Twince LA

Twince LA
Axel Candrio


__ADS_3

"Kita doakan yang terbaik buat kakak kamu, sayang" ucap Ardan dan diangguki oleh Kia.


"Kondisi kakak makin memburuk, Dan. Aku engga mau kehilangan dia, kita udah lama engga bareng-bareng, tapi di saat kita mau bareng-bareng lagi malah kaya gini" jelasnya.


Ardan yang mendengarnya pun ikut merasakan sakit, dirinya membayangkan jika ia berada di posisi sang kekasihnya saat ini. Sunggu tidak sanggup untuk membayangkannya.


"Kamu tau 'kan, kalau kak Erlan adalah pria kuat?" tanya Ardan dan diangguki oleh Kia.


"Aku yakin kakak kamu pasti akan membuka matanya, kamu juga harus yakin kaya aku, kalau bukan kita yang meyakinkan diri sendiri mau siapa lagi, sayang? Ingat kak Erlan pasti akan sedih jika melihat kamu menangis seperti ini"


"Kamu tau sayang, arti air mata bagi kami para pria?" tanya Ardan dan Kia menggelengkan kepalanya.


"Bagi kami, jika seorang wanita yang kami sayangi meneteskan air matanya karena kelakuan kami yang membuat mereka kecewa, itu sangatlah menyakitkanmenyakitkan bagi kami para pria, karena apa? Karena kami sudah gagal untuk membuat mereka selalu tersenyum bahagia saat bersama kami"


Ardan membuang nafasnya "jadi, aku yakin kak Erlan juga pasti akan merasakan kecewa terhadap dirinya sendiri kalau tau kamu sedih kaya gini. Sama kaya aku, aku juga kecewa sama diriku sendiri engga bisa bikin kamu tersenyum di saat kamu sedih seperti ini, sayang" lanjutnya dengan lembut.


Mendengar penuturan dari sang kekasih, perlahan isak tangis Kia mulai tidak terdengar. Kia memang tipikal wanita yang sangat mudah untuk di ajak berkomunikasi dan bertukar pikiran seperti saat ini, Ardan tak perlu berlama-lama untuk menjelaskan, Kia sudah mengerti dengan sendirinya. Memang wanita idaman para pria.


"Maaf sayang" udapnya.


Ardan tersenyum "kamu engga salah, tapi emang aku yang engga bisa buat kamu tersenyum"


"Aku yang salah, maafin aku"


"Engga apa-apa, aku tau kamu pasti lagi sedih banget karena masalah ini. Tapi udah cukup, sekarang waktunya untuk kamu kuat sayang, ayo kita beri semangat kepada kak Erlan agar mau membuka matanya. Tisha juga lagi di perjalanan menuju kemari"


"Tisha kesini?"


"Iya, sama keluarga yang lain juga"


"Semoga dengan hadirnya Tisha, kak Erlan mau membuka matanya"


"Amiin sayang"


Ketika Ardan yang sedang berusaha untuk membuat Kia tidak menangis, berbeda halnya dengan Kalan dan juga Miko yang langsung bertemu dengan sang daddy, setelah bersalaman dengan sang mommy.


"Bagaimana kondisi Erlan, dad?" tanya Kalan.


"Semakin memburuk, nak" jawabnya.


"Jika dalam satu minggu Erlan tetap tidak membuka matanya, terpaksa dokter akan melepaskan semua alat yang ada di tubuhnya" lanjutnya lagi.


Kalan dan Miko sama-sama terkejut dengan penjelasan yang di dapat dari sang daddy. Bagaimana mungkin Erlan bisa sampai seperti ini, "abang yakin, Erlan pasti akan membuka matanya dad"

__ADS_1


"Daddy pun berharap sama seperti kamu, bang. Bagaimana adik-adik kamu?"


"Twince dan keluarga yang lainnya sedang dalam perjalanan menuju ke sini, dad"


Daddy Ardi menganggukkan kepalanya "kamu jemputlah mereka jika mereka sudah sampai di Bandara"


"Baik dad" jawabnya.


...****************...


"Van, Ivan" panggil Angga.


Kini Angga sedang berada di markas milik mereka untuk menyusul Ivan. Ivan benar-benar sedang emosi saat ini, dirinya sangat tidak terima dengan penjelasan yang di berikan oleh Dokter.


"Kenapa?" tanya Ivan dengan wajah yang sangat dingin.


"Lo mau nyerang mereka?"


