Twince LA

Twince LA
Pantai Anyer


__ADS_3

"Lah kenapa balik lagi lu?" tanya Reysha kepada Sailendra dengan bernada ledekan.


"Dasar tukang ngadu" katanya dan kembali duduk di kursi miliknya.


Reysha yang mendengar itu hanya terkekeh, "bodo amat" katanya sambil menjulurkan lidahnya.


...****************...


Bugh...


Bugh...


Bugh...


"Lo apa-apaan sih Van, kenapa lo harus datang ke SMA SATYA, hah?" teriak Dafa kepada Devan yang kini sedang menahan rasa sakit di badannya karena amukan dari Dafa.


Ya Devan lah yang memberitahukan kepada daddy Ardi bahwa Dafa akan datang ke SMA SATYA. Sebenarnya,walaupun Devan tidak bilang pun daddy Ardi sudah mengetahui hal itu dari anak buahnya, jangan lupakan bahwa daddy Ardi memiliki mata dan telinga yang banyak, Devan datang memang untuk menolong Tikha, dan membawa Dafa kembali pulang.


Namun siapa yang tahu setelah sampai di rumah, Devan malah terkena amukan dari Dafa sang kakak kembar hanya beda 5 menit saja.


Jika kalian menanyakan tentang orang tua Dafa dan Devan, mereka memang tidak tinggi di Indonesia, melainkan tinggal di Belanda. Si kembar DD itu hanya tinggal berdua dan beberapa pelayan serta si mbo yang sudah merawat mereka sejak kecil.


"Aduh si Aden Devan bisa mati kalau terus di pukulin sama Den Dafa, aku harus telpon Aden Ivan" kata mbo Minah.


Mbo Minah pun langsung ke kamarnya untuk mengambil ponsel yang di berikan oleh Ivan untuk menghubunginya jika terjadi sesuatu antara keduanya.


Kenapa tidak langsung menghubungi kedua orang tuanya? Ya karena kedua orang tua DD sangat sibuk dan tidak dapat di ganggu dalam keadaan apapun, maka dari itu mbo Minah lebih memilih menghubungi Ivan sang kakak sulung yang sangat di takuti oleh kedua adik kembarnya itu.


"Apa jangan-jangan elo yang bilang ke tuan Ardi kalau gua bakal datang ke SMA SATYA? Iya?"


"Jawab gua Devan!" teriak Dafa dan diangguki oleh Devan.


Bugh...


Bugh...


Bugh...


Uhuk... Uhuk... Uhuk... Darah segar keluar dari mulut Devan.


"Dafa!" teriak seseorang dari balik pintu masuk.

__ADS_1


Dafa tersentak kaget ketika mendengar suara yang sangat familiar di telinganya itu.


Dafa melihat ke arah pintu dan terlihat lah sang kakak yang datang dengan menarik satu koper besar di tangannya.


"Kak Ivan" panggilnya.


Ivan yang melihat Devan tergeletak pun langsung berlari dan meninggalkan kopernya.


"Van, Van" panggilnya dengan menepuk nepuk pipi sang adik.


Devan tersenyum melihat kehadiran sang kakak, "akhirnya lo datang juga kak" ucapnya terbata-bata dan tak lama Devan pun memejamkan matanya.


"Devan" teriak Ivan ketika melihat Devan yang menutup matanya.


"Van bangun Van, jangan tutup mata lo"


"Devan" teriaknya lagi namun tak ada pergerakan dari Devan.


"Mbo" panggil Ivan.


"Mbo Minah" panggilnya lagi.


"Iya den"


"Iy... Iya Den" jawab Mbo Minah dan berlari untuk memanggil supir.


Bugh... Satu tinjuan lolos di perut Dafa tanpa ada perlawanan.


"Kalau sampai terjadi sesuatu sama Devan, lo yang tanggung akibatnya, Fa" tegas Ivan kepada Dafa dan kemudian berlari untuk ikut ke rumah sakit mengantar Devan.


"Aaah" teriak Dafa ketika Ivan sudah keluar dari rumahnya.


Ivan memang sudah terbang ke Indonesia sejak kemarin sore, Ivandra Narendra. Sahabat dekat Erlangga yang koma bersama dengan Erlangga pada waktu itu.


