
Bukan tanpa alasan Kalan bangun telat, karena sejak semalam Kalan tidak bisa tidur karena merindu. Merindu akan hadirnya sang sahabat sekaligus sang pemilik hati dirinya selama ini. Viona Alexander, wanita yang mampu memporak-porandakan hati seorang anak sulung dari keluarga Wijaya, pembawaan yang periang dan selalu tersenyum selalu menggetarkan hati Kalan. Seakan mengerti, saat Kalan memejamkan matanya Viona datang ke dalam mimpi Kalan yang dimana dirinya tengah tersenyum dan berkata "hay El, aku tau kamu rindu aku, jadi besok jangan lupa datang ya, aku tunggu kamu"
Kalan tersentak kaget, dirinya langsung bangun dari tidurnya "Vi, terimakasih sudah datang ke dalam mimpiku" monolog Kalan.
***
Awan hitam menyelimuti pagi ini, hari ini adalah hari dimana tepat tiga tahun atas meninggalnya Viona Alexander, wanita yang banyak menyimpan kebahagiaan bagi seorang Kalan Elvano Wijaya.
Setelah sarapan bersama tadi, Kalan menyempatkan pergi ke pemakaman milik sang wanita pemilik hatinya selama ini, tertulis nama Viona Alexander Binti Gionino Alexander pada batu nisan yang masih terawat dengan baik.
Kini di hadapan Kalan sudah ada taburan bunga yang sepertinya baru saja ditaburi dan terdapat rangkaian bunga yang besar di dekat batu nisan milik wanitanya yang diyakini bahwa itu adalah pemberian dari kedua orang tua Viona.
Kalan meletakan rangkain bunga yang sudah ia bawa untuk Viona dan mengusap batu nisan yang bertuliskan nama wanita yang masih bertahta dalam hatinya "Vi, terimakasih sudah mau datang ke mimpiku semalam, itu sangat membayar rasa rinduku padamu" lirihnya.
"Vi, udah tiga tahun kita engga sama-sama, tapi kenapa rasa kehilangan itu masih amat terasa di hatiku. Aku masih belum bisa begitu aja ngelepasin kamu, Viona. Kenapa kamu harus secepat ini ninggalin aku" Kalan mulai terisak dengan ucapannya teringat akan bayangan dirinya ketika saat masih bersama dengan Viona.
"El, aku ngantuk"
"El, ayo nonton"
"Elvano"
Elvano adalah nama panggilan Vio kepada Kalan. Kata Vio biar beda aja dari yang lain, maka dari itu dirinya memanggil Kalan dengan sebutan Elvano.
Kalan tersentak ketika ada tangan di atas bahu lnya, buru-buru Kalan menghapus air mata dan kembali memakai kacamata hitamnya.
Kalan menoleh dan melihat wanita itu dengan tatapan yang tajam. Seakan mengerti akan tatapan yang diberikan oleh Kalan, wanita itu langsung meminta maaf "maaf" katanya dengan langsung menarik tangan dari bahu Kalan.
Kalan tak menggubris ucapan wanita itu, Kalan kembali melihat ke arah nisan Viona "Vi, aku pamit pulang dulu ya, sering-seringlah datang ke mimpiku" pamit Kalan dan bergegas berdiri dan meninggalkan wanita itu yang termenung ketika melihat sikap Kalan yang begitu dingin.
Wanita itu mendekat ke arah batu nisan Viona "hay Vi, apa kabar, kamu?"
__ADS_1
"Itu sahabat dekat kamu 'kan?"
"Kata kamu, dia itu baik, lembut tapi ko pas aku liat dia dingin banget kaya es batu" ucapnya sambil terkekeh.
"Eh ko aku malah curhat" ucapnya lagi.
"Iya Vi, ini aku bawain bunga kesukaan kamu. Bahagia selalu dan tunggu aku di sana ya, Vi" ucapnya lagi dan wanita itu terus berbicara sendiri seakan di hadapannya kini ada Viona.
***
Kalan mengerutkan keningnya ketika melihat pria yang ia kenal sedang berjalan masuk ke arah pemakaman. Kalan memasukan tangannya ke saku celana miliknya "Mau ngapain coba dia kesini?" gumam Kalan.
