?” tanya Putri kepada Lio sambil mengompres memar yang ada di pipi sang anak.
“Cewe itu lah, ngapain tiba-tiba nonjok muka Lio”
“Lio melakukan kesalahan tidak awalnya?”
“Engga mah“
“Yaudah kalau engga nanti bilang ya sama papah, biar nanti kita ke rumahnya buat minta pertanggung jawaban untuk kamu”
“Iya mah”
***
“Papah” teriak Lia ketika melihat sang papah baru pulang dari kantor.
“Eh iya sayang. Aduh anak cantik papah”
Cup.. Lia mencium pipi sang papahnya itu.
Cup.. Rizki pun membalas ciuman sang anak.
“Pah, ayo pah kita ke kamar Lio”
“Ada apa emangnya?”
“Lio tadi di tonjok sama anak cewe pah” wdunya sambil terkekeh.
Rizki yang mendengarnya melototkan matanya. Bagaimana bisa anak laki-lakinya kalah dengan wanita. Pikirnya.
“Ko bisa sih, sayang?”
“Engga tau pah”
“Ayo kita ke kamar Lio”
Ceklek…
Terlihat lah Putri yang sedang menyuapi sang anak bungsunya itu, karena Lio merajuk tidak ingin makan malam, karena wajahnya yang masih memar bekas tonjokan itu.
“Siapa yang udah berani-beraninya menonjok wajah anak bungsu papah ini, hem?” tanya Rizki kepada Lio.
“Tisha pah namanya Latisha. Dia anak komplek sebelah”
“Ayo kita kesana” ucap sang papah dengan tegas.
“Ayo pah” jawab Lio dengan penuh semangat.
Rizki dan keluarganya pun mendatangi kediaman keluarga Wijaya dengan asisten pribadinya.
“Maaf mau bertemu dengan siapa ya, pak?” tanya satpam yang ada di rumah Wijaya.
“Kami ingin bertemu dengan anak yang bernama Latisha” jawab Beni.
“Sebentar tuan”
“Baik”
Setelah menunggu lima menit, satpam pun membukakan gerbangnya agar Beni bisa masuk.
“Silahkan masuk tuan” ucapnya dan Beni pun menganggukan kepalanya.
“Bener ini rumahnya, Ben?” tanya Rizki kepada sang sisten pribadinya.
“Benar tuan muda, ini adalah rumah anak perempuan itu”
“Baiklah, ayo kita turun” ajak Rizki kepada kedua anaknya dan juga Putri.
__ADS_1
Tok… Tok… Tok… Beni mengetukkan pintu rumah Wijaya.
Ceklek…
“Selamat malam” sapa kepala pelayan rumah Wijaya.
“Malam. Apakah kami bisa bertemu dengan nona Tisha?”
“Maaf dengan siapa ya?”
“Katakan saja pada Tisha, ada anak kecil yang tadi di tonjoknya datang” jawab Rizki.
“Baik. Silahkan masuk, sebentar saya akan panggilkan nona muda Tisha”
“Ya” jawab Rizki.
Rizki dan keluarganya pun duduk di sofa ruang tamu keluarga Wijaya, dan kepala pelayan pergi untuk memanggil tuan besar dan yang lainnya sambil membuatkan minum untuk tamunya.
“Selamat malam tuan, maaf mengganggu waktu anda. Tapi ada tamu yang mencari nona muda Tisha” ucapnya dengan menundukkan kepalanya.
“Siapa?”
“Beliau hanya bilang, anak pria yang tadi di tonjok oleh nona muda Tisha, tuan”
“Daddy dia benar-benar datang” timpal Tisha ketika mendengar apa yang di katakan oleh sang bibi.
“Iya sayang. Ayo kita temui dia”
“Ayo daddy”
“Saya akan menemuinya. Bibi buatkan minum dan makanan ringan saja untuk mereka”
“Baik tuan” sang kepala pelayan pun pergi ke dapur untuk membuatkan minuman dan makanan. Sedangkan Ardi dan Tisha pun menghampiri tamu itu.
***
“Selamat malam” ucap Ardi.
Rizki dan keluarga ya yang mendengar suara pun menoleh ke arah suara tersebut.
Dan
“Ferdi” ucap Putri sambil membulatkan matanya.
Tisha yang mendengar itu pun mengerenyitkan dahinya “Ferdi siapa Dadd?” tanya Tisha kepada sang ayahnya itu.
“Ehh.. Itu nama Daddy sayang, dulu daddy di panggil dengan sebutan Ferdi” jelasnya.
“Terus kenapa daddy dan tante itu saling kenal?”
“Tante ini adalah kakak kelas daddy dan mommy waktu daddy dan mommy SMA sayang” jelasnya lagi dan diangguki oleh Tisha.
Tisha dan sang daddy pun duduk di kursi panjang yang berada di ruang tamu itu.
Tak lama pelayan pun datang dengan membawakan beberapa makanan serta minuman.
“Bi, tolong panggilkan nyonya” titah Ardi.
“Baik tuan” jawabnya dan pelayan itu pun memanggil nyonya besarnya itu.
Tak lama Adin pun datang bersama dengan Tikha “Loh, kamu Pu.. Putri 'kan?” tanya Adin ketika melihat putri di hadapannya. Putri pun menganggukan kepalanya.
“Hey apa kabar?” tanyanya dan mendekat ke arah Putri sambil memeluk tubuhnya.
“Ak.. Aku baik. Bagaimana dengan mu?”
“Aku juga baik” jawabnya dan keduanya pun tersenyum. Adin dan Putri pun kembali duduk di sofanya masing masing.
__ADS_1
“Mas” panggil Adin. Ardi yang mengerti maksud dari sang istri pun mengangukkan kepalanya.