Di rumah utama Narendra memang di. pasang CCTV tanpa sepengetahuan seluruh isi rumah, karena memang Ivan thu bahwa si kembar DD tidak pernah akur sedikitpun, maka dari itu Ivan memasang CCTV tanpa sepengetahuan mereka berdua.


Ivan memang jarang pulang ke Indonesia, karena memang malas untuk pulang, pada saat-saat genting seperti inilah Ivan baru mau pulang ke Indonesia.


...****************...


Dug.. Bunyi pintu mobil yang ditutup dengan sangat keras.

__ADS_1


"Aah... " teriak Kalan untuk melepaskan rasa kecewa dan kesal terhadap dirinya sendiri tidak bisa mengontrol emosinya.


Sejak tadi dia membentak Tisha di mobil, tak ada yang mau bersuara sama sekali, baik Tisha maupun Kalan.


Kini keduanya sudah berada di pantai, pantai Anyer yang tidak jauh dari rumah neneknya yang berada di Banten.


Terdengar suara ombak yang mampu membuat hati Kalan sedikit nyaman dan tenang.


Tisha pun ikut turun ketika dirinya sudah siap untuk bertatap muka dengan sang kakak.


"Kak" panggilnya dan berlari ke arah sang kakak.


Kalan yang merasa di panggil pun bangkit dari duduknya dan berbalik badan menghadap ke sang adik.


"Maafin Tisha kak" ucap Tisha ketika sudah berada di dekapan sang kakak, sambil terisak.


Kalan mengusap lembut punggung sang adik, "seharusnya kakak yang minta maaf sama kamu, maaf udah bentak kamu tadi" ucapmua dengan lembut.


Tisha menggelengkan kepalanya dalam pelukan Kalan, "Tisha yang salah kak, maaf. Maafin Tisha kak, maaf udah bikin kakak terluka dan kecewa"


"Kamu engga salah de, kakak yang emang engga bisa jaga kamu"


"Engga kak, kakak jangan ngomong gitu, Tisha yang salah bukan kakak"


"Maafin Tisha kak, Tisha minta maaf sama kakak" lanjutnya lagi.


Kalan mengangguk "kakak udah maafin kamu, Sha. Kakak juga minta maaf ya udah keterlaluan sama kamu"


"Iya kak engga apa-apa, Tisha tau kakak kecewa sama Tisha. Tisha juga ngerti"


Kalan melepaskan pelukannya secara perlahan dan menatap sang adik dengan sangat dalam, menghapus jejak air mata yang berada di pipinya, "kakak minta maaf ya sayang, jangan kamu ulangi lagi hal seperti ini" ucapmua dengan lembut.


Tisha mengangguk dan tersenyum sambil menatap dalam mata sang kakak, "iya, Tisha janji engga akan ulangi kesalahan ini lagi. Sekali lagi Tisha minta maaf sama kakak"


Kalan mengangguk dan kembali menarik sang adik ke dalam pelukannya. Tikha memang keras kepala, tapi lebih keras kepala Tisha, namun mereka berdua memiliki hati yang sangat lembut dan sensitif bahkan keduanya pun memiliki jiwa ke ibuan, sama seperti sang mommy Adin yang sangat lembut kepada anak-anaknya.


"Kini disini dulu sebentar untung nenangin hati dan pikiran kita, abis itu kita ke rumah nenek untuk istirahat dan berganti baju" ucap. Kalan dan mengajak sang adik untuk melihat ombak pantai yang sangat indah ini walaupun siang hari.


"Iya kak" jawab Tisha patuh.


"*Beruntungnya aku punya kakak kaya kak Kalan, yang benar-benar jaga aku, dan bertanggung jawab sama adik-adik nya. Beruntung banget yang nanti bakal dapetin hati ka Kalan, yang sangat penyayang ini" gumam Tisha dalam hati sambil melihat Kalan dari samping yang sedang tersenyum itu.

__ADS_1


"Bener apa yang di bilang, Tikha. Kalau cari suami itu kaya ka Kalan sama daddy yang bener-bener tanggung jawab dan penyayang. Semoga suami ku nanti, sama seperti kak Kalan dan juga daddy" lanjutnya lagi sambil tersenyum*.


__ADS_2