
Jam istirahat sudah berbunyi sejak lima menit yang lalu, tetapi tidak mampu untuk menggerakan tubuh Tisha yang sangat nyaman dengan duduk sambil memejamkan matanya.
Tikha dan teman-temannya sedang ke kantin untuk membeli makanan karena lapar, tak lupa mereka pun akan membeli makanan untuk Tisha walaupun Tisha tidak meminta apapun kepada mereka.
"Mau beli makanan apa?" tanya Elvana.
"Yang gampang aja, lagian juga kasian Tisha sendirian di kelas" jawab Reysha.
"Iya juga" jawab Elvana, Reysha dan Tikha menganggukkan kepalanya.
Sedangkan Sailendra? Seperti biasa Sailendra akan pergi ke rooftop untuk sekedar mendengarkan musik. Memang menurut Sailendra hanya musik dan game sajalah yang mampu membuat dirinya tenang dalam ke rumitan yang di terimanya saat di kantor.
Dret.. Dret.. Dret.. Satu notifikasi muncul dari layar ponselnya.
Amy Intan
Sayang, nanti kamu pulang ke rumah utama aja ya, soalnya tadi mommy bilang kalau mommy dan daddy tidak ada di rumah, mereka sedang berada di London. Nanti Amy, apy, mami dan papi akan menyusul kesana.
^^^Sailendra Wijaya^^^
^^^Oke amy^^^
Amy Intan
Jagain twince ya nak
^^^Sailendra Wijaya^^^
^^^Siap amy^^^
Sailendra kembali membaca pesan yang di kirimkan oleh sang amy tercintanya "daddy dan mommy ke London, ka Kia juga izin, bang Kalan, bang Miko sama bang Ardan ke Paris, apa ini ada hubungannya?" tanya Sailendra dalam hati.
"Apa yang sebenarnya terjadi disana?" tanya Sailendra lagi pada diri sendiri.
"Coba gue chat bang Ardan deh" monolognya lagi dan mengetikkan pesan untuk Ardan.
^^^Sailendra Wijaya^^^
^^^Bang, gimana kabar lo? Bae bang? Lama amat lo di Paris, kaga inget kita-kita apa disini?^^^
Setelah mengirimkan pesan kepada Ardan, Sailendra kembali menyimpan ponselnya di atas meja dan kembali menatap ke depan sembari mendengarkan musik kesukaannya.
***
"Hay Sha" sapa Gema.
"Hem" jawab Tisha yang sangat malas untuk bertemu dengan Gema, entah kenapa perasaannya hari ini sangatlah tidak enak.
"Lo kenapa Sha? Sakit?" tanya Gema lagi kepada Tisha yang masih nyaman dengan kepala yang bertumpu dengan kedua tangannya.
"Engga" jawabnya.
"Nih gue bawain makanan sama minuman buat elo" kata Gema sambil menyimpan makanan dan minuman di atas meja Tisha.
Tisha mengangkat kepalanya "thanks, tapi lo engga usah repot-repot, bentar lagi juga sepupu gue pada dateng buat bawain makanan gue" ketusnya.
Gema tersenyum "engga masalah, ini spesial dari gue buat elo"
__ADS_1
"Oh" jawabnya singkat.
"Di makan ya" perintahnya.
"Ya" jawab Tisha, Gema yang melihat itu tersenyum dan mengacak-ngacak rambut Tisha.
Dan
Bugh... Satu pukulan lolos di pipi Gema.
"Jangan lo berani sentuh gue" tegas Tisha.
Gema tersenyum mendapati itu, walaupun sangat sakit tapi Gema menerima itu memang salah dirinya yang sudah seenak jidat mengacak-ngacak rambut si tomboy "sorry" ucap Gema sambil tersenyum.
"Yaudah gue balik ke kelas ya jangan lupa di makan" kata Gema lagi dan meninggalkan Tisha sendiri di kelas.
"Sha, Tisha" teriak Reysha.
"Iya Ey, kenapa?" tanya balik Tisha dengan wajah yang lesu.
"Lo kenapa? Lo di apain sama ka Gema, Sha?" cerocos Reysha.
Tisha mengerutkan keningnya "gue? Engga di apa-apain" jawab Tisha jujur.
"Terus kenapa muka ka Gema ungu begitu sudut bibirnya?" tanya Tikha dengan menatap tajam Tisha.
"Gue tonjok" jawabnya simple.
"Hah?" Reysha, Tikha dan Elvana menganga di buatnya.
Sailendra tergelonjak kaget ketika mendengar bahwa Gema menghampiri Tisha di dalam kelas dan keluar dengan sudut bibir Gema yang sudah berwarna ungu. Tisha tidak akan melakukan hal apapun jika tidak ada yang mendahului atau mengganggunya, maka dari itu Sailendra sempat berlari meninggalkan Agas yang baru saja meminum es nya hanya untuk segera bertemu dengan Twince di kelasnya, baru saja Sailendra membalas pesan amy nya untuk menjaga Twince tapi kini dirinya mendengar kabar Twince seperti itu, jadilah semakin di buat ketar-ketir olehnya. 'Queen' adalah panggilan para sepupu kepada Twince jika memang dalam mode serius atau dalam hal peperangan, walaupun bukan peperangan seperti mafia-mafia pada umumnya, tapi tetap saja Twince adalah berlian yang harus mereka jaga mati-matian, tidak hanya Twince para sepupu wanita yang lain pun sama seperti Twince di jaga sangat ketat.
"Mode singa marah keluar nih kayanya" ucap Reysha pelan ketika mendengar panggilan Sailendra kepada Tisha.
