Twince LA

Twince LA
Perasaan Niko


__ADS_3

"Aaaaa... Kenapa sih selalu Tisha Tisha yang ada di pikiran kamu, Gema" teriak Marsha.


Setelah sampai di rumah, Marsha langsung masuk ke dalam kamarnya untuk mengurung diri, ia sangat benci dengan situasi saat ini.


"Gue benci elo Tisha gue benci" teriak Marsha lagi dengan mata yang sudah berapi-api.


"Gue engga peduli dengan ancaman dari Gema, kalau gue engga bisa dapetin Gema. Lo juga engga akan bisa dapetin Gema, Tisha!" ucapnya lagi. Seakan cinta yang dimiliki oleh Marsha kepada Gema sangat besar dapat membutakan dan menulikan semuanya, Tisha yang sudah berulang kali berkata bahwa dirinya tidak menyukai Gema sedikit pun itu seperti angin kencang yang lewat, tidak dapat di dengar dan dilihat oleh Marsha.


"Sha buka dulu pintunya!" teriak Niko dari balik pintu kamar Marsha. Niko ikut turun dari mobil ketika melihat Marsha yang langsung turun dengan wajah yang menahan tangisnya, melihat itu Niko ikut mengejar Marsha karena dirinya merasa sangat kasihan kepada Marsha. Bukan hanya sekedar kasihan, Niko memang sudah menyimpan perasaan kepada Marsha sejak dulu, sejak mereka duduk di bangku 1 SMA, Niko yang memang tidak berani mengungkapkannya pun hanya bisa memendam perasaan itu selama ini. Niko semakin memendam perasaan itu saat tahu bahwa Marsha sangat menyukai Gema, sahabatnya. Maka dari itu Niko berusaha untuk membuang perasaan itu jauh-jauh.


Tapi melihat ini hati Niko mencelos melihat wanita yang sangat di sayanginya terluka dengan pria yang sangat di cintainya "Sha buka dulu pintunya, ini gue Niko"


"Gue butuh sendiri, Nik. Plis jangan ganggu gue"


"Kalau lo engga buka, ini pintu bakal gue dobrak!" teriak Niko lagi dari balik pintu.


Tak lama terdengar suara kunci yang di putar.


Ceklek..


"Ada apa lagi sih, Nik?" tanya Marsha dengan suara serak dan wajah memerah.


"Gue cuma mau pastiin kalau lo itu baik-baik aja, Sha" ucapnya dengan memeluk tubuh Marsha.


Marsha kembali terisak dengan memukul punggung Niko "gue engga baik-baik aja Niko. Lo tau gue sayang banget sama Gema, gue sayang banget!" ucapnya dengan lirih.


"Gue tau, Sha. Gue tau lo itu sayang banget sama Gema, tapi lo juga harus liat kalau Gema engga sayang sama lo, Sha. Belajar buat buka hati untuk cowo lain mulai sekarang"


Marsha menggeleng "engga Nik, gue engga mau. Gue engga mau yang lain gue cuma maunya Gema"


Jleb... Betapa perihnya hati Niko yang mendengar itu, Niko memejamkan matanya untuk menekankan hatinya bahwa ia harus kuat dengan apa yang sudah terjadi "ada gue yang sayang banget sama elo, Sha" gumam Niko dalam hati.


"Gue tau lo emang sayang banget sama Gema. Tapi lo liat sendiri tadi, Gema aja udah engga mau liat dan kenal sama lo lagi, Sha" ucapnya dengan berusaha menetralkan perasaannya yang kini sudah campur aduk.


"Gue yakin Nik, suatu saat nanti gue bisa bareng-bareng sama Gema, gue yakin itu"


"Iya lo harus berusaha lebih keras lagi, tapi stop lo berurusan sama Tisha, karena itu akan semakin membuat lo jauh sama Gema"


"Gue engga yakin kalau soal itu, Nik"


"Kenapa? Ini bukan salah Tisha sepenuhnya"

__ADS_1


"Kenapa lo jadi belain dia?"