Kalan tetap berjalan menuju parkiran untuk segera pulang menyiapkan keperluan acara Ardan dan juga Kia "mau apa lo kesini, Gem?" tanya Kalan kepada Gema yang kini sedang bersisihan tapi tidak saling pandang.
"Yang pasti gue mau ziarah, Lan. Bukan mau main bola"
Kalan tersenyum sinis "lo engga di butuhin sama Vio, Gem. Lo engga usah repot-repot buat kesini jenguk Viona"
Lihatlah kedua pria tampan kini sedang saling mengepalkan tangannya dengan meredam emosinya kuat-kuat "gue sahabat baiknya, dan lo pembunuhnya" telak Kalan.
Gema kembali tersenyum kecil "gue bukan pembunuh"
"Engga ada pencuri yang mau mengaku, Gem. Kalau ada pencuri yang ngaku, penjara pasti penuh" telak Kalan dan pergi meninggalkan Gema yang semakin merah padam dengan ucapan Kalan.
***
"Itu siapa?" tanya Gema dalam hati ketika melihat wanita yang sedang menaburi bunga di atas makan Viona.
Gema semakin mendekat ke arah pemakan Viona "permisi" ucap Gema.
Wanita itu menoleh "eh iya, maaf siapa ya mas?" tanya wanita itu.
__ADS_1
"Oh maaf mba, perkenalkan nama saya Gema. Saya temannya Viona" jawabnya dengan senyum manisnya.
"Saya Fedrika, mas. Salam kenal" jawab Fedrika teman Viona. Fedrika Feronika sahabat dekat Viona Alexander sejak kecil.
Gema menganggukan kepalanya dan mendekat ke arah nisan Viona "Vio, ini aku Gema" katanya dengan menarik nafas panjang dan membuangnya. Seakan mengerti dengan Gema yang butuh privasi, Fedrika pun izin pamit terlebih dahulu kepada Gema.
"Mas maaf, saya pulang terlebih dahulu" pamit Fedrika.
"Iya mba"
"Permisi" gema menganggukkan kepalanya tanda mengiyakan.
"Vio, kenapa kamu harus seperti ini?" tanya Gema ketika Fedrika sudah meninggalkan tempat tersebut.
"Kenapa kamu harus melakukan ini semua, Vio?"
"Seharusnya kamu engga ngelakuin ini semua. Aku tersiksa selama ini Viona"
"Tiga tahun bukan waktu yang sebentar untuk menerima kenyataan ini semua, tanpa kamu, tanpa kehadiran kamu yang selalu periang"
Air mata Gema mengalir tanpa di pinta "Vio, kamu tau, Kalan masih marah sama aku, Kalan masih bilang kalau penyebab kematian kamu itu aku"
"Aku engga tau harus gimana lagi jelasin ke Kalan, kalau kamu itu seperti ini bukan karena aku"
"Kamu tau kan, kalau aku itu sayang sama kamu melebihi apapun, Vi" luruh sudah air mata Gema tanpa bisa di tahan, dua pria sudah pada hari ini menangis di pusaran Makam milik Viona Alexander wanita periang yang sangat cantik dan berhati lembut itu.
Viona, Kalan dan Gema dulu mereka adalah sahabat dekat, ketiganya di pertemukan di Sekolah Menengah Pertama, entah apa yang membuat mereka semakin dekat tapi yang pasti karena selalu ada wanita periang Viona yang membuat mereka selalu bersama. Dan satu tragedi yang mengharuskan nyawa Viona menghilang untuk selama-lamanya.
Gema semakin mengeratkan pegangannya pada batu nisan milik Gema, karena merasa tersiksa dengan keadaan yang sekarang dimana dirinya harus jauh dari sahabat dekatnya, Kalan.
Sama halnya seperti Kalan, semalam Viona pun mendatangi alam bawah sadar Gema, dengan datang ke mimpi Gema mengatakan bahwa Viona menunggu dirinya. Maka dari itu Gema datang ke makam Viona hari ini, sebenarnya baik Kalan dan juga Gema mereka akan datang sebulan sekali atau sebulan dua kali untuk menjenguk Viona sahabatnya itu.
__ADS_1
"Aku sayang kamu, Vio. Tunggu aku di sana ya, sering-seringlah datang kebdalam mimpi ku. Aku menunggumu"