Elvana yang mendengarnya pun bertanya "maksudnya gimana?" tanyanya dengan suara pelan juga.
Reysha menggelengkan kepalanya "engga apa-apa El"
"Oh" jawab Elvana sambil menganggukkan kepalanya.
Sailendra kembali bersuara sambil berjalan mendekat ke arah Tisha "lo belum jawab pertanyaan gue, queen" kata Sailendra lagi dengan wajah yang amat sangat serius.
"Gue engga di apa-apain ko, Len" jawab Tisha dengan memanggil dengan sebutan 'Ilen'
"Gue butuh jawaban yang pasti dan jujur queen. Gue sangat amat tidak becus menjaga kalian jika kalian ada luka walaupun hanya sedikit"
"Tapi gue emang beneran ko, Len" jawab Tisha dengan sangat yakin.
"Terus kenapa Gema bisa sampe ungu gitu hem?" tanya Sailendra lagi.
Belum sempat Tisha menjawab sudah ada suara nyaring dari arah luar "mana Tisha hah?" teriak Marsha dari luar.
"Heh lo Tisha" tunjuk Marsha ketika sudah bertemu dengan Tisha di dalam kelasnya.
"Apa lo?" tanya Tisha.
"Berani-beraninya ya lo tonjok Gema, mau jadi jagoan lo?" bentak Marsha.
__ADS_1
"Gue engga bakal ngawalin ya kalau dia engga berbuat seenaknya sama gue"
"Halah gue juga tau kalau elo duluan kan yang ngegoda Gema!" tuduh Marsha.
"Heh jaga mulut lo ya" kini Tikha yang menimpali.
"Dasar ******" teriak Marsha.
Dan
Plak.. Satu tamparan yang sangat keras lolos di pipi mulus Marsha.
Para siswa dan siswi yang sedang melihatnya menganga di buatnya.
"Ilen!" teriak Reysha, Tikha dan juga Tisha yang melihat Sailendra menampar pipi Marsha dengan keras.
"Marsha" teriak teman-teman Marsha.
Lihatlah sudut bibir Marsha mengeluarkan darah segar walaupjn hanya sedikit "ash" ringis Marsha.
"Jangan lo sekali-kali bilang kalau dia adalah ****** dan juga jangan sekali-kali lo angkat telunjuk lo buat keluarga Wijaya" telak Sailendra dengan rahang yang mengeras dan sorot mata yang tajam.
Sailendra memang terlahir sebagai pria yang sangat di jaga dan di takuti di keluarga Wijaya, karena Sailendra tidak akan melihat siapapun musuhnya, jika memang sudah tidak suka yasudah Sailendra akan berbuat apapun agar musuhnya diam sama seperti Miko. Berbeda halnya dengan Kalan dan para sepupunya yang lain masih melihat musuhnya, jika itu seorang wanita mereka masih bisa memaklumi tetapi tidak memafkan.
Agas yang mendengar penjelasan dari mulut Sailendra pun tercengang, apa katanya keluarga Wijaya, jadi selama ini dirinya berteman dengan keluarga Wijaya? Bulu kuduk Agas meremang di buatnya, Agas memang bukan anak orang kaya, maka dari itu ketika mendengar Sailendra adalah bagian dari Wijaya dirinya menjadi takut dan juga minder.
Sailendra mendekat ke arah Marsha dan mencengkram erat dagu runcing milik Marsha, terdengar teriakan dari para sepupunya untuk menghentikan semuanya "Ilen udah, stop Len"
"Diam queen!" ucap Sailendra lagi, lihatlah kini suara Sailendra berubah tidak seperti biasanya dan lihatlah perubahan yang terjadi pada bola matanya, kini berubah menjadi warna abu-abu yang dimana kini tubuh Sailendra sedang dikuasai oleh altar egonya 'Lendra'.
"Sha, di.. Dia Lendra, Sha" ucap Reysha dengan terbata-bata.
"Gawat" ucap Tikha.
"Ash.. Sakit... " ringis Marsha lagi.
"Lendra cukup" ucap Tikha.
"Wanita ini harus di beri pelajaran, queen"
"Hari ini lo dan semua yang ada disini tau siapa gue, gue camkan sama lo wanita murahan! Jangan lagi lo sentuh queen gue atau lo berhubungan dengan gue, Lendra!" ucapnya dengan tegas.
"Enough Lendra, remember this is in a school environment, this is not your territory, return Sailendra" ucap Tisha dengan lembut.
"Ada apa ini?" tanya salah satu seorang guru yang baru saja masuk ke dalam kelas Twince.
Guru itu semakin di buat ternganga ketika melihat Sailendra yang mencengkram keras dagu Marsha "lepaskan dia Sailendra!" tegas guru tersebut.
Sailendra melihat ke arah Tisha, Tikha dan Reysha, mereka bertiga menganggukkan kepalanya tanda mengiyakan perkataan guru tersebut "lo ada di pantauan gue" ucapnya lagi dengan nada suara yang sudah berubah menjadi Ilen dan melepaskan cengkaraman tersebut.
Reysha, Tisha dan Tikha yang melihat itu membuang nafasnya lega, begitu juga dengan Marsha yang kembali bernafas dengan normal dan tak lama Marsha pun pingsan.
"Marsha" panggil Niko yang baru saja datang bersama dengan Gema dan juga Reno.
Niko segera mengangkat tubuh Marsha dan membawanya ke ruang UKS.
"Sailendra, Tisha, Tikha ikut saya ke ruang BK!" ucap guru tersebut.
__ADS_1