Twince LA

Twince LA
Dan Tisha Ada Disini


__ADS_3

"Kalau benci sama gue tuh bilang, Gem. Bukan kaya gini" kata Tisha lagi dengan berusaha menguatkan dirinya.


...****************...


"Siapa yang sakit, Lan? Ini masih jam sekolah loh, kenapa lo nyuruh gue kesini?" cerocos Erlan dengan raut wajah yang penuh dengan kekhawatiran.


"Tisha ada disini" jawab Kalan belum sepenuhnya.


Erlan membukatkan matanya, "di ruang apa? Kenapa bisa? Tisha sakit apa, Lan?" cerocos Erlan lagi.


Kalan memijat pelipisnya pelan, "ternyata lo aslinya begini ya, Lan. Dikira gue lo cowk cuek ternyata lo sama aja kaya cewe ya" jelas Kalan.


Erlan terdiam, "engga usah banyak basa basi deh, Lan. Meningan kita langsung samperin si Tisha deh, ko lo tenang-tenang aja sih ade lo lagi ada di dalem"


"Ya gue belum selesai ngomong Erlangga" kata Kalan dan diangguki oleh Erlangga.


"Gema yang ada disini" jawab Kalan.


"Dan Tisha ada di sini" lanjutnya.


Dan


Deg...


Perih


Pedih


Sakit


Itu yang dirasakan oleh Erlangga saat ini. Namun Erlangga masih berusaha untuk berfikir positif dengan apa yang ia dengar barusan.


"Yaudah ayo kita jenguk Gema" ajak Erlangga.


Kalan mengernyitkan dahinya, "lo engga cemburu?"


"Lo engga marah?" tanya Kalan.


Erlangga tersenyum walaupun Kalan tau bahwa Erlangga menutupi rasa kecewanya terhadap sang adik "gue engga ada alasan untuk marah sama Tisha, Lan. Gema pasti sedang sakit parah maka dari itu kenapa Tisha ada di sini saat ini. Gue juga tau dan sadar bahwa hati Tisha memang sudah terbagi antara gue dan juga Gema" jelas Erlangga dengan berfikir dewasa.


Kalan tersenyum mendengarnya, "engga sia-sia Gue dan keluarga nerima lo jadi menantu" celetuk Kalan dengan menepuk pela pundak Erlangga.


"Lo emang laki-laki yang bertanggung jawab dan selalu berfikir dewasa sebelum bertindak. Pantas saja perusahaan lo maju dengan pesat di bawah naungan elo" lanjutnya.


"Santai. Lo juga udah jadi abang sekaligus pewaris generasi pertama Wijaya yang hebat" jawab Erlangga.


"Yaudah ayo kita masuk" ajak Kalan dan keduanya pun berjalan memasuki SATYA MEDICA.


Lihatlah banyak yang terpana dengan ketampanan dan wibawa yang mereka berdua miliki. Terdengar bisik-bisik dari pengunjung, dokter dan perawat di Satya MEDICA yang menganggumi ketampanan yang Kalan dan juga Erlangga miliki.


Kalan berjalan ke arah ruang ICU, karena Kalan memang sudah tau dimana keberadaan Gema yang dulu menjadi sahabatnya itu.

__ADS_1


Sedang asik berjalan sambil membahas tentang pekerjaan sedikit, Erlangga berhenti tak jauh dari ruangan yang kini sedang ada satu orang yang menunggu, seseorang yang sepertinya Erlangga sangat mengenalinya.


"Ivan" panggilnya, dan orang itu pun menoleh ke arah Erlangga.


Ya. Orang itu adalah Ivan, Ivan sahabat dekatnya di London.


"Erlan" panggil Ivan juga dan berdiri untuk menghampiri Erlan.


"Lo duluan aja nanti gue nyusul. Soalnya gue ketemu temen gue dulu di sana" kata Erlan kepada Kalan.


Kalan mengangguk, "Oke, ruangan Gema engga jauh dari sini, lo tinggal lurus dan belok kanan, disitu nanti ada gue" jelas Kalan dan diangguki oleh Erlan.


"Oke" jawab Erlangga dan Kalan pun meninggalkan Erlan.


Setelah kepergian Kalan, Erlangga pun mendekat ke arah Ivan, begitupun dengan Ivan yang mendekat ke arah Erlan, "siapa yang sakit, Van?" tanya Erlan to the point.


"Devan" jawabnya.


