
"Baik kalau begitu saya permisi, senang bertemu dengan mu" ucap Devan ketika sudah selesai berbicara dengan Tikha.
"Ya senang bertemu dengan mu juga" jawab Tikha.
"Jangan lupa untuk menghubungiku jika terjadi sesuatu"
"Baik"
...****************...
"Lah, pada kemana ko sepi banget?" tanya Sailendra yang baru saja keluar dari kamarnya.
Tisha dan Nathan menaik turunkan bahunya tanpa membuka suaranya karena mereka berdua masih serius bermain PS.
Sailendra melihat ke sekelilingnya, kini sudah pukul 10 pagi tapi rumah masih terlihat sepi, Sailendra ikut menaik turunkan bahunya dan berjalan ke arah meja makan untuk sarapan.
Setelah selesai dengan sarapannya Sailendra kembali mendekat ke arah Nathan dan juga Tisha.
"Tikha kemana?" tanya Sailendra karena sejak tadi tidak melihat Tikha ada diantara mereka.
"Ketemu sama temennya, Ilen" jawab Tisha.
"Siapa?" tanyanya sambil mengerutkan keningnya.
"Mana ku tau, temen Tikha kan banyak"
"Ck, kenapa engga bangunin aku?" tanya Sailendra.
"Dih emang kenapa sih? Bebasin aja kali Len"
"Ck"
"Udah ah cape aku mau mandi dulu" kata Tisha yang melepaskan stik PSnya.
"Huh kakak kalau kalah aja gitu"
"Dih siapa yang kalah? Orang aku mau mandi"
"Tumben mandi, biasanya kalau libur engga mandi, emang kamu mau kemana?" timpal Sailendra.
"Suka suka aku dong mau kemana aja boleh" katanya lagi dan Tisha meninggalkan Sailendra dan juga Nathan.
"Selamat pagi" teriak Zahra dari atas tangga yang baru saja terbangun dari tidurnya karena semalaman penuh Zahra stalker para cogan yang ia kenal dari sang kakak sepupu.
Sailendra dan Nathan melihat ke arah atas tangga yang dimana kini Zahra sudah berdiri dengan masih memakai baju tidur minions dan rambut yang terlihat acak-acakan.
Nathan dan Sailendra tertawa terbahak-bahak melihat penampilan Zahra sekarang, tak lama mereka berdua saling pandang dan langsung menyambar ponselnya untuk membuat status di akun sosial medianya untuk menbalaskan dendam kepada Zahra karena Zahra selalu menjahili mereka.
Zahra tetap turun tanpa sadar bahwa kini sedang di rekam oleh kedua sepupunya.
"Aku bisa membuatmu jatuh cinta kepada..." nyanyinya terpotong karena melihat Sailendra dan Nathan memegang ponselnya dengan kamera yang menghadap ke arahnya.
"Ah ****!! Jangan di rekam" teriak Zahra dan kembali berlari ke arah kamar untuk mandi.
Melihat itu membuat Sailendra dan Nathan kembali tertawa terbahak-bahak.
"Waktunya upload" ucap Nathan dengan girangnya.
"Rasakan kamu Zahra" timpal Sailendra.
Dret.. Dret.. Dret.. Sailendra mengerutkan keningnya ketika sang kakak sepupu menghubunginya.
📞 Bang Kalan Wijaya
__ADS_1
"Hal... "
"Cepat terbang ke London bawa twince dan Nathan, aku sudah memberitahukan mami dan papi, mereka sedang berada di jalan ke Bandara. kalian segeralah menyusul ke Bandara!"
"Iy... Iya bang"
Tuuut....
"Ah ****"
"Nathan cepat mandi dan bersiap kita akan berangkat ke London sekarang juga!" titah Sailendra dengan tegas.
"Hah?"
"Cepat!"
"Iy.. Iya bang" jawab Nathan dan Nathan pun bergegas pergi ke kamarnya untuk bersiap.
Sailendra berlari menuju kamar Zahra terlebih dahulu, karena letaknya kamar Zahra sangat dekat dengan tangga.
"Zahra" panggilnya dari balik pintu.
"Ya kak?"
"Cepat bersiap aku tunggu di bawah kita akan ke London sekarang juga"
"Ada apa?"
"Penjelasannya nanti di pesawat, sekarang cepat bersiap!"
"Oke" jawab Zahra. Setelah mengatakan itu Sailendra beralih ke pintu kamar twince yang terletak di ujung lorong.