Ivan menganggukkan kepalanya dengan yakin "gue engga bisa terima kalau harus kehilangan Erlan. Dia sahabat sekaligus keluarga yang gue punya saat ini di London, Ga!" jelasnya dengan mata yang memerah karena mengingat kebaikan yang di dapat dari Erlan.


"Apa harus sekarang? Apa itu engga akan memperkeruh suasana?"


"Gue engga peduli, Ga! yang terpenting saat ini itu, bagaimana caranya supaya Cheryl juga bisa merasakan yang namanya kehilangan!"


"Van, tenangin diri lo dulu. Rasya juga masih berusaha untuk menangkap penghianat itu, jangan gegabah. Lo harus inget kalau sekarang kita itu lagi berurusan sama mafia terkenal kejam di London!"


"Bos!" panggil anak buah Ivan dan juga Angga.


Ivan dan Angga menoleh "ya" jawab Angga.


"Rasya sudah mendapatkan penghianat itu bos, sekarang dia sudah berada di ruang bawah tanah bersama dengan Rasya" jelasnya.


"Kita ke sana sekarang!" jawab Ivan dengan wajah yang penuh amarah.


Bugh...


Satu pukulan lolos di perut si penghianat itu dengan mengeluarkan darah segar. Kalian you know lah siapa yang memberikan pukulan itu, yaa betul, itu adalah pukulan dari Ivan yang sudah tidak bisa lagi untuk menahan amarahnya.


"Van udah Van dia bisa mati!" teriak Rasya dengan mencoba untuk menjauhkan Ivan dari si penghianat itu.


"Lepasin gue!"


"Siapa yang nyuruh elo!?" tanyanya dengan berusaha untuk melepaskan diri dari pegangan Rasya dan juga Angga.

__ADS_1


"Siapa yang nyuruh lo anjing!!" teriak Ivan lagi karena tidak ada jawaban dari si penghianat itu sejak tadi.


Bugh.. Satu pukulan kembali lolos dari anak buah Ivan dan juga Angga.


"Kalau lo tetep engga mau jawab, gue abisin lo sekarang juga!" teriak Ivan lagi.


Angga melepaskan pegangannya dari Ivan dan maju untuk mendekat ke arah penghianat itu.


Angga memegang dagu si penghianat dan menekannya kuat-kuat.


Dan


Dor...


Satu peluru menancap di paha milik si penghianat itu.


"Ah.. " rintih si penghianat itu.


"Lepasin gue!" teriak Ivan dan akhirnya terlepaslah pegangan Rasya.


Angga memberikan kode kepada Ivan untuk tidak mendekat ke arahnya, Ivan yang mengerti pun berhenti di tempat. Angga memang terkenal lebih kejam di banding, Ivan dan juga Rasya. Angga akan terlihat lebih menyeramkan jika sudah sangat marah.


Angga menginjak paha si penghianat itu dengan sangat keras, sehingga si penghianat itu pun merintih kesakitan "siapa yang udah nyuruh elo bajingan?"


Si penghianat itu tetap tidak mau menjawabnya, Angga semakin menginjak dengan kuat paha si penghianat itu, dan sampai akhirnya mereka mendengar satu nama dari si penghianat tersebut "Axel Candrio" jawabnya.


Bugh.. Satu bogeman mentah lolos dari tangan Angga.


Bugh.. Satu bogeman mentah kembali lolos dari tangan Ivan.


Dan...


Bugh..


Bugh..


Bugh... tiga bogeman lolos dari Rasya yang sudah sangat marah, bukankah itu yang dinamakan dengan five kill? Bukan double kill lagi melainkan five kill.


"Kurung dia, dan siksa dia! Kita tidak bisa memaafkan seorang penghianat! Sekali penghianat tetap penghianat!" tegas Angga.


"Simpan 3 orang untuk berjaga si penghianat ini di sini dan untuk sisanya ikut gue, kita akan membalaskan dendam kepada Axel!" timpal Ivan.


"Karena ini akan bertarung dengan mafia terkejam, untuk yang tidak mau ikut, tidak apa-apa kalian tetap di sini!" ucap Angga.

__ADS_1


"Siap tidak! Apapun akan kami ikuti perintah para bos kami, walaupun nyawa taruhannya!" ucap salah satu anak buah mereka.


Angga, Ivan dan Rasya menganggukkan kepalanya, "ayo kita berangkat!" kata Rasya.


__ADS_2