"Loh kenapa sama adik lo?"


"Biasa berantem lagi sama si Dafa"


"Oh" jawabnya sambil menganggukkan kepalanya.


"Sekarang gimana keadaannya?" tanya Erlan.


"Mendingan, besok juga udah boleh pulang"


"Syukur lah kalau gitu" jawab Erlan dan diangguki oleh Ivan.


"Lo kesini ngapain? Siapa yang sakit?" tanya Ivan.


"Gema, gue kesini mau jenguk Gema"


"Gema Dermawan maksud lo?" tanya Ivan dengan wajah yang penuh keterkejutan.


Erlan mengangguk, "iya Gema Dermawan"


"Ko bisa?"


"Namanya juga takdir Van, siapa aja pasti akan mendapatkan musibah bukan?"


"Yaiya sih, eh tumben lo sendiri, si Angga kemana?"


"Angga di kantor, tadi gue keluar sebentar eh gue di hubungi sama Kalan suruh kesini jadinya ya gue sendiri"


"Kantor sibuk banget ya? Sorry gue belum sempet bantuin lo di kantor"


"Santai aja, lagian belum terlalu sibuk kok, gue lagi nugasin Angga buat cari dalang dari kejadian kemarin yang bikin kembaran Tisha jatuh sakit sampai trauma nya kembali datang" jelas Erlangga.


Dan

__ADS_1


Deg.. Jantung Ivan seakan berhenti berdetak mendengar apa yang di katakan oleh Erlan.


"Emang kembaran Tisha kenapa?" tanya Ivan pura-pura tidak tahu.


"Ada yang neror katanya sih, tapi jelasnya nanti kalau Angga udah dapet semua buktinya baru gue bisa jawab" jelas Erlan.


Ivan mengangguk, "gue yakin Angga pasti bakal nemuin pelakunya"


Erlangga pun ikut menganggukkan kepalanya, "gue juga yakin itu" jawabnya dan diangguki oleh Ivan.


"Yaudah Van kalau gitu gue ke Kalan dulu ya"


"Oke Lan"


"Salam buat ade lo"


"Sip" jawabnya dan Erlangga pun meninggalkan Ivan sendiri yang masih termenung dengan nasib sang adik.


"Gimana kalau Erlan tau si Dafa yang lakuin itu?" monolognya.


Ivan menggaruk kepalanya yang tidak gatal, "jadi pening begini dah pala gua" katanya.


Dret... Dret... Dret... ponsel Ivan bergetar, Ivan pun mengambil pknselnya dan melihat siapa yang menghubungi nya. Terlihat jelas nama Angga lah yang ada di layar ponselnya.


"Gue yakin Angga udah tau siapa dalang dari semua ini" kata Ivan sebelum menggeaer icon hijau di layar ponselnya.


📞 Angga is calling


"Ada apa?" tanya Ivan dengan berusaha setenang mungkin.


"Gue tau lo sebenarnya udah tau maksud gue telpon lo, Van" tebak Angga.


Ivan pun menarik dan membuang nafasnya dalam-dalam, "ya gue udah tau, Ga. Kenapa?"


"Apa yang mau lo lakuin Van? Erlan pasti marah besar karena hal ini"


"Gue juga bingung, Ga. Barusan gue abis ketemu sama Erlan di rumah sakit, lo pasti tau sendiri kalau Erlan engga akan pernah kasih maaf untuk mereka yang udah nyakitin keluarganya"


"Iya kita berdua emang udah paham banget sifat Erlan itu kaya gimana, ya terus lo mau gimana sekarang, Van?"


"Gue pusing Ga"


Terdengar hembusan nafas yang sama gusarnya seperti Ivan, "yaudah lo tenangin dulu pikiran lo, nanti lo pikiran pelan-pelan dan keputusan lo nantinya harus udah mateng, Van. Karena lo bakal berhadapan sama Erlan, sahabat lo sendiri" jelas Angga.


"Iya Ga gue tau itu, thanks"


"Oke"


"Yaudah kalau gitu gue tutup telponnya, gue masih banyak kerjaan" lanjut Angga.


"Oke" jawab Ivan.

__ADS_1


Tut.. Tut.. Tut.. sambunga pun terputus.


"Dafa Dafa, gara-gara lo gue harus jadi pusing begini" gerutu Ivan ketika sambungan telponnya dengan Angga sudah terputus.


__ADS_2