"Tisha" panggilnya.
"Ya, buka aja pintunya engga aku kunci" teriaknya dari dalam.
"Tisha, kenapa?" tanya Sailendra panik karena kini Tisha sedang mengambil pecahan kaca yang terjatuh di lantai.
"Gue engga apa-apa, Len"
"Ini kenapa bisa jatuh?" tanyanya menunjuk ke arah bingkai foto dua anak kecil yang sedang merangkul satu sama lain.
"Engga tau Len, perasaan gue jadi engga enak gini ya"
"Lo engga apa-apa 'kan? Lo engga sakit 'kan?"
Tisha menggelengkan kepalanya "gue engga apa-apa tapi perasaan gue engga enak gini. Apalagi bingkai foto ini jatuh engga tau karena apa dan liat gelang ini juga putus" jelasnya.
Terlihat jelas ada raut khawatir pada dirinya "eh iya ada apa Len lo ke kamar gue?" tanyanya.
"Lo harus cepat bersiap kita akan segera terbang ke London, mami, papi dan yang lain sudah di jalan menuju Bandara"
Deg.. Hati Tisha seakan berhenti entah karena apa.
"A... Ada apa Len? Apa yang terjadi? Apakah ada sesuatu yang terjadi? Apakah mommy dan daddy sakit atau kenapa Len?" cerocos Tisha.
Sailendra menggeleng "gue juga engga tau apa yang terjadi di sana Sha, tapi tadi bang Kalan telepon gue katanya kita harus segera ke London"
"Baiklah aku akan segera bersiap, tolong hubungi Tikha"
"Oke"
"Gue tinggal, lo hati-hati" katanya dan diangguki oleh Tisha.
__ADS_1
Sailendra pun meninggalkan kamar Tisha dan menghubungi Tikha saudari kembar Tisha.
"Apa yang terjadi? Kenapa perasaan aku jadi engga karuan begini" keluh Tisha ketika Sailendra sudah keluar dari kamarnya.
...****************...
London
"Nah apa kakak seorang mafia?"
"Bukan nona, tadi kan nona sendiri yang bilang kalau tuan muda itu baik dan lemah lembut bagaimana mungkin menjadi seorang mafia yang kejam?"
"Iya juga, terus ini?"
"Itu hanya pengawal biasa nona, itu pun anak buah kami"
"Tapi bisa bela diri?" tanya Erasma dan diangguki oleh Angga.
"Ah baiklah, aku percaya"
"Eh iya, ka Angga"
"Iya nona muda?"
"Kenapa kakak bisa kecelakaan? Bukannya kakak adalah pria yang sangat teliti dan sangat waspada?" tanya Erasma mampu membuat Angga tidak bisa menjawabnya.
"Ga, Angga!" teriak Ivan dari luar dengan panik.
"Kenapa?" jawab Angga.
"Erlan Ga, Erlan"
Mendengar itu Erasma dan Angga berubah menjadi panik "kenapa sama kakak?" cerocos Erasma.
"Erlan semakin kritis, kita harus segera ke sana, aku sudah menghubungi om dan tante dan mereka dalam perjalanan menuju ke sini"
"Kakak" lirih Erasma.
"Nona"
Erasma menggelengkan kepalanya kuat-kuat "kakak" teriaknya lagi dan berlari ke ruangan Erlan.
"Kakak jangan tinggalin aku" liriknya sambil berlari menuju ruangan sang kakak.
"Nona!" teriak Angga.
"Apa yang terjadi sebenarnya Ivan!?" tanya Angga dengan tegas.
"Ada penghianat diantara kita!" tegas Ivan dengan menatap Angga dengan tajam.
"Siapa?"
"Rasya sedang mengurus semuanya" tegasnya.
"Jangan sampai lolos!"
"Aku pastikan penghianat itu tidak akan pernah lolos!" ucapnya lagi.
...****************...
"Kakak!" lirih Erasma ketika sudah berada di ruangan sang kakak terlihat jelas kini sudah ada dokter pribadi milik sang kakak yang sedang menangani Erlan dengan baik.
"Kakak jangan tinggalin Kia"
__ADS_1
"Kia engga sanggup buat kehilangan kakak" ucapnya dengan isak tangis yang semakin menyayat hati.
"Nona muda, mari keluar dulu, biar dokter yang menangani tuan muda" bujuk Angga ketika melihat Erasma yang berada di hadapan Erlan.