Twince LA

Twince LA
Marsha Buat Ulah Lagi


__ADS_3

"Kita ngapain di rooftop?" tanya Agas kepada Sailendra ketika sudah sampai di rooftop.


Sailendra mengambil gitar dan mulai memetiknya, "gue lagi mumet, Gas" jawabnya jujur.


"Kenapa?"


"Masalah cewe?" tebak Agas dan diangguki oleh Sailendra.


"Susah banget cewe yang mau gue dapetin, gilak sih"


"Ya sebelumnya dia udah pernah jatuh cinta belum?"


Sailendra menaik turunkan bahunya tanda tidak mengetahui, "gue engga terlalu banyak tau tentang dia, tapi setau gue dia belum pernah punya hubungan sebelumnya"


"Kalau gitu, berarti dia masih ragu kali sama lo, Sai. Secara yang gue denger dari lo, kalau dia itu anak bungsu dan punya banyak orang yang jagain, apalagi kakaknya, mungkin dia pengen banget punya pacar sama cowk yang kaya kakaknya" jelas Agas.


"Bisa jadi sih apa yang lo omongin itu, Gas"


"Selagi lo udah dapet restu dari abangnya itu sih aman menurut gue"


Sailendra kembali mengangguk, "iya gue tau, tapi susahnya minta di guna-guna" celetuk Sailendra.


"Heh orang kaya kek lo tau sama yang namanya guna-guna?"


"Cuma pernah denger seliweran aja sih, soalnya keluarga besar gue engga pernah percaya sama yang namanya guna-guna"


Agas mengangguk, "baguslah, ngapain juga percaya sama yang kaya gitu, Sai" katanya dan Sailendra pun meganggukkan kepalanya.


Sailendra kembali memetikan senar gitarnya, dan mulai menyanyikan satu buah lagu yang mewakili isi hatinya.


"Jangan pergi dari cintaku, biar saja tetap denganku, biar semua tau adanya dirimu"


"Jangan kau beri harapan padaku, seperti ingin tapi tak ingin, yang aku minta tulus hati mu, bukan pura-pura"


Agas menggelengkan kepalanya ketika mendengarkan lagu yang di nyanyikan oleh Sailendra, "altar ego kok lemah" celetuk Agas namun tak di hiraukan oleh Sailendra.


"Ponsel lo tuh geter" kata Agas kepada Sailendra ketika merasakan getaran dari ponsel milik Sailendra berkali-kali.


Sailendra berdecak, "ck siapa sih, ganggu aja" gerutunya dan Sailendra pun mengambil ponselnya untuk melihat nama yang ada di layar ponselnya.


๐Ÿ“ž Ezra is calling


Sailendra mengerutkan keningnya, "tumben" celetuknya.


Sailendra memang merasa tumben dan aneh kepada Ezra, Ezra adalah salah satu anak buahnya yang tidak pernah menghubungi dirinya jika bukan karena hal yang sangat mendesak, apalagi tadi mereka berempat sudah sempat bertemu, dan Sailendra juga sudah memberitahukan bahwa dirinya akan ke markas nanti. Tapi ini, Ezra malah menghubunginya.


Sailendra pun menggeaer icon hijau untuk mengangkat panggilan telpon dari Ezra.

__ADS_1


๐Ÿ“ž Ezra Emyr Zeus


"Ganggu gue aja lo nyet" ketus Sailendra.


"Wih santai dong pak bos" ucap Ezra sambil terkekeh.


Aneh bukan? Ezra termasuk kedalam golongan yang sangat sulit untuk tertawa, jangankan tertawa untuk sekedar tersenyum pun sulit sama seperti Uxio, tapi ini? Sailendra mendengar kekehan dari seorang Ezra?


Bukankah hal ini harus di abadikan? Kapan lagi bisa mendengar seorang Ezra terkekeh.


"Lo lagi sakit, Zra?"


"Si bos, gue baik-baik aja"


"Terus kenapa lo bisa ketawa?"


"Hah?"


Ezra ngebug


"Hah heh hoh" kata Sailendra.


"Ada apaan lo telpon gue?" lanjut Sailendra yang tak mendapatkan jawaban apapun dari seorang Ezra.


"Oh ini bos, gue udah nemuin data yang lo perintahin ke gue"


"Ya lo ke markas aja bos, gue engga bisa jelasin di ponsel, yang ada nanti pulsa gue abis lagi"


"Miskin banget sih lo, nanti gue gantiin"


"Gini aja deh bos, kalau lo mau tau sama datanya secara rinci dan jelas ya lo ke markas aja sekarang, kalau engga mau yaudah gue mau balik lagi aja ke sekolah"


"Anying anak buah gue banyak maunya banget! Semena-mena banget lo jadi anak buah!"


"Mohon maaf Pak bos, yang bos disini itu Zayn bukan anda".


" Tangan lo ilang satu abis ini ya Zra!" kata Sailendra dengan tegas.


"Uuuh serem" timpak Zayn yang mendengarnya.


"Kalian tunggu di markas gue ke sana sekarang!" ketus Sailendra.


"Siap pak bos"


Tut.. tut.. tut...


Sambungan telpon di putus oleh Sailendra.

__ADS_1


Sailendra beranjak dari duduk bersandar ternyamannya.


"Mau kemana lo?" tanya Agas yang melihat Sailendra sudah berdiri. Padahal Sailendra sendiri yang mengajaknya untuk ke rooftop, tapi malah Sailendra sendiri yang akan pergi.


"Bolos"


"Anjir, bisa-bisanya lo mau bolos, Sai"


"Bisa lah, kenapa engga bisa?"


"Gue tinggal, gue ada banyak urusan"


"Oke hati-hati"


"Lo mau disini aja?" tanya Sailendra kepada Agas.


Agas menganggukkan kepalanya, "belum istirahat gue turun"


Sailendra mengangguk, "gue titip sepupu gue" katanya.


Agas mengangguk, "sip" jawabnya sambil mengangkat jempolnya.


Setelah melihat itu Sailendra langsung berlari untuk turun ke lantai bawah, sebelumnya akan menyempatkan diri terlebih dahulu untuk ke kelasnta mengambil kunci motornya.


...****************...


"Aaa" teriak Marsha ketika rambut panjangnya di tarik oleh Tisha.


"Ada masalah hidup apa lo sebenarnya sama gue?" tanya Tisha kepada Marsha.


"Engga ada kapoknya juga ya lo berurusan sama gue" lanjutnya.


"Gue engga akan pernah kapok untuk berurusan sama lo, wanita ******"


Tisha semakin menarik rambut Marsha dengan sangat kuat, "sekali lagi lo bilang gue wanita ******, gue sumpel mulut lo pake sepatu lo sendiri"


"Lo emang ******, lo yang udah rayu Gema buat suka sama lo, sekarang lo malah bikin Gema masuk rumah sakit dan membuat dia menjadi koma sampai sekarang!" pekik Marsha dengan masih memegang tangan Tisha yang menjambak rambutnya.


Tisha semakin merah padam dibuatnya, "jaga mulut lo! Asal lo tau bukan gue penyebab Gema kecelakaan!"


"Paham lo!"


"Woy nenek lampir!" teriak Sailendra ketika baru saja masuk ke kelasnya sudah melihat pandangan yang tak enak untuk di lihat.


"Turunin tangan suci lo dari rambut setan yang penuh noda itu, Latisha!" tegas Sailendra sambil memberikan aura dingin dan berjalan ke arah Tisha.


"Mampus, si Lendra keluar lagi" celetuk Reysha ketika melihat aura yang berbeda dari Sailendra.

__ADS_1


__ADS_2