"Bukannya gue belain tapi emang Tisha engga salah disini, Sha"


"Meningan lo pulang aja Nik, lagian gue juga baik-baik aja ko" titah Marsha dengan melepaskan pelukan Niko.


"Sha"


"Udah meningan lo balik, gue baik-baik aja!"


"Yaudah gue balik, sorry Sha"


"Hem.. " jawab Marsha dengan menutup pintu kamarnya dan Niko kembali ke markasnya.


***


"Gue cowo, yakali engga gue anterin dia. Mana nih cewe inceran gue" gumam Erlan dalam hati ketika mengejar Tisha.


"Lagian bukannya gue harus selesaiin ini semua?" gumam Erlan lagi.


Ya memang tadi Erlan sempat membaca pesan yang dikirimkan oleh sang asistennya Angga.


Angga Putra


Oya bos, lo diajak ketemu tuh sama calon mertua besok di Nad's resto jam makan siang.


"Apa yang dimaksud sama si Angga itu ayahnya si Tisha?" gumamnya lagi.


"Ck kayanya bakal berabe nih urusannya"


"Tapi engga apa-apa, demi dia apa sih yang engga gue lakuin" gumamnya lagi.


"Lah, om mau kemana?" tanya Tisha ketika melihat Erlan mengikutinya dari belakang.


"Sini gue yang bawa, lo naik ke belakang"


"Ck, om bisa engga kalau gue aja yang bawa. Lo bawa motornya lambat banget, gue udah di tungguin nih"


"Semakin lo banyak bicara semakin lama kita sampai di rumah" tegas Erlan.


"Ck" gerutu Tisha pada Erlan dan kembali membuka helmnya untuk di berikan kepada Erlan.

__ADS_1


Tisha naik motor seperti semula, dimana dirinya yang duduk di belakang dan Erlan yang membawa motornya "haduh nih cowo kenapa malah ikut sih? Bisa gawat kalau beneran dia yang anterin gue sampe ke rumah. Eh tapi bukannya gue yang mau anterin dia ya? Iya juga, mungkin ini jalan mau ke rumahnya" gimam Tisha dalam hati.


***


"Gila kita bakal kena baku hantam engga nih sama si Tisha, ka?" tanya Sailendra ketika sudah sampai di gerbang rumah utama keluarga Wijaya.


Ya memang kini rumah utama keluarga Wijaya adalah rumah milik Ardi Wijaya, karena kedua orang tua Ardi dan Friska sudah menetap di LA, begitupun dengan kedua orang tua Adin yang menetap di salah satu kabupaten di Banten.


"Engga dong, tenang aja kita 'kan punya daddy" jawab Tria dengan bangganya.


"Iya juga, yaudah yok kita masuk" ajak Sailendra.


"Widih udah pada kumpul aja nih" ucap Sailendra ketika sudah melihat sebagian para anggota sudah berkumpul di ruang keluarga.


"Ardan kemana mami?" tanya Tria ketika tidak lihat Ardan di sekitarnya.


"Oh itu dia lagi jemput Kia katanya" jawab mami Fris.


"Oh" jawab Tria dengan menganggukkan kepalanya.


***


"Kita mau kemana, Dan?" tanya Kia yang kini sudah berada di mobil bersama dengan sang kekasih.


"Ke rumahnya Tisha"


"Loh emangnya ada acara apa?"


"Tisha kepergok jalan sama cowo, sayang"


Kia yang mendengarnya membulatkan matanya "kamu serius?"


Ardan mengangguk "ka Tria kirim foto Tisha sama cowo"


Kia menggelengkan kepalanya "ko aku engga percaya ya, Dan"


"Aku juga sama ko engga percaya, tapi bukti udah ada, Ki. Jadi kita liat nanti di rumah aja ya"


Kia mengangguk "Iya"


"Siapa cowo itu? Apa Kaka udah engga ada harapan lagi untuk bersama wanita masa kecilnya?"

__ADS_1


"Kamu kenapa, Ki?" tanya Ardan ketika melihat Kia melamun.


"Engga apa-apa sayang" jawabnya sambil tersenyum.


__ADS_2